Seni Jalaluddin Rumi Menggapai Cinta Ilahi – Part 3

408
rumi
Sumber Foto Wallpaperaccess.com

Dunia Sufi Jalaluddin Rumi

Rumi merupakan sosok yang unik, keunikannya tidak hanya tercermin dalam jalan hidupnya, namun juga pada karya-karyanya. Laku sufi Rumi ini kemudian mengundang banyak ketertarikan para orientalis seperti Chittick & Schimmel.

Baca juga: Seni Jalaluddin Rumi Menggapai Cinta Ilahi – Part 2

Schimmel menyebutkan bahwa selama tujuh ratus tahun Rumi telah menerangi bukan hanya dunia Islam sebelah timur sejauh perbatasan Benggala, tetapi juga merambat ke Dunia Barat, di mana kata-kata Rumi diperkenalkan lewat terjemahan para orientalis Jerman dan Inggris dari awal abad 19.

Annemarie Schimmel, (7 April 1922-26 Januari 2003) dikenal luas sebagai orientalis asal Jerman paling berpengaruh, yang banyak menulis tentang Islam dan sufi. Ia adalah professor di Harvard University pada tahun 1967 hingga 1992. Ia dilahirkan dari keluarga kelas menengah yang beragama protestan di Erfurt, Jerman. Annemarie Schimmel meneliti Rumi lebih dari 40 tahun.

Namun demikian, ada juga yang tidak terlalu simpatik dengan Rumi, lebih spesifiknya dengan keberadaan tasawuf dalam Islam seperti Ignaz Goldziher & Reynold Nicholson. Bagi Goldziher dan Nicholson, asal usul tasawuf terutama yang berkaitan dengan ajaran-ajaran yang diajarkan dalam tasawuf merupakan pengaruh dari unsur-unsur di luar Islam. Goldziher mengatakan, bahwa tasawuf sebagai salah satu warisan ajaran dari berbagai agama dan kepercayaan yang mendahului dan bersentuhan dengan Islam. Bahkan berpendapat bahwa beberapa ide al-Qur’an juga merupakan hasil pengolahan “ideology” agama dan kepercayaan lain. Unsur agama dan kepercayaan lain selain Islam itu adalah unsur pengaruh dari agama Nashrani, Hindu-Buddha,Yunani dan Persia.

Terkait dengan karya-karya Rumi, seperti telah disinggung dalam pendahuluan tulisan ni bahwa kesulitan memahami karya-karya Rumi adalah Rumi tidak pernah memberikan penjelasan secara rinci mengenai ajarannya. Rumi tidak seperti sufi besar lainnya yang menulis risalah sufisme secara sistematis. Namun demikian, menurut Chittick, Rumi selalu berhasil menjawab persoalan dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Selain itu, seluruh karya Rumi tidak juga langsung menyinggung, baik itu teori maupun praktik sufi. Tapi, setiap bait syairnya merupakan titik awal gambaran dari seluruh ajarannya yang memiliki keragaman cara dalam memahaminya.

Atas dasar itu, Chittick dalam penelitiannya kemudian berusaha melakukan kodifikasi terhadap karya-karya Rumi berdasarkan tiga dimensi dasar dari sufisme yaitu: Syariat, Tarekat, dan Hakikat. Kodifikasi yang dilakukan oleh Chittick ini kiranya dapat membantu kita dalam melihat atau memetakan karya-karya Rumi secara tematik.

Theory: Seeing Things As They Are (Melihat Hakikat)

Bentuk adalah penampakan luar. Makna adalah hakikat yang tidak terlihat, realitas yang tersembunyi. Makna, hakikatnya hanya Tuhan yang tahu. Dan, karena Tuhan jauh dari segala bentuk kejamakan, makna segala sesuatu berarti Tuhan itu sendiri. “Bentuk adalah bayang-bayang, Mataharilah makna.”

Dikotomi antara bentuk dan makna merupakan ciri utama yang terus melekat. Rumi menjabarkan ini dalam berbagai konteks dan keserbaragaman tamsilan dan simbol-simbol.

