Resensi Buku Feminist Edges Qur’an “Tepi Feminis Al-Qur’an”

173
Buku
Foto oleh destiawan nur agustra dari Pexels Salin

Buku ini merupkan sebuah studi sekaligus kritik terhadap berbagai interpretasi feminis terhadap Al-Qur’an. Juga sebagai bahan menguji tantangan dinamisnya terhadap tradisi Islam dan pandangan Muslim kontemporer mengemnai Al-Qur’an.

Buku Feminist Edges Qur’an
Cover Buku Feminist Edges Qur’an

Menganalisa Bacaan Feminis Utama dalam Al-Qur’an

Aysha A. Hidayatullah memulai dengan menganalisa bacaan feminis utama Al-Qur’an oleh perempuan muslim yang diawali pada akhir  abad ke-20. Kemudian mensintesis konsep dan metode umum mereka dan menelusuri lintasan kolektif mereka sebagai kunci untuk mengembangkan bidang feminis tafsir (eksegenesis) yang baru lahir.

Pemeriksaanya dilakukan berdasarkan tafsir feminis dalam konteks sejarah, politiknya dan mengkaji karya-karyanya secara berdampingan untuk memperjelas metode penafsiran berulang yang merelaskan keduanya. Selain membantu pembaca memahami keseluruhan, Aysha A. Hidayatullah secara kritis menilai kebuntuan feminis dalam teks Al-Qur’an dan daya tarik bidang tersebut terhadap persamaan dan keadilan, menawarkan kritik radikal terhadap pendekatan feminis terhadap Al-Qur’an. Feminis Tepi Alquran merupakan karya teologi feminis Muslim yang memajukan percakapan tentang tafsir feminis dan mengajukan pertanyaan berani di “tepi” tafsir Alquran.

Baca juga, Helen Keller Simbol Komunikasi Efektif Guru dan Murid

Garis Besar Pembahasan dalam Buku Feminist Edges Qur’an

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian I bersi tentang Historis Munculnya Al-Qur’an Feminis. Bab ini dibagi kepada tiga sub bab yakni Sejarah Tafsir, Kerangka Feminisme, dan Hubungan dengan Teologi Feminis dan Negara. Secara ringkas sub bab Sejarah Tafsir ini menjelaskan latar belakang tentang sejarah tafsir Al-Qur’an dari kalsik hingga manifestasi modern dan kontemporernya.

Selain itu, juga menjelaskan perkembangan tradisi tafsir pramodern, Aysha merangkumnya ke dalam  cirri-ciri khasnya, mengidentifikasi tokoh-tokoh utamanya, dan mencatat secara kumulatif dari otoritasnya. Bersi kemunculan modernism Muslim  dan perkembangan tafsir modern, menjelaskan cirri-ciri khasnya yang mana menyangkut interpretasi rasional dan ijtihad atau penalaran independen.

Dalam bagian Sejarah Tafsir ini, Aysha memberikan perhatian khusus kepada karya Fazlur Rahman  yang secara spesifik mempengaruhi perkembangan tafsir feminis. Sub bab ini menjelaskan tantangan modern terhadap otoritas interpretative tradisional, menggambarkan pertumbuhan gerakan perempuan di dunia muslim juga membahas munculnya tafsir oleh perempuan di akhir abad ke-20.

Sub bab kedua mengenai Kerangka atau Bingkai Feminisme menjelaskan latar belakang mengenai relasi feminism dengan kolonialisme di dunia Islam dan seruannya dalam serangan terhadap Islam. Juga berisi mengenai tanggapan Muslim Modern dan kontemporer terhadap feminism. Aysha membicarakan kecocokan kata “feminis” sebagai sebuah penjelasan untuk karya-karya eksegesis yang dipelajari dalam buku ini dan mengenai kesulitan makna feminisme  yang sangat beragam dan dinilai kontradiktif. Di bagian juga dijelaskan mengenai dampak asosiasinya terhadap otoritas dan kredibilitas interpretasi perempuan terhadap Al-Qur’an.

Aysha berpandangan bahwa feminism dan sejarahnya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari interpretative yang ditelitinya. Ia mendeskripsikan keputusannya untuk menggunakan kata “Feminis” sebagi sebuah penjelasan untuk menandai partisipasi karya tersebut dalam kritik yan radikal terhadap superior laki-laki dan menghindari subtansi tentang perempuan muslim.

Sub bab ketiga , Hubungan dengan Teologi Feminis dan Negara mencoba menjelaskan hubungan antaragama yakni penafsiran Al-Qur’an  dengan teologi feminis Yahudi dan Kristen, mengamati bahwa hal tersebut menampilkan konsep dan argumen yang selalu mengingatkan mereka kepada apa yang telah dikembangkan oleh pemikir feminis Yahudi dan Kristen.

Dalam sub bab ini juga memberikan penjelasan sejarah singkat mengenai teologi feminis Yahudi dan Kristen, disertai dengan diskusi tentang ketegangan antara feminis Yahudi, Kristen, dan Muslim termasuk di dalamnya mengenai tokenisme karya non Kristen, keheningan tentang konflik dan dinamika kekuasaan, dan jalan buntu akibat dari kecenderungan feminis Muslim untuk menghubungkan pandangan patriarchal al-Qur’an dengan pengaruh alkitabiah dan perlakuan terhadap al-Qur’an sebagai firman Tuhan yang benar. Aysha  juga secara kritis menanggapi pertanyaan tentang kepentingan siapa yang dilayani  dengan membandingkan interpretasi al-Qur’an feminis dengan teologi feminis Yahudi dan Kristen.

Selayang Pandang mengenai Penulis

Aysha Hidayatullah merupakan seorang Associate Professor studi Islam. Beliau mengampu program sarjana tentang Islam, gender, ras dan etika. Dikutip dari www.usfca.edu, beliau menerima gelar MA dan Phd dalam Studi Keagamaan dari Univesitas California, Santa Barbara, dan gelar BA dalam studi Wanita dari Universitas Emory. Beliau mulai memgajar di Universitas San Fransisco pada tahun 2008.

Di website yang sama dijelaskan bahwa beliau mendalami minat penelitian yang meliputi eksegesis feminis Al-Qur’an, representasi perempuan dalam sejarah Islam awal, feminitas dan maskulinitas dalam tradisi Islam, metodologi feminis dalam studi Islam, imajinasi rasial Islam AS, wacana popular tentang wanita Muslim di Amerika Serikat.

Beliau merupakan salah satu pendiri dan ketua bersama unit program Islam, Gender, Wanita American Academy of Religion saat ini, sebuah tempat untuk mendukung refleksi tentang perkembangan bidang gender dan perempuan dalam Islam.

Beliau telah bekerja secara ekstensif pada sejumlah program yang menangani keragaman agama dan prasangka anti-Muslim dalam hubungannya dengan pengajaran. Saat ini beliau bertugas di tim kepemimpinan untuk lokakarya pedagogis tentang “Mengajar Melawan Islamofobia” yang bekerja sama dengan American Academy of Religion dan Pusat Pengajaran dan Pembelajaran Wabash dalam Teologi dan Agama.

Penulis: Rivani