Rahasia Kesehatan dibalik Waktu dan Shalat Subuh

89
Photo by Rizki Yulian on Unsplash

Sudah menjadi kebiasan banyak orang untuk lebih memilih terlelap dalam mimpinya dibandingkan harus bangun dan menikmati keindahan diwaktu subuh. Padahal waktu subuh adalah waktu yang banyak menyimpan manfaat mulai dari ruhiyyah, nafsiyyah hingga badaniyyah.

Waktu subuh juga menjadi parameter kehidupan seseorang dalam menjalankan aktivitas hariannya, karena waktu subuh adalah waktu dimana adanya satu gas ozon yang mengandung peresentase oksigen paling tinggi dan ia akan berkurang seiring terbitnya Matahari.

Baca juga: Pengabdian Santri Di Negeri 360 Hari

Banyak dalil yang menyinggung tentang waktu dan keutamaan shalat subuh. Salah satunya adalah Sahabat Abu Hurairah R.A yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam bersabda “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang tersembunyi dalam adzan dan shaf pertama, maka mereka tidak akan mendapatkan bagian kecuali dengan jalan diundi didalamnya, niscaya mereka akan ikut serta dalam undian (banyaknya yang berbondong – bondong guna mendapatkan shaf pertama)”.

“Dan jika mereka mengetahui apa yang didapatkan dalam awal kedatangan (shalat jam’ah), niscaya akan berlomba – lomba. Dan, mereka akan mengetahui apa yang tersimpan di dalam shalat Subuh dan Isya, maka mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak,” (H.R. Bukhori). Memang begitu istimewa shalat wajib pembuka hari ini.

Bahkan shalat Sunnah yang menyertainya juga mendapat porsi yang tak kalah istimewanya. Aisyah R.A Meriwayatkan “dua rakaat fajar (Qobliyyah Subuh) lebih baik dari dunia seisinya” (H.R Muslim). Shalat Sunnah nya saja lebih baik dari dunia seisinya, lalu bagaimana dengan shalat wajib itu sendiri? Sungguh tak terbayangkan keutamaanya! Namun sayang, orang–orang acap kali melalaikan ibadah yang satu ini.

Penelitian Secara Medis

Secara medis shalat Subuh memiliki kaitan erat dengan Tahajud dan Kortisol. Hal ini semacam paket untuk mendapatkan kesehatan, mengingat ibadah wajib ini tepat berada dipenghujung sepertiga malam terakhir. Menurut ilmu kesehatan, sholat subuh juga mampu mengurangi kecendrungan terjadinya Kardiovaskular (system jantung dan pembuluh darah).

Dalam buku Super Health, terdapat studi penelitian MILIS, studi GISSI 2 dan studi – studi lain di luar negeri, yang dipercaya oleh sebagai suatu penelitian yang valid, yang dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagaian besar dimulai pada pukul 06:00 sampai 12:00. Mengapa demikian? Sebab, pada waktu itu sudah terjadi perubahan pada syaraf simpatis dan penurunan tegangan syaraf prasimpatis. darah meningkat, denyut jantung lebih kuat dan setrusnya. Sebaliknya, syaraf prasimpatis berperan dalam penurunan tekanan darah, pengurangan denyut jantung dan seterusnya.

Ibaratnya, saat kita menghadapi bahaya atau sebuah tantangan, saat itulah syaraf simpatis berperan sangat dominan. Sementara, perut yang kenyang, tempat tidur atau tempat duduk yang nyaman, disertai perasaan rileks, maka sangat jelas syaraf parasimpatislah yang mengambil alih peran dalam tubuh kita.

Pada pergantian waktu dipagi yang buta (sekitar 03:00 dini hari) sampai siang itulah secara perlahan tekanan darah berangsur naik, sebab terjadi peningkatan adrenalin. Peningkatan adrenalin berefek meningkatkan tekanan darah dan menyempitnya pembuluh darah (efek vasokontriksi) disertai meningkatnya sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sama lain pada sel trmbosit agar darah membeku) yang pada akhirnya meningkatkan resiko gangguan pada system Kardiovaskular.

Semuanya ini terjadi walaupun kita tertidur. Unik bukan?

“Hal ini terjadi pada semua manusia ,setiap hari termasuk anda, dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut dengan Ritme Circardian, ritme sehari – hari ,yang secara kodrati diberikan tuhan kepada manusia” begitulah kata Dr. Barita Sitompul Sp.JP

Lantas, apa hubunganya dengan shalat Subuh?

Diawali oleh Furchgott dan Zawadsky, (1980) melakukan penelitian dengan mengeluarkan sekelompok sel sebelah dalam dari dinding pembuluh darah arteri yang diselidikinya. Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu : asetilkolin.

Pada penelitian tersebut telah terjadi keanehan, dengan dikeluarkanya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu. Pembuluh tadi tidak melebar jika ditetesi asetilkolin. Penemuan ini tentunya menggemparkan dunia kedokteran dan segera diikuti penelitian yang lain di seluruh dunia kedokteran untuk mengetahui zat apa yang terkandung di dalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan atau melebarkan pembuluh darah tersebut.

Akhirnya, zat tersebut ditemukan oleh Ignarro-Murad, dan disebut Nitrik Oksida. Diketahui pula Nitrik Oksida juga berperan menjegah kecendruran membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi atau sifat menempel pada satu sama lain dari trombosit pada darah kita. Inilah zat yang mampu menstabilkan efek adrenalin pada system Kardiovaskular.

Pertanyaanya adalah kapan zat nitrik oksida diproduksi? Zat Nitrik Oksida selalu diproduksi, baik dalam keadaan istirahat ataupun tidur. Produksinya dapat ditingkatkan oleh obat golongan nifedipin, nitrat, atau yang sejenisnya. Zat Nitrik Oksida juga dapat ditingkatkan dengan cara kita berolahraga.

Jadi, kalau kita bangun tidur pagi hari yang buta dan melakukan peregangan atau olah raga ringan, maka hal ini akan memberi pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular. Naiknya kadar Nitrik Oksida dalam darah karena exercise yaitu wudlu, diikuti shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke Masjid, merupakan preservasi bagi pencegahan Kardiovaskular.

Selain itu, patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejang, posisi ini meningkatkan kekuatan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Tonus sendiri adalah kontraksi yang terus dipertahankan oleh otot.

Demikian kekuasaan Allah Subhanahuwataa’la, ciptaanya yang selalu berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, Nitrik Oksida– Anti Nitrik Oksida. Sudah sejak awal islam datang menggemakan shalat Subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini sebab, tingkat pengetahuan manusia belum sampai dan harus mencarinya sendiri walau harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat tanda kasih-Nya pada hamba-Nya.

Mukhammad Khasan Sumarhadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)