Sepenggal Kisah Menarik dari Alumni Al-Azhar Mesir

518
Mesir
Sumber Foto memphistours.com

“Anda tidak mengenal saya?,” kata Aguk Irawan MN, menirukan pertanyaan yang dilontarkan seseorang di dalam armada Bus 65, memakai dialek Mesir sehari-hari. Angkutan umum ini penuh sesak di jam-jam tertentu, terutama saat-saat perkulihan di negeri piramida itu.

Satu Bus dengan Dosen Filsafat

Hanya menyisakan tempat bergelantungan bagi penumpang. Maklum, pada 1990-an, kendaraan ini alat transportasi yang cukup digemari, terutama bagi mahasiswa yang hendak menuju Kampus Al- Azhar di Kawasan Hussein, Kairo Lama.

Selain bus ini, ada armada lain yang terkenal dengan ‘80 Coret’. Di banding 65, bus yang kedua ini jauh lebih ekonomis. Harganya lebih murah. Jika 65 masih menyisakan tempat berdiri di dalam saat penuh, Anda akan benar-benar bergelantungan di Bus 80 Coret.

Aguk pun lantas menggeleng-gelengkan kepala, pertanda bahwa ia memang tidak kenal sama sekali, atau pernah mengenal namanya, namun terlupa. Beban hidup dan tekanan pelajaran, barangkali menjadi pemicu mengapa sahabat saya yang kini jadi novelis ternama itu, tak tahu menahu siapa gerangan yang menyapa dirinya. “Saya dosen filsafat Anda,” tutur sosok tersebut.

Kesederhanaan Seorang Dosen

Entah apa yang ada di benak karib saya saat itu. Semua bercampur aduk. Yang jelas, ia menceritakan kisah tersebut kepada saya dengan penuh rasa haru, sedikit keki, dan juga menaruh hormat yang luar biasa terhadap para pengajar di Al-Azhar.

Bayangkan saja, sekelas guru besar masih berkenan bergelantungan, dan berdesak-desakan dengan berjibun penumpang yang berjibaku di bus tua itu. Potret kesederhanaan, keikhlasan, dan dedikasi dari dosen al-Azhar. Pengalaman serupa banyak dialami kebanyakan mahasiswa al- Azhar.

Kita akan sering mendapati para ulama al-Azhar tetap dalam kesahajaan mereka, bukan bermewah-mewahan layaknya yang dipertontonkan sebagian oknum pendakwah selebritas kita. Keikhlasan yang terefleksikan dalam perilaku inilah menurut saya yang ikut berkontribusi terhadap kesuksesan para alumninya.

Suasana Belajar di Kampus

Sejak awal berdiri, al- Azhar mempertahankan tradisi- tradisi keilmuan Islam klasik, bahkan meski telah eksis sebagai lembaga pendidikan modern seperti saat ini. Para guru besar al-Azhar memiliki jadwal pengajian rutin untuk menelaah kitab-kitab klasik di Masjid al-Azhar dan membuka peluang penerimaan sanad.

Berbicara soal suasana belajar di kampus, lain pula ceritanya. Kampus yang berlokasi di Kawasan Hussein tersebut memang bangunan tua. Fasilitasnya jangan dibayangkan akan semegah setara dengan kampus-kampus di Tanah Air. Satu dua meja kursinya tampak rusak.

Ada coretan bertebaran di dinding. Bila kebetulan penuh, terpaksa harus lesehan atau berdiri. Tanpa pendingin ruangan. Tetapi justru di sanalah letak keindahannya. Suasana belajar mengajar terwujud secara egaliter, tak ada sekat antara guru dan murid.

Barangkali, rahasia lain yang menempatkan al-Azhar sebagai pusat pendidikan yang bertahan sampai saat ini, adalah kekuatan pendanaan wakaf yang menjadi ruh penggerak al-Azhar. Sejak awal, wakaf dijadikan sebagai pendanaan al-Azhar.

Wakaf Sebagai Sumber Utama Pemasukan Kampus

Para khalifah memberikan harta wakaf, baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf bagi Al-Azhar dipelopori khalifah al-Hakim Bi Amrillah, lalu diikuti para khalifah berikutnya, serta orang orang kaya setempat dan seluruh dunia islam sampai saat ini.

Harta wakaf tersebut kabarnya pernah mencapai sepertiga dari kekayaan Mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan Al Azhar bisa terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama, dan pengiriman delegasi al-Azhar ke berbagai penjuru dunia.

Artikel terkait Dosen Luar Negeri, lihat Hendro Wicaksono Dosen Terbaik Universitas Jacobs Jerman.

Kiprah Alumni al-Azhar Mesir

Belum lagi bila memperbincangkan kiprah para alumninya. Ada deretan nama tentunya. Di kawasan Timur Tengah, nama Syekh Mutawalli as-Sya’rawi disebut-sebut sebagai mujadid abad ke-20.

Dekade berikutnya, kita mengenal Syekh Yusuf al-Qaradhawi, meski sempat bersitegang dengan pembesar al-Azhar saat Mesir bergejolak, ataupun dalam menyikapi berbagai dinamika perpolitikan di kawasan.

Di Suriah, ada Syekh Ramadhan Al-Buthi yang gigih menyuarakan persatuan umat, saat segelintir orang berambisi menaburkan benih fitnah di negara itu. Beliau syahid akibat bom bunuh diri jihadis. Di Makkah, Arab Saudi, Nama Syeh Muhammad Alawi al-Maliki juga tak luput dari pendidikan al-Azhar.

Alumni Al-Azhar di Indonesia

Di Tanah Air, al-Azhar memiliki kadernya, semisal pakar tafsir Alquram M Quraish Syihab dan Chuzaimah Y Tangoe yang saat ini menjabat sebagai Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, di bidang ini, tak terhitung alumni-alumni al-Azhar Mesir yang berkhidmat untuk negeri.

Sementara itu di kancah perpolitikan nasional, nama TGB Zainul Majdi, tentu tak bisa dilupakan begitu saja. Penyabet gelar doktoral tafsir ini memiliki sepak terjang sebagai seorang politisi berlatarbelakang akademisi. Masih ada banyak nama alumni Al-Azhar di berbagai lini, tanpa mengurangi rasa hormat.

Al-Azhar seakan tak pernah habis diulas. Ada banyak penggalan kisah yang tercecer bagi siapapun penimba ilmu di sana. Sampai-sampai “Jami’ al-Azhar as- Syarif”, sebuah kitab yang mengupas hal ihwal al-Azhar itu terpaksa harus terbit dengan 786 halaman.

Usia Menjadi Bukti Kokohnya Keilmuan dan Keagamaan

Apapun anggapan miring yang ditudingkan sebagian kalangan terhadap institusi ini, sejarah telah membuktikan bahwa lembaga ini justru semakin kuat dan mengukuhkan diri sebagai poros moderasi, di tengah menguatnya arus radikalisme di satu sisi, dan gencarnya liberalisme di sisi yang lain.

Pada 2 Mei 2020 lalu, Al-Azhar genap berusia 1080 tahun. Usia ini tentu menjadi bukti kokohnya otoritas keilmuan dan keagamaan lembaga ini, di tengah berbagai prahara politik dan isu agama, Al-Azhar tetap tegak berdiri.

Para imamnya lebih mulia dan berpenamilan lebih elok dari raja dan penguasa manapun, begitulah Ahmad Syauqi, sastrawan Mesir terkemuka memuji Al-Azhar. Terimakasih Al-Azhar jami’an wa ja mi’atan.

Penulis: M Nashih Nashrullah
(Alumni Al-Azhar Mesir)