Serigala Itu Bernama Tanggung Jawab

263
tanggung jawab
Photo by Austin Distel on Unsplash

Gue salut sama orang yang bisa kabur tanpa merasa berdosa dari yang namanya tanggung jawab. Bagaimana bisa dia terus berlari, singgah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan perasaan tenang, padahal tanggungan yang dia tinggalkan cepat atau lambat akan datang menghampiri dan meledak bagai bom waktu yang bisa merugikan dirinya sendiri, bahkan orang lain.

Cerita Masa-masa Kuliah

Semua dari kita pasti pernah mengalami saat-saat tugas kelompok di sekolah atau di kampus dapat teman kelompok yang sangat kampret yang maunya enak sendiri. Di saat satu kelompok pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan dan menyusun presentasi, dia dengan perasaan riang gembira malah pergi main PS dan tidak membantu sedikit pun. Giliran dimintai uang untuk print presentasi, dia justru berkilah nggak punya uang. Huft dasar aku.

Hampir nggak ada yang mau satu kelompok dengan gue selama tiga tahun kuliah. Setiap pembagian kelompok, kelompok yang gue masuki selalu menjerit histeris sambil meminta ampun kepada sang pencipta. Sebaliknya, kelompok yang terbebas dari gue melakukan selebrasi sujud syukur seraya memerdekakan hamba sahaya. Kehadiran gue memang memberikan mudhorot dan manfaat secara bersamaan.

Pikir gue saat itu selagi masih bisa dikerjakan dengan lebih baik oleh orang lain, kenapa nggak? Toh kalaupun gue membantu sepertinya malah membuat tugas makin berantakan. Gue pun lumayan sering disindir oleh teman kelompok gue dengan kalimat sindiran yang cukup pedas, sampai pada akhirnya gue  melunak dan beberapa kali menemani mereka ketika mengerjakan tugas. Tapi benar saja kehadiran gue sama sekali tidak membantu, yang bisa gue lakukan hanya menonton mereka, menggenggam handphone sambil membuat boomerang di instagram story, seolah pencitraan.

Berkumpulnya Empat Orang Paling Kacau

Gue sadar sikap gue ini memang sangat buruk. Siapa coba yang senang dengan orang seperti itu? Sampai pada akhirnya roda kehidupan berputar, gue mengalami nasib yang naas. Menjelang akhir perkuliahan, gue mendapatkan teman kelompok yang semuanya persis memiliki sifat serupa seperti gue. Empat orang laki-laki pemalas dari kelas gue disatukan untuk mempresentasikan materi terakhir untuk salah satu mata kuliah wajib jurusan. Kalau tidak salah mata kuliah Ilmu Nahwu 4. Entah siapa yang mengatur kelompok ini, yang jelas semua anggota kelas sujud syukur kecuali kami berempat.

Kami berempat saling tunjuk siapa yang pegang kendali.

“lu yang atur ya”
“dih apaan kagak, dia aja!”
“lah jangan gue, gue kagak bisa, udah lu aja”
“jangan gue, minggu depan nenek gue mau masuk ugd”

Begitu terus sampai pada akhirnya gue terpaksa mengatakan iya untuk menjadi koordinator kelompok. Gue pun mencoba untuk membagikan tugas walaupun dalam hati gue sudah pesimis duluan mereka akan mengerjakan.

Tiga hari berlalu tetapi teman kelompok gue masih terlihat nyantai, dalam hati gue mencoba berpikir positif mungkin sudah dikerjakan di rumah. Keesokkan harinya gue bertanya kepada salah satu teman gue, Acep. “Cep, gimana udah kelar?” sambil menghisap sebatang rokok dia menjawab “aman, santai” jawaban yang seharusnya bisa melegakan tetapi justru membuat gue semakin khawatir. Sorenya Idhar dan Alfay teman gue yang lain sudah menyetorkan tugasnya dan tinggal gue rekap dan menunggu bagian inti milik Acep.

Menjelang Tugas Presentasi

Sehari menjelang presentasi, Acep nggak masuk kuliah. Gue panik. Nggak ada informasi sedikit pun, gue sms gue whatsapp sampai gue telfon sama sekali nggak ada jawaban. Gue curiga dia sakit, sepulang sekolah akhirnya gue pergi ke kosannya. Tapi hasilnya nihil, kosannya terkunci rapat, hening sunyi. Tetangga kosannya nggak ada yang tahu Acep pergi kemana. Dasar kampret.

Karena putus asa mencari keberadaan Acep, gue pun bergegas ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas bagiannya agar besok tetap bisa presentasi. Dengan kekuatan super kilat akhirnya tugas selesai dalam kurun waktu dua jam saja.

