Refleksi Pandemi bersama Lara Tawa Nusantara

629
Pandemi
Photo by David Iskander on Unsplash

Tak ada seorangpun bersedia dilahirkan di tengah kondisi ambyar dengan wabah pandemi yang menjangkit seisi bumi. Corona memaksa manusia meninggalkan kerumunan dan menyisakan kesepian dari laju dunia yang serba tergesa-gesa. Memang, si, penyakit yang terekam jelas secara medis kerap kali terlihat jauh berbahaya ketimbang penyakit lain yang hanya tersublim dalam kokohnya struktur sosial.

Korupsi, oligarki, patriarki, nepotisme, keserakahan, perampasan dan berbagai malprkatik lain yang diproduksi dari kelaliman kekuasaan padahal adalah sama hal nya sebuah penyakit yang merundung kita sehari-hari. Tapi toh itu tidak pernah dianggap sebagai pandemi, padahal hampir manusia seisi bumi juga terjangkiti.

Tapi sudahlah. Tak baik terus menerus nyinyir di tengah dunia yang sedang getir. Nanti disangka kita tak punya rasa waspada dan empati pada sesama manusia.

Penyebaran Virus yang Sangat Cepat

Belakngan ini memang  bukan waktu  yang tepat untuk memunggungi berita wabah pandemi Corona. Penyebaran virusnya luar biasa cepat, saking cepatnya hampir seperti sebuah produk yang dicetak dari mesin dengan corak ekonomi yang kita takdzimi bersama: kapitalisme.

Percepatan persebaran virus dan lonjakan angka kematian dari satu negara ke negara lain kian meningkat, sementara teknologi membuat percepatan informasi mengenai wabah pandemi ini semakin sesak. Bukan saja menyerang fisik dengan imunitas yang lemah, lewat persebaran berita yang kalap, Virus Covid-19 juga membuat psikis kita semua cukup menderita.

Saya atau mungkin kita semua butuh rehat dari konsumsi informasi soal corona. Sama halnya seperti tubuh yang butuh istirahat dari kalutnya habitus dunia kiwari. Dunia yang penuh gegas, selalu memaksa cepat lekas dan tak mau tertanggung bekas.

Efek Stay At Home

Waktu rehat yang menyediakan kita pilihan dengan segala kesibukan biasa dijalani di luar, tetiba disulap bisa diatasi di dalam rumah. Meski memang kebijakan ini masih menyisakan ketidakjelasan untuk masyarakat menengah ke bawah, tapi karantina sudah semestinya diberlakukan demi menekan angka penyebaran pagebluk pandemi tidak lebih tinggi lagi.

Tempat publik ditutup untuk semantara hingga waktu yang belum jelas dipastikan: kampus, sekolah, pusat belanja, taman, pasar, kantor bahkan sampai rumah ibadah. Kerumunan yang terpusat kini terdistribusi pada lingkungan kecil di sudut perumahan. Di tengah masa karantina keramaian berganti dengan kesepian dan kerapkali memunculkan kebosanan.

Menyadur kekata Sang Penyair dalam “Pulang” nya Leila Chudori, kesepian bagi manusia yang terbiasa dengan keramaian, bisa jauh lebih membunuh ketimbang pandemi yang sedang menjangkit bumi.

Paradoks teknologi

Paradoks teknologi kini semakin terlihat: selain bisa melipat jarak yang membuat pandemi mudah tersebar dari satu wilayah ke wilayah lain, teknologi juga membuat semesta ini telah berkembang pesat dengan menghadirkan keramaian yang sama di tengah ringkusan sepinya karantina.

Namun itu semua tidak bisa diterima begitu saja, sebab kebosanan adalah hal lain yang kerap tak lekang untuk ditanggalkan baik dalam keramaian hari biasa atau pun kesepian di masa karantina.

Lara Tawa Nusantara

Lara Tawa Nusantara” adalah salah satu buku yang tetiba saya ambil dari rak untuk mengisi waktu di tengah masa karantina yang membosankan. Pada intinya saya memang ingin bercerita tentang buku ini, bukan soal pandemi.

Celoteh sebelumnya memang pembuka yang cukup bertele-tele. Tapi bukankah itu mengisi waktu bosanmu? Ya, setidaknya dengan membaca beberapa paragraf, meski isinya sangat tidak penting. Tapi bukanya kebosanan memang kerap memacu kita untuk melakukan hal yang tidak penting?

Ah, sudahlah. Mari kita menuju belantara buku Fatris yang cukup tebal.

Karya ini ditulis oleh Fatris MF. Ia merupakan seorang reporter media di Padang, Sumatera Barat dan pelancong yang tidak luput meninggalkan catatan dari satu tempat ke tempat lain yang pernah disinggahi.

Sementara buku ini adalah sekumpulan reportasenya sepanjang tahun 2015 sampai 2017, dari pedalaman Kalimantan dan Sulawesi hingga lingkaran terluar di Nusa Tenggara dan ujung Sumatera.

