Rahasia Hidup Bahagia Masyarakat Hindu di Bali

401
Foto oleh VisionPic .net dari Pexels

Banyak jalan menuju Roma. Salah satu ungkapan yang menggambarkan banyaknya jalan yang bisa kita tempuh untuk mencapai tujuan, termasuk bagaimana masyarakat Hindu di Bali agar Hidup bahagia.

Ungkapan yang sekaligus mengajarkan kita bahwa dalam kehidupan harus selalui memiliki perspektif yang lain guna mencapai visi yang dicitakan. Termasuk untuk mencapai kebahagiaan, banyak jalan yang bisa kita tempuh.

Meraih Kebahagiaan

Bagi sebagian orang, kebahagiaan itu akan datang jika kita banyak bersyukur. Rajin mengunjungi tempat suci. Senantiasa melakukan sujud kepada sang Pencipta.

Berserah diri  dan memohon ampunan-Nya. Bagi kelompok ini, kebahagiaan itu akan datang jika semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kelompok lain memiliki pemikiran yang berbeda. Bagi kelompok masyarakat ini, kebahagiaan ini akan datang jika kita menjadi manusia yang berperikemanusiaan.

Manusia yang mampu menghargai manusia yang lain. Manusia yang mampu hidup berdampingan dengan manusia yang lain.

Bukan menjadi kelompok manusia yang ekslusif dan membedakan diri dari manusia lainya. Mau berbagi dengan orang lain sebagai mahluk sosial.

Masyarakat Hindu di Bali

Bagaimana masyarakat Hindu di Bali melihat fenomena tentang jalan yang bisa ditempuh untuk menuju kebahagiaan?

Masyarakat Hindu di Bali memiliki konsep spiritual yang menjadi solusi sekaligus menjadi falsafah hidup yang sejak turun temurun diterapkan sehingga menjadikan Bali sebagai sebuah pulau yang seimbang dan menarik bagi masayarakat dunia.

Falsafah hidup yang digunakan sebagai acuan masyarakat Hindu di Bali untuk mencapai kebahagiaan disebut Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana diambil dari bahasa Sansekerta. Tri berarti tiga. Hita berarti kebahagiaan atau kesejahteraan dan Karana berarti penyebab.

Jadi dapat diartikan bahwa Tri Hita Karana adalah tiga penyebab atau yang mengakibatkan kehidupan manusia menjadi bahagia atau sejahtera. Tri Hita Karana terdiri atas tiga bagian, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan.

Parahyangan diartikan sebagai hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan. Hubungan vertikal dan bersipat sangat personal. Bentuk pelaksannnya beragam, salah satunya dengan menerapkan ajaran suci agama secara baik.

Pawongan diartikan sebagai hubungan yang harmonis antarsesama manusia. Hubungan yang sifatnya horisontal dan sebagai implementasi manusia sebagai mahluk sosial. Hubungan yang selaras tersebut dapat diwujudkan dalam hubungan dalam keluarga, hubungan dalam persahabatan, dan hubungan dalam pekerjaan.

Menjaga hubungan baik dengan tetangga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep pawongan  itu sendiri memiliki konsep turunan berupa menyama braya, paras paros, dan sagilig sagulug sabayntaka.

Palemahan dijelaskan hubungan antara manusia dengan lingkungan atau alam. Manusia Hindu di Bali diharapkan selalu menjaga hubungan baik dengan alam atau lingkungan. Masyarakat diharuskan menjaga kelestarian dan keseimbangan alam.

Konsep palemahan mengajarkan bahwa kehidupan manusia merupakan bagian dari alam sehingga jika alam rusak maka kehidupan manusia juga akan terganggu.

Implementasi Tri Hita Karana

Ketiga bagian Tri Hita Karana adalah rahasia terciptanya kebahagiaan masayarakat Bali. Terciptanya masyarakat yang religius dengan pelaksanaan Parahayangan Menjadikan masyarakat yang menjalankan ajaran Hindu dan upacara secara baik.

Pawongan  menjadikan masyarakat Bali sebagai masyarakat yang memegang teguh adat dan kebersamaan.

Kemudian penerapan Palemahan  menjadikan masyarakat Bali sebagai masyarakat yang berusaha selalu menjaga alamnya dengan berbagai simbol dan upacara yang dikaitkan dengan lingkungan dan mahluk ciptaan-Nya.

Falsafah Tri Hita Karana yang diterapkan secara konsisten akan mewujudkan keseimbangan dan keselarasan hidup. Pelaksanaannya harus seimbang dan selaras antara parahayangan, pawongan, dan palemahan.

Ini adalah kunci kebahagiaan yang sudah diterapkan oleh masyarakat Hindu di Bali. Menjaga hubungan dengn Sang Pencipta dengan tetap harmonis dengan semua mahluk ciptaan-Nya.

Penulis: Wayan Pariawan