Santri Finalis Kompetisi Startup Dunia 2020

297
Santri
Foto oleh fauxels dari Pexels

Santri yang identik dengan sarungan, ngaji, dan seringkali dianggap gagap teknologi, justru menorehkan prestasi dikompetisi teknologi paling bergengsi di dunia, World Final Alibaba GET Global Challenge 2020.

Teknologi terus mengalami perkembangan yang sedemikian pesat setiap waktunya. Hal ini yang tidak boleh ditinggal masyarakat Indonesia sebagai orang yang hidup di zaman now. Adalah Muhammad Hasyim Habibil Mustofa yang saat ini bergerak menyebar benih-benih pengetahuan teknologi ke generasi muda saat ini yang masih segar-segarnya. Pasalnya, teknologi bakal berperan besar bagi kemajuan dunia ini.

“Karena kebutuhan yang sangat tinggi, teknologi akan sangat memegang peranan penting sehingga kita siapkan dari sekarang,” katanya kepada Mading.id pada Minggu (6/9).

Kolaborasi dengan Alumni PPI Dunia

Hal itu dilakukannya dengan membuat sebuah platform Axar School. Program tersebut diinisiasi bersama rekan-rekannya yang pernah temu dalam sebuah pertemuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, yakni Jefri Hardiansyah, Aldi Susanto, Adriani, dan Reko.

Meski baru diluncurkan sejak 7 Maret 2020 lalu, programnya itu berhasil masuk daftar finalis kompetisi beragam aplikasi yang digelar oleh Alibaba, sebuah platform yang telah mendunia. Ia mewakili Indonesia bersama tiga aplikasi lainnya berhadapan dengan puluhan aplikasi sedunia.

Habibi Salim, ia biasa dikenal, menjelaskan, proses yang dilaluinya untuk mencapai tahap tersebut tidak mudah. Saban bulan, penyelenggara melakukan eliminasi. Dari 600 peserta yang berasal dari Indonesia, ia bersama timnya bisa masuk empat besar untuk menjadi perwakilan di tingkat dunia. “Tadinya kita masuk di 260 besar. Sampai 4 besar. 4 besar ini mewakili Indonesia di final,” kata alumnus Pesantren Al-Kahfi, Somolangu, Kebumen, Jawa Tengah itu.

Dari awal, Habibi memang tidak menargetkan untuk menjadi peserta terbaik. Satu harapannya mengikuti ajang bergengsi itu, katanya, adalah bisa mendapatkan kesempatan inkubasinya. “Ekspektasi mengikutinya program inkubasinya,” katanya.

Sebab, dengan mengikuti program inkubasi itu, ia bisa mendapatkan wawasan baru mengenai program dan manajemen yang telah dijalankan oleh perusahaan besar dunia itu.

Bimbing Generasi Muda

Habibi punya visi besar ke depan, yakni dapat membuat masyarakat melek teknologi, khususnya rekan-rekan santri. Visi itu ia wujudkan melalui program Axar School yang dirintisnya bersama rekan-rekannya yang juga tengah menempuh studi di berbagai perguruan tinggi terkemuka di dunia, baik di Jepang, Turki, hingga Inggris.

Ia menjalin kerjasama dengan pelbagai lembaga pendidikan, khususnya bidang vokasi, maupun pesantren untuk memberikan pembelajaran mengenai teknologi, seperti Artificial Intellegence, Pengembangan Web, dan sebagainya. Ia mengaku sudah memiliki kurikulumnya yang terprogram dengan rapi sesuai tingkatannya.

Pria yang menempuh studi sarjananya di bidang komunikasi itu menjelaskan, ada beragam kerja sama yang dijalinnya. Beberapa institusi pendidikan menjadikannya sebagai ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh sebagian siswanya, tetapi ada juga yang memasukkannya sebagai bagian dari mata pelajaran.

“Kebanyakan kepala sekolah program itu esktrakurikuler sebagai tambahan. Ada juga yang menginginkan karena tertata dengan rapi dan leveling jelas sebagai mata pelajaran tambahan,” ujarnya.

Sementara di pesantren, lanjutnya, bisa dilakukan dengan menentukan waktu untuk para santri dapat mengakses pembelajarannya yang terpusat di laboratorium komputer.

Tidak berhenti di situ. Melalui programnya tersebut, ia bercita-cita dapat menghubungkan lembaga pendidikan dengan dunia industri, seperti pemerintah, perusahaan, organisasi sosial, dan lembaga pendidikan lain. Cita-citanya ini ia sebut sebagai Education Transformation Model. “Kita juga pengen membantu sekolah untuk terkoneksi dengan dunia industri,” ujarnya.

Mula Bergumul dengan Teknologi

Sebagai santri yang juga mendalami dunia elektro di sekolah vokasi, ia tidak bisa lepas dengan teknologi. Ia mulanya memang dapat mengakses beragam media sosial zaman dulu, seperti Friendster atau Yahoo Messenger. Kegemarannya itu terus membawanya ke dunia tersebut meski mendalami studinya di bidang lain.

Kesukaannya pada dunia teknologi itu juga semakin tumbuh saat menjadi wartawan sebuah majalah ketika masih menjadi mahasiswa strata satu. Tugasnya, kenang Habib, adalah membuat ulasan mengenai teknologi. “Hal itu sudah menjadi hobi tersendiri mengikuti perkembangan teknologi,” ujarnya.

Melihat pesantren, menurutnya, lembaga pendidikan agama asli Indonesia ini bisa sangat adaptif dengan dunia luar, termasuk teknologi. Namun, tidak dapat dipungkiri, sebagian memang masih melarang atau membatasi para santrinya menggunakan gawai dengan bebas karena menjaga fokus mereka ataupun alasan baik lainnya. Hal itu menjadi tantangan sendiri bagi dunia pesantren.

Ia pun ingin dapat menemukan komunitas santri yang fokus di bidang teknologi guna menjalin diskusi serta kerja sama lebih lanjut dalam rangka mengembangkan potensi santri dan pesantren di bidang teknologi.

Penulis: Syakir NF