Baca juga: Komoditas Kopi, Antara Ambisi dan Realitas.

Hari presentasi tiba, gue sudah di kampus sedari pagi dengan makalah berjilid biru putih di tangan. Satu persatu teman-teman kelas gue pun tiba, tapi tidak teman kelompok gue. Anjir, padahal presentasi dimulai 15 menit lagi. Gue mulai panik, gue telfon nggak ada yang angkat. Gue stress abis, persis ketika dosen keluar ruangan jurusan dan berjalan masuk kelas, Alfay menelfon gue dan mengatakan dia baru bangun tidur, dia lupa kalau hari ini ada presentasi. Bangcadh.

Setiap langkah dosen seakan bom waktu yang akan meledak di depan muka gue. Gue nggak bisa membayangkan kejadian apa yang lebih sial yang akan terjadi setelah ini. Dosen pun masuk dengan raut muka bingung, mungkin dia bertanya-tanya mengapa gue hanya sendiri. Ketika beliau duduk dan membuka kelas, ada adik kelas datang membawa secarik surat yang berisi bahwa Idhar izin keluar kota karena ada acara keluarga. Bisa dibayangkan apa cacian yang mungkin gue teriakkan tapi tertahan karena kehadiran dosen.

Akhirnya dosen pun mempersilakan gue untuk presentasi seorang diri, ya seorang diri. Sepuluh menit menjelang usai sesi tanya jawab, Alfay baru datang dan duduk seolah tidak punya dosa. Sedangkan Acep, entah kemana dan tidak muncul selama satu bulan perkuliahan. Konon dia direkrut menjadi volunteer di salah satu kegiatan seniornya di Suriah. Mungkin jadi anggota ISIS.

Belajar dari Pengalaman Berharga

Dari kejadian ini gue secara tidak langsung melatih gue menjadi orang yang  bertanggung jawab. Gue sebetulnya bisa saja kabur dan meninggalkan kelas lebih awal tetapi gue memilih untuk menyelesaikan hari yang berat itu walaupun rasa jengkel sepanjang presentasi terlihat jelas dari raut wajah gue.

Untuk orang yang terbiasa menyepelekan tanggung jawab, gue memang harus banyak latihan semacam ini. Bukan berarti dapet kelompok yang amsyong terus lho ya, tapi tekanan serupa yang membuat gue bisa melewati masalah dengan baik bukan lari dari masalah. Gue pun mencoba aktif di berbagai organisasi kampus yang gue rasa adalah sarana yang cukup tepat.

Benar saja, menjadi aktivis kampus membuat gue cukup terbiasa dikejar deadline. Apalagi ketika proker-proker masih banyak yang belum terlaksana. Menyusun kepanitiaan, merancang konsep acara, membuat proposal, mengirim undangan acara, harus dikerjakan sesuai dengan timeline yang tersedia. Belum lagi jika banyak kesalahan terjadi, siap-siap saja harus menerima dengan sabar omelan dari senior.

“Fidi, proposal udah sampe mana?”
“Iya bang, baru mau gue garap”
“Buset?! Baru digarap? Dari kemaren lu ngapain aja? Kan udah tau acara tinggal bulan depan!”
“Iya bang sorry, ini gue kerjain”
“Kagak usah, gak ada gunanya lu”
“yah bang yaudah iya sorry”
“Beneran kagak dikerjain?!”
“Kata lu, gausah?”
“KERJAIN SEKARANG!!!”

Senior kampus itu ibarat raja, harus dipatuhi sesulit apapun. Makanya harus banyak bersabar, untung aja senior gue di atas itu cowok, nggak kebayang kalo cewek, dan lagi pms, kayaknya sebelum proposal jadi muka gue udah ada di cover buku yasin.

Tapi nggak selamanya senior itu kejam, kadang lewat tangan mereka juga kita sering proyekan-proyekan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mulai dari proyekan bikin seminar, kaos kampanye, pensi, sampai jadi petugas quick count pemilu semuanya udah pernah gue cobain.  Ya hasilnya cukup lumayan buat ngajakin cewe orang jalan.

Godaan Mahasiswa Semester Akhir

Kerja-kerja proyek memang godaan berat buat gue selaku mahasiswa rantau. Siapa yang mau nolak dalam satu hari sampai satu minggu kerja, penghasilan bisa nambah sampai satu juta. Kenapa gue bilang godaan, tentu aja karena perkuliahan yang sering jadi korban. Logika sederhananya, daripada pilih duduk di kelas dengerin dosen ngoceh, mendingan nyari duit, bener nggak? Di saat itu lah idealisme gue sebagai mahasiswa terguncang.

