Resolusi Jihad; Santri dan Pahlawan

107
Resolusi Jihad; Santri dan Pahlawan
photo by goodnewsfromindonesia.id

Tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Lewat resolusi jihad, kaum santri memohon dengan sangat kepada pemerintah Republik Indonesia agar menentukan sikap dan tindakan yang nyata terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Indonesia dan agama terutama terhadap tentara Inggris dan sekutu. Mereka telah berbuat kezaliman di Indonesia dan resolusi ini membawa pengaruh yang besar bahkan ada dampak besar setelah Kyai Haji Hasyim Ashari menyerukan resolusi ini.

Surabaya Berdarah dan Resolusi Jihad

Hal ini kemudian membuat rakyat dan santri melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Banyak santri dan massa yang aktif terlibat dalam pertempuran ini. Perlawanan rakyat dan kalangan santri ini kemudian membuat semangat Pemuda Surabaya. Hingga akhirnya perjuangan tersebut menewaskan pemimpin sekutu Brigadir Jenderal aubertin Walter sothem Mallaby, yang menjadi pemicu terjadinya peperangan dahsyat pada 10 November 1945.

Pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat ini berlangsung selama lebih kurang tiga minggu lamanya.

Medan perang Surabaya kemudian mendapat julukan “neraka” karena kerugian yang disebabkan tidaklah sedikit. Pertempuran tersebut telah mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil.

Selain itu diperkirakan 150.000 orang terpaksa meninggalkan kota Surabaya dan tercatat sekitar 1600 orang prajurit Inggris tewas, hilang dan luka-luka serta puluhan alat perang rusak dan hancur.

Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itu serta semangat membara tak kenal menyerah yang ditunjukkan Arek-Arek Suroboyo, membuat Inggris serasa terpanggang di neraka dan membuat kota Surabaya kemudian dikenang sebagai kota pahlawan.

Santri dan Pahlawan

 Fakta sejarah diatas rasanya cukup menjadi bukti akurat bahwa santri yang notabene dari kalangan pesantren juga turut serta dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ditambah banyaknya ‘ulama yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional, tercatat banyak sekali tokoh dari kalangan pesantren yang dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Diantaranya adalah hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pangeran Diponegoro, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahid Hasyim, dan masih banyak yang lainnya.

Esensi Kepahlawanan

Santri dikenal sebagai seorang yang menjunjung tinggi tradisi ‘manut’ atau sami’na wa atho’na dengan para gurunya. Dengan kata lain, santri akan terus mempertahankan nilai-nilai perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana semangat juang yang telah diwariskan oleh guru-gurunya (kyai) terdahulu.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kontribusi santri berjiwa nasionalisme secara sederhana dengan sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 serta menyetujui NKRI sebagai final konsep negara ini. Apalagi santri ditambah dengan berbekal ilmu agama juga mampu memiliki multikompetensi keilmuan, keagamaan dan akhlakul karimah.

Baca juga: Dalil Tawassul dalam Al Qur’an

Secara kolektif, Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang sangat religius. Semua aktivitas masyarakatnya terkait dengan nilai-nilai agama. Persoalannya, sebagai kaum santri bagaimana memelihara dan merawatnya karena kita hidup yang secara bersamaan hidup di dunia nyata dan dunia maya.

Menjadi Pahlawan di bidang keagamaan sudah barang tentu menjadi tanggung jawab moral bagi santri untuk sebagai modal awal dalam berkehidupan di tengah kompleksitas yang ada saat ini. Harapannya, santri mampu terus menghidupkan nilai-nilai nasioanalisme dalam bingkai keagamaan sehingga intelektual dan khazanah keilmuan yang ada di Indonesia ini tidak akan pernah tandus.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)