Sedekah Ilmu

489
Ilustrasi/Photo by Pixabay

Oleh: Hajime Yudistira

Situasi pandemi Covid-19 ini membuat saya memiliki lebih banyak waktu dari biasanya. Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah sedekah ilmu, utamanya terkait pengetahuan yang sudah lama juga tidak terpakai, yaitu bahasa Jepang. Kebetulan di sekitar tempat tinggal saya ada beberapa anak yang sangat ingin bisa kursus bahasa Jepang, tetapi terbentur masalah biaya. Semasa kuliah dulu saya memang pernah menyelesaikan kursus Bahasa Jepang tingkat dasar dan sepertinya saya masih mengingatnya. Hitung-hitung saya kembali melancarkan juga, karena untuk urusan bahasa, kalau tidak pergunakan, biasanya lupa.

Setelah mencari-cari kurikulum yang akan dipakai, akhirnya pilihan saya jatuh kepada kurikulum pelajaran bahasa jepang yang dikeluarkan oleh NHK World Japan –layanan internasional dari lembaga penyiaran publik Jepang, NHK. NHK World Japan menyajikan informasi terkini tentang Jepang dan Asia melalui televisi, radio dan internet kepada audiensi global. Saya merasa sangat terbantu dengan kurikulim di situs ini karena standar yang mereka provide adalah level internasional yang digunakan dalam pengajaran bahasa Jepang di seluruh dunia.

Saya menyediakan waktu seminggu dua kali pertemuan, yaitu setiap Rabu dan Sabtu siang. Biasanya kami belajar dari pukul 13.00 – 14.30 WIB. Mereka datang ke kantor kecil saya yang sederhana dan biasanya kami lesehan di lantai. Senang melihat mereka begitu bersemangat di setiap pertemuan, ini terlihat dari binar mata mereka yang terlihat jelas di wajah mereka. Untuk sementara, kelas yang saya buka ini diikuti oleh lima anak berusia 12 – 15 tahun.

Pernah suatu ketika, saya didatangi oleh salah satu orang tua anak didik saya, yang juga kebetulan adalah sekuriti di perumahan tempat saya tinggal, dia menyampaikan rasa senang dan terima kasih karena sang anak bisa belajar bahasa Jepang dengan saya. Menurutnya, tidak mungkin dia bisa membiayai kursus bahasa Jepang untuk anaknya karena harganya yang tidak terjangkau. Sisi lucu yang membuat saya tersenyum adalah dia mengatakan bahwa sejak anaknya belajar bahasa jepang, koceknya terkuras karena sang anak meminta kuota internet lebih banyak dari biasanya untuk bisa mengakses langsung situs yang saya pakai untuk pengajaran tersebut.

Sebenarnya, sebelum saya mengajar anak-anak di sekitar tempat tinggal saya ini, saya pernah diminta untuk mengajar bahasa Jepang kepada anak-anak pesantren Gugel (Gunung Geulis) di daerah Gadog, Bogor, Jawa Barat secara daring melalui aplikasi Zoom. Hanya saja pengajaran tersebut sempat terhenti karena saat itu masuk Ramadan. Mungkin pertimbangan pimpinan pesantren saat itu, santri-santrinya akan memiliki kegiatan yang lebih padat, sehingga kegiatan nonkeagamaan perlu dikurangi. Saya hanya mengira-ngira saja, tapi saat itu pimpinan pesantren memang meminta saya untuk menghentikan kegiatan tersebut.

Sampai saat ini kegiatan mengajar santri-santri di pesantren Gugel tersebut belum dimulai kembali. Mungkin pengajaran bahasa melalui media daring memang dirasakan kurang efektif, ini lebih dikarenakan kendala teknis seperti sinyal yang kadang-kadang naik-turun sehingga suara untuk bisa mentransfer materi melalui media daring.

Karena waktu yang cukup banyak, maka selain sedekah ilmu, saya menerima sedekah ilmu juga. Kebetulan ada seorang tetangga yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta melakukan hal yang sama, yaitu berbagi ilmu tentang menulis dan tata bahasa. Kelas beliau diadakan seminggu dua kali dengan media daring juga. Banyak hal yang saya dapat dari kelas yang sudah berjalan sekitar empat bulan ini, selain mempelajari teori dalam menulis, para pesertanya juga “dipaksa” untuk menulis dan tulisannya akan diedit bersama sebelum dikirimkan ke media nasional.

Terus terang saya menikmati kegiatan yang saya lakukan ini, yaitu berbagi ilmu. Sebenarnya dengan melakukan kegiatan ini, saya tidak hanya mengajar saja, tapi sejujurnya saya juga kembali belajar melancarkan apa yang dulu pernah saya ketahui. Dengan kegiatan ini saya menyadari ternyata vocabulary bahasa Jepang saya banyak yang saya sudah lupa, dan dengan mengajar ini saya kembali belajar dan mengingatnya.

Ada perasaan senang bisa berbagi sedikit ilmu yang saya ketahui, perasaan yang sulit digambarkan. Saya mengajak teman-teman semua untuk bisa melakukan hal yang sama, yaitu berbagi ilmu. Setiap dari kita pasti memiliki pengetahuan atau kebisaan tertentu yang bisa dibagikan dengan sesama. Sediakan sedikit waktu untuk melakukan hal tersebut. Bisa seminggu sekali, atau seminggu dua kali, atau tergantung waktu yang kita miliki. Lakukan dengan ikhlas dan rasakan perasaan yang tadi saya gambarkan. Sangat menyenangkan dan membahagiakan.

Di dalam kitab suci juga dianjurkan agar setiap orang untuk bisa berbagi ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Dikatakan bahwa selama ilmu yang bermanfaat tersebut dipergunakan, maka selama itu pula pahalanya akan mengalir kepada kita. Berbahagialah orang-orang yang memiliki banyak ilmu dan punya banyak waktu juga untuk berbagi.