Nggak sedikit lho mahasiswa yang memiliki godaan serupa, bahkan temen gue ada yang sampai meninggalkan kuliah dua semester dan memilih menjadi pemain proyek-proyek senior. Apa dia salah? Tentu nggak, selagi dia sering jajanin teman-temannya hahaha

Sedangkan gue memilih untuk melanjutkan perkuliahan gue secara normal dan menyudahi tawaran kerjaan dari senior. Karena itu gue bisa menyelesaikan semua mata kuliah tepat waktu hingga tujuh semester. Dan semester delapan adalah semester yang ditujukan untuk praktik mengajar (karena gue ambil jurusan keguruan) juga mengerjakan skripsi.

Empat bulan melelahkan gue jalani untuk praktik mengajar di salah satu sekolah yang cukup ternama. Setiap hari harus bangun pagi, mengajar hingga waktu ashar tiba. Boleh dibilang saat-saat praktik mengajar adalah ujian terbesar gue dalam menjalani status sebagai mahasiswa. Setiap hari juga harus menghadapi murid-murid yang luar biasa ngeselin. Pernah suatu ketika bel tanda pergantian jam berbunyi, gue sudah bersiap untuk masuk kelas. Ketika gue membuka pintu, tiba-tiba teriakan murid mulai bising di telinga “BARU JUGA BEL PAK!” “RAJIN AMAT SIH PAK” “BURU-BURU AMAT SIH PAK? KEJAR SETORAN YA KAYAK SUPIR ANGKOT AJA”. Dengan pernuh kesabaran gue hanya bisa tersenyum dongkol.

Singkat cerita praktik mengajar selesai, dan fokus gue hanya tinggal mengerjakan skripsi. Beberapa minggu setelahnya gue ditelfon senior sebut saja namanya Adi untuk datang ke salah satu mall di daerah Bintaro. Inti pertemuan itu adalah gue diminta untuk membantunya mengerjakan proyek salah satu kementerian sepanjang bulan Ramadhan. Pekerjaannya nggak menyita waktu, hanya berlangsung satu bulan, dan bayarannya lumayan oke, tanpa pikir panjang gue pun mengiyakan tawaran tersebut. Acara berhasil diselenggarakan di beberapa titik, bang Adi pun terlihat cukup puas dengan kinerja gue selama acara.

Seperti kebanyakan acara penutupan pada biasanya, pasti ada semacam selebrasi atau tasyakuran, karena waktu itu bertepatan di bulan Ramadhan, otomatis tasyakurannya berupa acara bukber di salah satu restoran mewah. Waktu masih menandakan pukul setengah enam sore saat itu, 20 menit lagi menjelang waktu berbuka, bang Adi memanggil gue untuk jalan-jalan sebentar mengobrol sambil menunggu adzan magrib.

“Fid, lu beres kuliah kapan”
“ Iya bang gue baru kelar Praktik ngajar”
“Lu mau jadi guru ntar kelar kuliah?”
“Nggak mau sih bang hehe”
“Emang cita-cita lu apa?”
“Gue pengen jadi penulis bang”
“Emang lu suka nulis?”
“Suka bikin blog sih bang”
“Oh kayak Raditya Dika, ya?”
“Iya bang”

Tawaran Menarik Menjelang Lulus Kuliah

Tepat seminggu sebelum lebaran, akhirnya gue pun direkrut sebagai penulis di agency tempat bang Adi bekerja. Tanpa bawa surat lamaran kerja, tanpa seleksi, murni karena kepercayaan dan kekeluargaan. Begitu gue resmi menjadi seorang pekerja kantoran, gue pun menyadari bahwa skripsi akan gue nomor duakan.

Sebetulnya bang Adi sempat membuat perjanjian, walaupun gue bekerja skripsi harus tetap dikerjakan. Gue saat itu mengiyakan dengan tatapan meyakinkan walaupun gue belum tahu gimana caranya, karena gue tahu skripsi gue amat sangat susah. Mungkin yang terlewat yang belum gue ceritakan adalah, skripsi gue menggunakan bahasa Arab.

Karena gue kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Arab, mengerjakan skripsi pun harus full berbahasa Arab tanpa huruf latin sedikit pun. Bisa dibayangkan bagaimana tanggungan gue yang begitu memusingkan. Tanpa disambi dengan bekerja pun skripsi gue mungkin tersendat-sendat, apalagi harus disambi dengan pekerjaan pastilah akan terbengkalai.