Rumi sering berbicara tentang perbedaan bentuk-makna secara filosofis. Terkait ini, Rumi juga menggunakan istilah yang berpasangan: sebab-musabab, zahir-batin, debu-angin, bayangan-cahaya.

Practice: The Disipline of the Way (Disiplin Tarekat)

Manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan. Kebebasan dari sudut pandang tertentu, sesuai dengan eksistensial manusia (proporsional). Manusia diberi kebebasan kehendak dengn segala konsekuensinya: akan menerima balasan (pahala) dan hukuman (siksa) sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya.

Tuhan memiliki kebebasan, dan manusia mengambil bagian dari sifat ketuhanan ini dalam beberapa tingkatan. Apa pun yang dilakukan nafs-mu, kau memiliki kebebasan di dalamnya, tetapi apa yang menjadi hasrat-hasrat akalmu, kau katakan terpaksa. (Matsnawi)

Menurut Jalaluddin Rumi, manusia menempati posisi yang sangat istimewa dalam hubungannya dengan Tuhan. Tuhan telah memuliakan manusia sedemikian rupa, diajarkanNya kepada manusia nama-nama semuanya, dianugerahi-Nya manusia dengan kebebasan memilih, dan ditanamkannya pada diri manusia sifat-sifat uluhiyyah.

Attainment to God Hakikat: Naugthing the Self (Peniadaan Diri)

Rumi kerap mengunakan istilah seperti “eksistensi diri” (hasti, wujaAud), “diri” (kwud, kwish), “kedirian” (kwudi, kwishi), “keakuan” (mani, ananiyyat), dan keaku dan kekitaan (manu-mani). Istilah-istilah ini digunakan dalam penggambaran “nafs” yang bertransformasi.

Peniadaan diri adalah kondisi fitrah, di mana sebelumnya semua orang lari dari keinginan dan eksistensi dirinya itu. Orang berusaha terbebas dari kesadaran diri itu. Mereka yang tahu bahwa keberadaan ini adalah perangkap hasat dan neraka, mereka akan lari dari kedirian menuju peniadaan diri, kemabukan, dan kekosongan.

Etika Sufi Jalaluddin Rumi

Setidaknya ada lima konsep primer yang saling terkait satu sama lain, yaitu: (1) Kebajikan/keutamaan moral (fadhilah, virtue, arete), (2) Tindakan moral (‘amal shāleh, moral act, praxis), (3) Kehendak moral (irādah, ikhtiar, free will), (4) Keadaan jiwa (awāl alnafs, soul), (5) Imperatif moral (suara hati, istaftū alqulūba, imperative).

Dalam tasawuf Rumi, kita dapat memetakannya dalam beberapa hal di anataranya:

