Refleksi Ramadan: Memilah Pengetahuan di Masa Pandemi

376
Photo by Austin Distel on Unsplash

Oleh: Wendi Wijarwadi

Bencana Covid-19 yang datang tanpa permisi berhasil menggoyahkan tatanan sosial yang sudah berdiri kokoh selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Bencana Pandemi seperti memaksa banyak orang beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang harus dilakukan seperti cara orang berinteraksi, cara orang bekerja, cara orang belajar dan menggunakan teknologi.

Jika Yuval Noah Harari, dalam bukunya Homo Sapiens, menyebut manusia sebagai makhluk hidup yang paling adaptif di muka bumi, momentum bencana Covid-19 membuktikan sekali lagi bahwa manusia memang adaptif dengan perubahan, setidaknya dalam cara manusia belajar di era Covid-19. Ada perubahan besar yang terjadi di mana teknologi menjadi tumpuan utama sebagai medium pembelajaran

Kelas-Kelas Daring sebagai Kenormalan yang Baru

Satu istilah yang sering muncul dari diskusi tentang Covid-19 adalah New Normal, Kenormalan yang Baru. Maksudnya, wabah pandemi ini berhasil menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru yang perlahan menjadi kenormalan baru. Dunia Pendidikan adalah salah satu tatanan sosial yang mengalami fenomena the New Normal ini.

Beragam aturan sosial yang mengharuskan orang-orang berdiam diri di rumah mempercepat proses Kenormalan yang baru itu tercipta. Pembelajaran hari ini mulai bergeser ke arah Pendidikan virtual secara masif, sesuatu yang sulit terjadi dalam kondisi normal yang lama. Selain karena tuntutan keadaan, masyarakat juga membutuhkan kelas-kelas daring di tengah segala pembatasan sosial yang terjadi.

Meski tidak dikehendaki, Covid-19 berhasil ‘memaksa’ para insan pembelajar menggunakan teknologi secara masif. Berkahnya, di tengah Ramadan yang sunyi ini, kita disuguhi dengan aneka menu belajar yang berkualitas dari beragam disiplin keilmuan. Untuk sebagian kalangan, melimpah ruahnya peluang belajar adalah berkah di tengah bencana. Bahasa kerennya, Bless in Disguise.

Peluang Belajar yang Melimpah di Era Pandemi

Sejak era Pandemi, mengakses konten-konten belajar yang berkualitas jauh lebih mudah dari sebelumnya. Berbagai pihak seolah bahu membahu memberikan sajian pengetahuan terbaik untuk memastikan proses belajar tetap menggelora di tengah duka dan luka akibat pendemi.  Misalnya, sejak Maret 2019, Harvard dan MIT memberikan kursus-kursus berkualitas tinggi secara gratis.

Dua Kampus tersebut bersama kampus-kampus lainnya berkolaborasi memberikan Pendidikan kualitas dunia, melalui situs pembelajaran daring Edx.org.  Materi yang diajarkan pun beragam jenisnya mulai dari Komunikasi, Bisnis, Komputer dan Bahasa. Seorang kawan yang memanfaatkan fasilitas tersebut berseloroh bahwa dia sudah sah menjadi alumnus Harvard University  tanpa perlu berangkat langsung ke Cambridge, MA, tempat di mana kampus tersebut berasal

Di Indonesia, peluang-peluang tersebut juga sama melimpahnya. Webinar, Zoom Talk dan diskusi-diskusi virtual menjamur selama musim pandemi ini.  Untuk kalangan Pesantren, misalnya, para Kyai-kyai yang alim dan mumpuni di bidangnya mulai menggalakan pengajian rutin secara virtual.

Kita bisa dengan mudah mengikuti tausiyah dan belajar langsung dari para kyai tersebut langsung dari rumah. Hanya cukup mengikuti akun media sosial yang tersedia, pengajiannya virtual pun terjadi sesuai jadwal rutin yang disediakan.