Seminggu pertama bekerja gue gunakan sebagai adaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Semuanya terlihat asyik-asyik pada mulanya termasuk sosok Mas Hendrik selaku koordinator tim. Tulisan-tulisan awal gue berhasil mendapatkan predikat “lumayan bagus” untuk beliau, karena menurut teman-teman tim, Mas Hendrik orangnya sangat perfeksionis dan detail terhadap pekerjaan. Di waktu senggang pun gue masih bisa mencuri waktu untuk mencoba mencicil bab satu sedikit demi sedikit. Di sinilah gue pun merasa nyaman bekerja di tim ini.

Namun semuanya seketika berubah di minggu kedua, Mas Hendrik yang kemarin bersifat ramah dan menyenangkan kini berubah menjadi sosok diktator kejam yang galaknya bukan main. Tulisan gue disampah-sampahin. Hampir seluruh pekerjaan gue salah di matanya. Jangankan mencuri waktu untuk mengerjakan skripsi, mengecek handphone pun gue merasa diawasi. Gue nggak tahu apa yang terjadi, karena nggak mungkin bapak-bapak ini sedang PMS, bukan? Gue pun akhirnya diberitahu oleh salah satu rekan, bahwa Mas Hendrik memang tipikal aslinya sangat moody. Dia bisa berubah sikap persekian detik karena mood yang dia alami.

Gue sempat berpikir, “kok bisa ada ya orang yang random begitu di dunia ini” sampai pada akhirnya gue teringat kepada dosen pembimbing gue sendiri, Pak Ubib. Tipikalnya 99% mirip banget sama bos gue di kantor. Galaknya, perfeksionisnya, moody-nya, gue hampir curiga jangan-jangan sebetulnya mereka adalah seorang yang sama. Rasanya pengen gue tarik muka salah satunya siapa tahu benar ada yang menggunakan topeng, hmm….

Setiap gue berangkat ke kampus untuk bimbingan pasti gugupnya setengah mampus. Gue paham banget, bimbingan sama beliau tuh ada periode waktu tertentu. Nggak boleh kepagian, karena pasti dia masih seger untuk mencorat-coret habis skripsi gue. Nggak boleh kesorean karena dia pasti terlalu capek untuk mengoreksi skripsi, ujung-ujungnya pasti minta untuk ditinggalkan di atas meja beliau dan nggak diperiksa-periksa sampai kapan pun. Waktu yang tepat memang di siang hari, tapi persoalannya  dia selalu ada jadwal ngajar. Stress nggak sih?

Beberapa kali akhirnya gue nekat untuk bimbingan di pagi hari, dan betul saja selain coretan tinta merah yang mengotori skripsi, omongan yang terlontar dari mulut beliau pun cukup menyakiti hati. Bayangkan baru dua kali gue bimbingan, beliau sudah menyatakan “Aduh, skripsi sodara ini salah semua, nggak ada peningkatan dari bimbingan pertama, masa harus saya yang perbaiki? Kalo begini caranya saya sudahi saja bimbing sodara” Wow! Dia nyerah bimbing gue, anjir. Setahu gue sepanjang cerita mahasiswa yang dibimbing beliau, mahasiswanya yang nyerah lha kok ini malah pak Ubib. Apakah saya sebodoh itu, Pak?

Hidup Seperti Dikepung Kawanan Serigala

Hidup gue seperti dikepung di antara dua serigala kelaparan yang siap mencabik-cabik mangsanya. Sedangkan keduanya adalah tanggung jawab yang mesti gue selesaikan. Rasanya gue memang harus memilih salah satunya, karena secara teori mana pun seorang Fidi nggak mungkin bisa menyelesaikannya seorang diri. Gue dilema, mau ninggalin kerjaan yang baru sebulan tapi gue butuh penghasilan, mau benar-benar meninggalkan skripsi tapi nyokap nanyain terus kapan lulus. Semuanya nyaris membuat gue gila.

Gue teringat lagi nasihat lama bang Adi, “Jangan nyalahin kerjaan kalau skripsi lu terbengkalai, lu harus bisa atur waktu, lu bangun tidur, pulang kerja masih bisa santai kan? Kenapa lu gak pake buat skripsian? Jangan ngeluh, gue juga pernah di posisi lu dan buktinya gue lulus kan?” Omongannya gue yakini seratus persen benar, tapi dalam praktik gue tahu itu mungkin hanya sebuah omong kosong buat orang kayak gue. Tapi gue harus coba, gue nggak bakalan progress kalo gue cuman bisa mikir tanpa dikerjain.