  • Kesadaran Moral (akhlak/Permata): Semakin berharga dan mulia permata, semakin besar selubungnya. Secara umum, kesadaran Merupakan kemampuan internal jiwa dalam menginternalisasi ajaran-ajaran moral itu menjadi cara hidup dan cara berada kita (otonomi moral). Murthadha: “Dorongan berbuat kebajikan itu sudah ditanamkan dan diwahyukan Allah ke dalam kalbu setiap manusia. Rumi bersyair: “Akhlak adalah permata. Semakin berharga dan mulia permata, semakin besar selubungnya. Untuk menyingkap selubung itu perlu mujahadah yang kontinu.” (Rumi—Permata-Permata yang Tersimpan, dalam Fihi ma Fihi)
  • Cinta (Isyq): Dimensi pengalaman rohani, bukan pengertian teoretis. Cinta adalah sumber perantara seluruh gerakan dan perbuatan. “Kebijaksanaan Tuhan dalam titahnya telah menjadikan kita sebagai para pecinta satu dengan yang lainnya.”
  • Suara Hati atau Intuisi: Sebagaimana tasawuf mengidentifikasi keberadaan Tuhan dengan intuisi, intuisi pulalah yang men-direct manusia untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang. Semua itu telah ada dalam pada intuisi manusia secara fitri. Dalam hal ini, Kant mengatakan bahwa, keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui argumentasi akal murni. Keberadaan Tuhan hanya bisa didapat melalui intuisi akhlaki. Selanjutnya Kant mengatakan bahwa manusia merasakan beberapa perintah dan larangan pada intuisinya. Larangan itu bersifat fitri dan alami. Larangan berkata bohong, berkhianat, atau mencintai seseorang, semua itu telah ada dalam pada intuisi manusia secara fitri. Setiap perbuatan yang dikerjakan seseorang dengan alasan menaati perintah intuisi adalah semata-mata karena intuisi memerintahkannya, itulah perbuatan akhlaki.
  • Tindakan Moral/perbuatan Akhlaki: Perbuatan akhlaki adalah tujuannya untuk orang lain. Perbuatan akhlaki adalah perbuatan yang bermuara dari perasaan saling mencintai. Hal ini sejalan dengan konsep tasawuf/sufi al-gazali bahwa sufi adalah: istikamah dengan Allah dan berbuat baik dan baik atau lembut kepada orang lain.
  • Kebebasan/Iradah Manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan. Manusia diberi kebebasan kehendak dengan segala konsekuensinya: akan menerima balasan (pahala) dan hukuman (siksa) sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya. Rumi bersyair: “Kebebasan kehendak adalah upaya berterima kasih pada Tuhan atas karunia-Nya kepasrahanmu berarti mencampakkan Karunia itu Bersyukur atas kekuatan kehendak bebas akan menambah kekuatanmu kepasrahan ibarat tidur di tengah perjalanan.”

Akhiran Sebagai Penutup

Tasawuf Rumi merupakan ekspresi pengalaman ruhani tentang cinta kepada Tuhan (mahabbah ilahi) sebagai puncak kebahagiaan yang tertinggi dan final. Konsep-konsep sufistik Rumi termanifestasi dalam kuplet-kuplet syair dan deretan prosa. Syair-syair Rumi adalah gagasan-gagasan dalam bangunan teologi yang sentral nan qur’anis, juga sabda nabi. Semuanya disuguhkan menjadi simbol yang benar-benar puitis.

Tema cinta dengan sisi universalnya telah membawa karya-karya Rumi menembus sekat-sekat agama, kultur, dan  bangsa. Inti ajaran tasawuf sangat berkenaan dengan pembangunan kesadaran moral. Kesadaran moral merupakan kemampuan internal jiwa dalam menginternalisasi ajaran-ajaran moral itu menjadi cara hidup dan cara berada kita (otonomi moral).

Dasar-dasar (basis) rasional kebaikan manusia sebenarnya telah ada dalam pada intuisi manusia secara fitri. Setiap perbuatan yang dikerjakan seseorang dengan alasan menaati perintah intuisi adalah semata-mata karena intuisi memerintahkannya. Dengan demikian, ketajaman intuisi mendengar suara kalbu merupakan wilayah utama kajian etika tasawuf Jalaluddin Rumi. Filsafat etika Rumi adalah puncak dari keyakinandan nilai sufi.

Rumi mumpuni dalam memanifestasikan nilai-nilai seperti kebaikan, kebaikan, simpati, perasaan sesama, kasih sayang, cinta, ketekunan, kebersamaan, kerja sama, perjuangan, kesabaran, ketabahan, ketulusan, dan kebaikan.

Bagi Rumi, nilai-nilai etika bersumber dari realisasi diri yang mengarah pada realisasi Tuhan. Hal ini merupakan realisasi Tuhan dengan bantuan cinta Tuhan yang dapat ditanamkan dalam diri, cinta dan kasih sayang untuk sesama manusia. Faktanya, ‘kekasih’ adalah nilai tertinggi bagi dirinya sendiri. Bahkan keyakinan salahnya memiliki kebenaran mereka. Bahkan kemurtadannya lebih tinggi dari iman non-kekasih. Itu adalah cinta Tuhan dan manusia yang dapat menginspirasi dalam diri kita cinta abadi untuk Kebenaran, Kecantikan dan Kebaikan.

Penulis: Hijrah Ahmad
(Kopitalis akut, koki di Emirbooks)