Resensi Buku Islam dalam Madilog

154
Buku
Cover Buku Islam dalam Madilog

Saya ingin bercerita tentang buku yang menemani masa rehat jam mata kuliah beberap waktu lalu. Buku ini berjudul “Islam dalam Madilog”, ditulis oleh Tan Malaka. Bersama teman sejawat, buku ini diulas secara bebas dalam forum diskusi kecil dan menjawab berbagai kegelisahan.

Tan Malaka berusaha mengikat sambungan pertentangan yang terjadi dalam dialektika pemikiran dunia. Islam yang identik dengan dogma langit, mencoba ditarik untuk menjadi raga yang dikenal makhluk bumi.

Baca Juga: Etika Menuntut Ilmu di Masa Pandemi

Islam yang dominan bersumber dari dakwah para nabi berupa wahyu didedah sebagai martir pendobrak belenggu sosial. Tan Malaka membangun alur berpikir cara memahami eksistensi Islam dalam konsep untuk melepas segala bentuk yang maruk.

Ada tiga bagian dalam buku ini. Pertama berbicara tentang Islam, kedua merupakan pandangan hidup dunia dalam perspektif Tan Malaka dan ketiga adalah konsep negara. Sementara saya akan sedikit memberi gambaran tentang dua bagian pertama, yaitu Islam dan pandangan hidup Tan.

Pada bagian pertama, Tan menggambarkan figur pra-kenabian Nabi Muhammad saw. Dimana Muhammad hadir sebagai manusia yang berpengaruh di antara pergulatan perang suku dan perbudakan di tengah masyarakat jahiliyyah Arab.

Jika bukan seorang Nabi, konflik dalam masyarakat Arab tidak akan selesai. Selain itu, peran seorang manusia dengan gelar kenabian yang hingga sekarang dan selamanya terus berpengaruh, membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang penggerak perubahan sosial.

Karakteristik Nabi Muhammad saw apabila dipandang dalam dimensi kemanusiaan merupakan seorang pencari jawaban atas segala permasalahan dalam masyarakat. Bisa jadi kamu – para pembaca – adalah orang yang memiliki karakter revolusioner seperti nabi atau orang yang lebih pintar dari nabi, sebab ia memiliki sifat ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Sementara kamu merupakan mahasiswa yang pasti bisa membaca dan menulis. Bukan maksud membandingkan, namun itu merupakan konsekuensi logis ketika kita telah menempuh proses pendidikan.

Baca juga: Buku Penakluk Badai Biografi KH. Hasyim Asyari

Tuhan berkehendak menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai pintu hubungan langit dengan bumi melalui sarana perwahyuan. Tuhan memberikan konsep kehendak langit melalui Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan secara realistis berisi jawaban atas masalah sosial.

Demikian saya menyimpulkan. Satu point keresehan pribadi terjawab. Kita semua terbatas dalam menafsirkan keinginan dan kehendak langit. Namun, Nabi Muhammad SAW hadir sebagai penghubung dua dimensi yang berbeda. Ia merupakan manifesto langit untuk urusan bumi. Dalam diri Muhammad, ada dua dimensi yang berbeda: metafisik dan fisik.

Bagian kedua, tentang pandangan hidup dalam perspektif Tan Malaka. Sebagaimana salah satu orang yang membaca karya Karl Marx, maka akan muncul spektrum pemikiran itu dalam dirinya, meskipun tidak utuh.

Tan Malaka adalah seorang yang bermasyarakat dan sadar akan latar kondisi bangsa ini. Pemikiran Marxis berusaha diejawantahkan dalam beberap konsepsi buku ini, seperti Manusia Monyet, Indonesia Sederhana, Animisme dan Kaum Materialis. Namun, Sub-bagian yang menjadi perhatiaan saya dalam buku ini adalah pada pembahasan Nabi Musa dan Nabi Isa AS dalam perspektif Tan Malaka.

Mesir kala itu banyak menyembah Para Dewa. Bangsa Yahudi adalah bangsa yang termarjinalisasi. Yahudi adalah bangsa budak. Kaum Yahudi meyakini bahwa ada sebuah ajaran atau mitos akan sebuah wilayah yang dijanjikan.

Artinya, ada sebuah daerah yang sejatinya menjadi hak bangsa Yahudi. Dalam pergulatan perbudakan dan penindasan Fir’aun terhadap Yahudi, mereka memutuskan untuk pergi dari tanah Mesir. Dalam peristiwa ini, Nabi Musa AS hadir sebagai revolusioner yang menjawab permasalahan bangsa Yahudi.

Sekali lagi Tan Malaka menggarisbawahi, apabila kepemimpinan rombongan bukan dari seorang nabi, manusia akan memperhitungkan tentang presentasi kesuksesan strategi yang ditempuh. Jika orang biasa yang melakukan demikian, bisa jadi tidak berhasil. Namun karena hadir seorang manusia sekaligus nabi, hadir kehendak langit yang meyertai bangsa Yahudi dalam mengatasi permasalahannya. Samahalnya eksistensi Nabi Muhammad SAW ditengah konflik sosial masyarakat arab pada abad selanjutnya

Kemudian Tan juga meyoroti kasus Nabi Isa AS. Konsep kasih dalam agama kristen tidak ditafsirkan secara sederhana seperti  kita berlaku simpati kepada orang lain. Seperti kita menyatakan belasungkawa atau turut bahagia dalam kejadian yang menimpa manusia lainnya.

Menurut Tan, konsep kasih Nabi Isa adalah perlawanan terhadap penindasan dominasi Kerajaan Romawi. Tan Malaka mengutip perkataan Nabi Isa, “Saya tidak datang untuk berdamai, melainkan untuk berperang”. Corak kemasyarakatan lingkungan Nabi Isa hidup memiliki karakter yang jauh dari sikap pasif atau istilah nrimo. Artinya kondisi kala itu merupakan sebuah latar peristiwa yang aktif.

Jadi, menurut saya, konsep kasih adalah konsep berempati dengan manusia lainnya. Jika orang lain sedang menghadapi masalah, maka kasih sayang kita berwujud bantuan untuknya keluar dari jurang permasalahan.

Ketika eksistensi para nabi dikaitkan dengan masalah di tengah masyarakat, itu merupakan wujud gerakan revolusioner. Sementar bila dilakukan manusia biasa tentu hanya menjadi parsial atau tidak menyajikan wujud solusi yang utuh.

Namun keberadaan eksistensi nabi di tengah masyarakat merupakan kontribusi langit dalam menyelesaikan masalah manusia secara relevan. Tentunya alur tindakannya tidak serta merta Tuhan dalam sekejap menghilangkan beban masalah seperti sulap, melainkan dilakukan dalam metode kodrat kemanusiaan. Sebagaimana konsep ketika kita ditindas, kita harus melawan. Itu yang dapat manusia pahami.

Lewat buku ini Tan berusaha mengusung alur alternatif bahwa islam merupakan pendamping gerakan-gerakan sosial agar perubahan sosial diridhai oleh Tuhan. Sementara nabi adalah bentuk rupa komunikasi langit bumi yang menjadi martir gerakan sosialnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Buntu Literasi
Penulis: Nabil Hafiz