Sejak itu gue merubah pola kehidupan gue, mencoba sesuai yang diajarkan bang Adi. Bangun tidur hal yang paling pertama gue kerjakan adalah membuka laptop dan mengerjakan skripsi walaupun hanya satu jam. Dalam waktu satu jam gue bisa mengetik skripsi satu sampai satu setengah paragraf, lumayan lah ya… hehehe setelahnya gue tinggalin skripsi gue dan menjalani hari dengan bekerja sampai magrib menjelang isya. Setibanya di kosan biasanya jam 8 malam atau 9 malam paling telat. Rebahan sebentar, gue kembali membuka laptop dan melanjutkan skripsi gue dalam durasi yang gue patok maksimal 45 menit aja. Begitu terus pola hidup gue dalam beberapa bulan menjelang akhir tahun 2018. Ya benar hanya beberapa bulan, karena hidup gue kembali mengalami perubahan di awal tahun 2019.

Di awal tahun gue dipercaya untuk menjadi koordinator tim kampanye pemenangan calon ketua Dema Universitas dalam kegiatan Pemilu Raya Mahasiswa di kampus oleh rekan-rekan satu organisasi eksternal yang gue ikuti sejak semester satu kuliah. Gue tahu seharusnya gue nggak mesti mengambil tanggung jawab ini, toh tanggung jawab gue yang lain pun belum terselesaikan. Tetapi kenyataannya gue tetap mengambil. Gue nggak bisa nolak, dan nggak bisa mundur buat organisasi gue yang satu ini.

Bisa dibilang gue lagi cinta-cintanya. Terlebih, dalam tim pemenangan ini seluruh anggotanya adalah dua puluh kader-kader pilihan Organisasi Ekstra di UIN Jakarta yang satu angkatan dengan gue, ada perasaan excited yang muncul ketika diberi amanah  tanggung jawab tersebut.

Sayangnya di tengah jalan satu persatu anggota tim mulai berguguran, menyisakan enam serigala terakhir yang terbagi dalam divisi tugas yang berbeda-beda. Gue sadar, dengan situasi yang kayak begini rasanya mundur adalah pilihan terbaik. Tapi salah satu teman gue, Ecy bilang “Fidi lu boleh kesel sama situasi ini, gue pun kesel, tapi apa lu tega ninggalin kita berlima?” gue tersentak. Ini bukan hanya soal tanggung jawab yang gue ambil, ini soal solidaritas tim yang merasakan pahit manis yang sama, masa iya gue lari dari itu semua?

Gue paksakan untuk terus bertahan dililit oleh tiga tanggung jawab besar yang menyita waktu, pikiran dan tenaga gue. Gue mesti harus tetep bekerja untuk mencari penghasilan, gue harus tetep mengerjakan skripsi buat nyokap gue, dan gue harus setidaknya menjalankan tugas gue sebagai tim pemenangan walaupun hasilnya kalah sekalipun.

Tanggung Jawab Tidaklah Dilahirkan, Tetapi Dibiasakan.

Kehidupan gue semakin gila, bangun tidur gue skripsian, kemudian berangkat ke kampus untuk bimbingan, dilanjutkan menuju kantor untuk kerja, pulang kerja langsung meluncur rapat dengan tim pemenangan hingga sepertiga malam, sampai pulang ke kosan istirahat, kemudian bangun dan skripsian lagi, begitu terus dalam waktu dua bulan. Hikmah yang bisa gue ambil dari apa yang gue alami adalah lemak membandel dalam tubuh ini perlahan menyusut. Makanya kalau ada yang bilang “Fidi, sekarang kurusan ya pipinya udah tirus, resepnya apa?” gue bisa jawab “resepnya dililit tanggung jawab”.

Pernyataan klise yang sering kita dengar “Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses” memang sungguh betul adanya. Selama kurang lebih satu tahun bekerja, alhamdulillah bisa gue tuntaskan dengan cukup baik. Kehidupan tercukupi bahkan gue sekarang punya tabungan yang bisa gue pakai di kemudian hari.

Hasil pemilu raya kampus juga cukup memuaskan dengan berhasil memenangkan Organisasi ekstra kampus di delapan fakultas di UIN Jakarta walaupun di tingkat universitas masih kalah dari kelompok lawan. Dan yang tak kalah penting, tanggal 4 April 2019 lalu gue pun sidang skripsi, menyelesaikan studi gue dan menyandang gelar sarjana.

Segala yang terjadi oleh gue hari ini gue syukuri karena keterlibatan semua orang yang singgah di kehidupan gue. Bagaimana mereka membantu dan membuat gue menjadi orang yang setidaknya sadar bahwa sesungguhnya tanggung jawab itu tidaklah dilahirkan, tetapi dibiasakan.

Penulis: M. Fadyan Fidiafif