Untuk seorang santri seperti saya, peluang ini adalah keberkahan yang luar biasa. Ramadan tahun ini memang terasa sunyi dan berbeda, tapi peluang untuk belajar justru melimpah ruah di tengah kesunyian yang ada.

Memilah Pengetahuan

Di tengah melimpahnya peluang tersebut, tantangannya justru adalah kemampuan memilah pengetahuan yang sesuai. Di sinilah kemampuan analisis seseorang dalam mencari informasi, memilah informasi, dan menggunakan informasi menjadi kunci dalam memanfaatkan pilihan pengetahuan yang tersedia.

Dalam bukunya, Learning in Adulthood, Sharan B. Merian, seorang professor dari University of Georgia, menyebutkan bahwa kunci keberhasilan sebuah pembelajaran daring adalah kemampuan seseorang untuk menentukan pengetahuan yang ingin diketahui (need to know), kesiapan seseorang untuk menerima pembelajaran (readiness to learn), dan kemampuan seseorang menghubungkan pengalaman yang dimiliki dengan pengetahuan yang akan dipelajari (role of experience).

Pembelajaran model daring merupakan perpaduan antara pembelajaran formal dan informal. Pembelajaran formal ditandai dengan adanya Kurikulum dan tenaga pengajar yang tersertifikasi, dan  informal ditandai dengan partisipasi dalam belajar yang bersifat sukarela, berjangka pendek, sedikit persyaratan untuk bisa mengikuti pembelajaran, dan seringkali berperan sebagai pelengkap dari pembelajaran formal.

Untuk kelas-kelas virtual yang berasal dari Lembaga formal baik itu kampus maupun lembaga pelatihan, persoalan memilah pengetahuan mungkin tidak sesulit kelas yang informal.  Kelas-kelas ini biasanya dilengkapi kurikulum dan silabus untuk membantu calon pembelajar menentukan kebutuhan dan kesesuain materi yang ingin dipelajari.

Pun untuk pengajian-pengajian virtual yang dilaksanakan oleh para kyai dan ustad, persoalan memilah ini tidak begitu menjadi persoalan. Para kyai tersebut biasanya secara rutin menggelar pengajian dengan menggunakan kitab kuning sebagai panduan pembelajaran.

Sebagaimana pendapat Merian di atas, tantangannya adalah terletak pada kesiapan belajar, termasuk di dalamnya komitmen untuk mengikuti pembelajaran secara tuntas. Artinya, seseorang siap mengikuti alur yang ditentukan kurikulum dari awal sampai akhir, maupun mengikuti pengajian kitab kuning dari bab pembuka maupun bab penutup

Untuk kelas-kelas daring yang bersifat informal dan tidak terstruktur, kemampuan analisa calon pembelajar menjadi sangat penting untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh, minimal tidak salah kaprah. Sudah menjadi rahasia umum jika pengetahuan dari dunia daring dan internet yang diterima begitu saja sering kali menimbulkan kesalahfahaman dan malah berujung petaka. Cerita klasik dari seorang sufi bernama Jalaludin Rumi tentang seekor gajah yang dimasukan ke dalam ruangan gelap menjadi contoh betapa pengetahuan yang tidak utuh itu berbahaya.

Menjadi Manusia Pembelajar

Wabah pandemi ini memberikan pelajaran penting untuk kita semua bahwa di tengah kondisi sesulit apapun, semangat untuk terus belajar harus tetap terjaga. Selain keinginan untuk terus belajar, seorang pembelajar juga harus dibekali dengan kemampuan berpikir analitis di tengah arus informasi dan arus pengetahuan yang datang nyaris setiap saat. Semoga peluang belajar yang melimpah ruah saat ini menjadi momentum untuk memperkuat dua hal tersebut, semangat untuk terus belajar dan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Wallahu A’lam 

Wendi Wijarwadi, S.Pd, M.Ed
(Penggiat Pengembangan SDM dan Alumni Faculty of Education and Human Development, University of Minnesota Twin Cities)