Kisah yang disampaikan Lewat Karya

Lewat bukunya, Fatris ingin mengisahkan sebuah kehidupan dari mereka yang terpinggirkan: baik itu di kota, pedalaman maupun pesisiran.

Fatris tidak hanya menulis apa yang dijumpai oleh mata telanjang, ia juga mampu menggali kisah lampau dari berbagai referensi otoritatif soal sejarah dan budaya di wilayah yang ia singgahi.

Alfred Russel Wallace, Tomi Pires, F.C Wilson, Albert Smith, Marcopolo dan nama lain di sekitar latar kolonial adalah bentuk konteks sejarah yang membuat catatan perjalananya hidup. Sementara tambahan gambar dari setiap bab perjalanannya semakin menghidupkan cerita.

Meskipun tebal sampai 340 halaman, buku bersampul hijau ini tidak terasa memakan waktu untuk dilahap. Pemilihan diksi yang ringan, penjabaran ringkas dari istilah lokal dan pertanyaan menggelitik dari setiap harapan masyarakat, menjadi pembawaan yang kental dari Fatris. Seolah tak bisa dilepaskan sepanjang pengisahan dari bab awal sampai ke babak akhir.

Borneo Sebagai Pembuka

Ia membuka catatan lewat borneo. Pulau terbesar dari lima pulau besar di bumi pertiwi ini menyimpan kisah pilu dari penyulapan hutan yang memelihara berbagai jenis tumbuhan menjadi perkebunan yang merawat satu jenis tanaman saja.

Sawit terjejer sepanjang jalan jalan Kalimantan yang sepi. Masa kejayaan perkebunan yang agung telah dimulai kembali setelah pemerintahan kolonial hengkang dari Nusantara.

Di balik hutan yang dibabat dengan digantikan perkebunan sawit, terdapat manusia suku pedalaman yang menggantungkan hidup pada hutan. Di sana ia temui manusia dengan nama-nama seperti Kakap, Arab, Mesin, Ponten atau Beradu.

Mereka merupakan masyarakat yang memilih untuk melindungi hutan meski menggadaikan tanah terkadang lebih menggiurkan. Adat setempat macam Tarian Kematian atau Badik yang menjadi senjata tradisional dijumpai Fatrsi dengan mata telanjang.

Masih ada lagi cerita Fatris di pedalaman dengan latar dataran tinggi: Toraja di Sulawesi dan pedalaman Bukti Tinggi di bagian barat Sumatera. Sementara di pesisiran, Fatris mengisahkan banyak tempat.

Ia bercerita kunjungannya di Barus yang menyimpan sejarah gemilangnya komoditas Nusantara masa silam (kapur Barus), mengisahkan panasnya cuaca di ujung sumatera paling utara atau menyisir tipis Bersama masyarakat Nusa Tenggara.

Kisah dari Pesisir Selatan Sulawesi

Dari banyak kisah perjalanan yang ditulis, saya paling menyukai pengisahan Fatris soal masyarakat Bugis di pesisir selatan Sulawesi. Dari sanalah lahir slogan ‘Nenek moyang kita adalah seorang pelaut’ dan Kapal Pinisi yang melegenda.

Ada perdebatan makna mengenai Kapal Pinisi untuk sebagian nelayan bugis. Mereka tak mau menyebut dirinya sebagai sisa masa lalu, mereka adalah pelanjut. Namun di sisi lain, ada pula nelayan bugis yang menganggap pinisi sudah tidak lagi ada. Perbedaan pandangan ini memotret kuatnya karakter dari masyarakat bugis sendiri.

Menceritakan ulang sebuah cerita yang dianggit dari catatan perjalanan, sudah pasti tidak akan menjadi hal mudah. Tapi bacaan seperti ini adalah salah satu jenis yang saya gemari untuk disimak.

Bukan hanya akan menemukan pendekatan geografis seperti saya gemari sejak sekolah dasar lewat atlas, catatan perjalanan lebih menghidupkan imjinasi dengan menghadirkan pendekatan etnografis, menghidupkan konteks sosial lewat tokoh masyarkat dan pastinya memperkaya kearifan budaya lokal.

Pertanyaan Penulis dan Pembaca

Bagi saya buku ini bukan semata catatan perjalanan, tetapi mungkin sebuah pertanyaan. Betul. Sebuah kumpulan pertanyaan Fatris kepada masyarakat setempat selama perjalanan.

Namun pertanyaan tak sempat atau tak cukup berani untuk diajukan. Sementara kumpulan reportasenya bisa jadi hanya usaha untuk menghadirkan konteks agar pertanyaanya cukup bisa dicerna oleh kita semua. Seperti pertanyaan ini yang ia ajukan di pertengahan babak :

“Di Indonesia yang luas ini, hampir tiap garis pantai adalah wisata. Apa-apa wisata. Sedemikian butuhkah masyarakat kita yang melarat ini untuk berwisata?”

Penulis: Ali Nur Alizen