Sepenggal Kisah dari Bumi Lancang Kuning : Siak Sri Indrapura

544
Siak
Dokumentasi Pribadi

Saya sangat bersukur sekali mendapat kesempatan menziarahi khazanah budaya nusatara yang tertinggal di Kesultanan Siak Sri Indrapura yang terletak di Provinsi Riau. memakan perjalanan kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari Kota Pekanbaru menuju Kabupaten Siak merupakan pengalaman tersendiri bagi saya.

Menelusuri lahan perkebunan karet, semak-semak di sepanjang perjalanan, dan berpapasan dengan mobil-mobil pengangkut sawit. Ya, inilah tanah Sumatera. sebelumnya pemandangan ini tak asing bagi saya yang lahir dan besar di Tanah Minangkabau dan pernah mencicipi melaju diatas jalur Lintas Timur Sumatera.

Artikel Terkait Sejarah, Baca Belajar Sejarah Islam di Budhapest, Hungaria.

Pesona Kesultanan Siak Sri Indrapura

Memasuki kawasan ibu kota Siak kita langsung disambut megah oleh jembatan Sungai Siak yang berdiri kokoh membentangi sungai yang lebarnya kerap menjadi alur lalu lintas kapal tongkang pengangkut batu bara dan kayu produksi. dengan tata kota yang apik dan bersih serta keadaan lalu lintas jalan yang juga tidak terlalu ramai serta bertepatan sekali dengan hari Jum’at, seakan Kesultanan Siak Telah siap menyambut kami sebagai tamu kerajaan.

Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kesultanan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723. Menginjakan kaki di Istana Siak Sri Indrapura yang masih awet terpelihara dengan apik dan megah seakan membawa kita kembali ke zaman masa lalu ketika kerajaan ini berjaaya.

Didepan istana kita disambut dengan taman yang indah dengan jajaran bungan bougenvile dan moncong meriam yang sudah tidak berfungsi lagi yang seakan siap sedia jika terjadi perang.

Para penjaga Istana Siak pun menyambut dengan senyum yang ramah berbusana budaya melayu, dengan tanjak di kepala yang indah, busana baju kurung melayu berwarna putih serta kain songket berwarna hitam dengan benang emas melingkar di pinggang hingga di lutut, menyambut kami dengan senyum ramah dan bersedia mengantar kami untuk berkeliling di istana siak yang megah ini dan menerangkan tentang apa-apa saja koleksi yang masih tesimpan dan di jaga disini.

Koleksi di Istana Siak Sri Indrapura

Istana Siak Sri Indrapura sendiri terdiri dari berbagai ruang, seperti ruang bagi para Sultan Siak untuk menerima tamu kenegaraan, ruang makan yang dibagi dua antara Sultan dan Permaisuri, kamar tidur dan ruang istirahat serta ruang penyimpanan koleksi. Ada beberapa benda koleksi yang menarik bagi pengunjung di Istana tersebut.

Foto Istana Siak Sri Indraputra

Pertama adalah sebuah Peti Brangkas yang sudah terkunci sejak zaman Bala Tentara Dai Nippon Menjajah tanah Indonesia dan tak ada juga yang pernah berhasil mencoba membuka brangkas tersebut misteri apakah yang tersimpan dalam brangkas tersebut.

Kemudian adalah cermin kristal yang tersimpan di ruang peraisuri yang konon katanya dengan berkaca pada cermin tersebut akan menjadikan orang yang berkaca menjadi awet muda, paling pasti sih jangan lupa berdoa dan bersukur atas nikmat yang Allah SWT beri atas diri dan tubuh ini yaa teman-teman.

Selanjutnya adalah sebuah Gramophone Antik yang hanya ada 2 dunia, Komet Namanya, sebuah Gramophone setinggi hampir 3 meter ini memang unik, dibuat tahun 1886 dan hanya ada di Jerman dan satu lagi di Istana Siak ini dan Alhamdulillah masih berfungsi.

Setiap Orang ada Masa dan Zamannya

Diluar istana pun kami diajak untuk berkeliling menyusuri sungai, menziarahi makam Raja-Raja Siak, Berkunjung ke Perpustakaan dan gudang senjata yang dulu pernah dipakai sebagai tempat logistik persenjataan untuk bertahan.

tentunya ini menjadi pengalaman yang berarti dan berharga bagi saya, menelusuri jejak sejarah selalu membuat saya takjub seakan dimana tempat saya berdiri saat ini pernah berdiri seorang yang sangat berpengaruh di Tanah Nusantara ini dan menekur sejarah, Setiap orang ada masa dan zamannya.

Bi ruhil Fathihah

Salam Pesona Indonesia

Penulis: Habibie Fahmi Amir