Siswi MAN 2 Tasikmalaya Raih Perunggu Kompetisi Internasional

518
Kompetisi Internasional

Tiga siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mereka mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional yang diikuti oleh 175 peserta dari 15 negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Brazil, Meksiko, Turki, Afrika Selatan, Zimbabwe, Tunisia, Chili, dan Malawi.

Prestasi Trio Siswi MAN 2 Kabupaten Tasikmalaya

Shinda Salsabila Khalifatunnisa, Shinta Hikmawati, dan Wulan Aulia yang tergabung dalam Tim Wushin berhasil mendapatkan medali perunggu dalam ajang Africa Science Buskers Festival 2020.

“Kami sangat bersyukur dan sangat senang dapat berprestasi di kancah Internasional, terlebih dengan perolehan bronze medal di event Africa Science Buskers Festival 2020 menjadi suatu nikmat yang luar biasa.

Semua ini tidak terlepas dari dukungan keluarga, guru guru, teman, dan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Shinda mewakili Tim Wushin kepada Mading.id pada Sabtu (12/9).

Mereka mengaku selalu bersyukur dengan apapun hasil yang didapatkan saat kompetisi. Sebab, mereka telah melakukan dan memberikan yang terbaik dari apa yang bisa dilakukannya.

Artikel terkait Pelajar, lihat Langkah MAN 2 Kota Malang Menuju Juara Olimpiade.

Mereka berharap dapat kembali berkompetisi di ajang internasional lagi dengan membawa nama Indonesia.

“Semoga kami dapat kembali berkompetisi dan berprestasi di kancah Internasional supaya dapat memberikan medali emas untuk Indonesia,” harapnya.

Secara pribadi, mereka menilai faktor-faktor yang menyebabkan prestasi tersebut bisa didapat adalah video presentasi projek yang dibuat sangat rapi dan mencakup semua isi atau hal penting, khususnya data-data yang akura dalam penelitian tersebut.

Hal itu juga tak lepas dari dukungan semua pihak baik keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Selain usaha maksimal yang dilakukan, tentunya terdapat karunia dan pemberian dari Allah swt.

Mencipta Pembersih Tangan

Pada kompetisi tersebut, Tim Wushin membuat projek berjudul “Phyto-Chemicals Analysis from Betel Leaf as Bioseptic-Spray to Inhibit Staphylococcus aureus”.

Shinda menjelaskan, projek tersebut merupakan penelitian terhadap kandungan senyawa fitokimia dalam tanaman Sasaladahan atau sejenis sirih-sirihan.

Hal itu, katanya, bisa digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang banyak terdapat pada tangan dan diinovasikan menjadi Bioseptic-Spray.

Projek yang telah digarap sejak November 2019 lalu itu dilatarbelakangi fakta banyak santri yang abai terhadap kebersihan tangan dari kuman dan bakteri di tengah aktivitasnya yang cukup padat.

Ketidaksadaran itu, katanya, muncul karena keterbatasan mencuci tangan setiap saat.

“Untuk itu kami mencoba mencari solusi dengan membuat cairan pembersih tangan yang efektif dan efisien menggunakan tanaman yang banyak terdapat di lingkungan sekitar, yaitu tanaman Sasaladahan atau sirihan,” kata dara asal Ciamis, Jawa Barat itu.

Persiapan lomba nasional dilakukan selama dua minggu, mulai dari diskusi kelompok, pembuatan deskripsi projek, revisi dengan pembimbing, dan pembuatan konsep juga pengambilan video presentasi karya.

Teknis Perlombaan Africa Science Buskers Festival 2020 

Untuk lomba internasional, proses dilakukan selama sebulan, mulai dari bimbingan dengan pihak Coinetwork dan Rumah KIR, revisi video presentasi, pertemuan daring, pembuatan video delegasi, proses vote video, dan bimbingan untuk lomba internasional.

Shinda menjelaskan, persiapan terkendala proses diskusi dengan kelompok yang harus dilakukan secara daring selama seminggu.

Selanjutnya, keterbatasan penelitian di masa pandemi yang menyebabkan mereka tidak bisa melakukan penelitian ulang dan harus menggunakan data sebelumnya.

Lalu, video yang maksimal berdurasi dua menit juga membuat mereka harus benar-benar matang dalam menyusun konsep.

Hal itu dilakukan supaya semua yang penting dapat tersampaikan dengan baik. “Proses menghafal dan menyempurnaan aksen Inggris juga sempat menjadi kendala, tapi kami sebisa mungkin berlatih dengan maksimal, supaya dapat memberikan yang terbaik,” jelasnya.

Selepas berproses pada kompetisi tersebut, para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat itu mengaku mendapatkan berbagai pelajaran penting, seperti kepercayaan diri yang meningkat.

“Kami dapat lebih percaya pada kemampuan diri, sebelumnya kami benar benar ragu apakah bisa mengikuti event sebesar ini. Namun, setelah dijalani ternyata kemampuan diri kami lebih dari yang kami duga,” terang Shinda.

Pentingnya Kerjasama Tim

Lalu, mereka juga menyadari pentingnya kerjasama, sebelum, saat, atau sesudah kegiatan kompetisi tersebut.

Sebab, jika kerjasama antaranggota tim dijalin dengan baik, maka apapun ujian yang datang akan mudah untuk diselesaikan bersama.

Hal lain yang membekas di benak mereka adalah soal penghargaan terhadap waktu.

Pasalnya, saat menyusun deskripsi projek dan konsep video, mereka mengaku sangat kurang istirahat mengingat harus begadang selama tiga malam karena mendekat batas waktu akhir. “Dari sana, kami tahu bahwa perjuangan itu berat dan waktu sangatlah berharga,” pungkasnya.

Penulis: Syakir NF