Upaya Menjaga Keseimbangan Alam

637
Pixabay

Oleh: Ahmad Munir
(Aktivis Sosial dan Pengelola idnsure.id)

Wabah Covid-19 untuk kebanyakan orang menjadi malapetaka. Wabah ini telah merenggut ribuan nyawa, sebagian dalam proses perawatan, dan sebagian lainnya dalam pengawasan. Tapi, bagi kita yang beriman, kita meyakini Allah SWT telah menentukan takdir manusia, jadi baik buruknya suatu keadaan telah ditentukan oleh Allah SWT. Tentu, kita juga bersepakat bahwa tidak ada kejadian di alam semesta ini, yang lepas dari Qodho dan Qodar-nya Allah SWT.

Lantas, apa kita berdiam diri dalam menghadapi wabah Covid-19? Kita tidak berdiam diri tentunya, manusia menggunakan olah pikirnya untuk memahami benar kejadian di alam ini, termasuk kejadian wabah Covid-19 yang melanda manusia, selanjunya ikhtiar manusia diupayakan untuk menghadapi kondisi ini.

Alam memberikan pengajaran dengan hukum sebab ada akibat. Sehingga tiap sebab akan menimbulkan akibat, inilah kodrat yang sudah ditentukan. Manusia hanya dituntut untuk tidak melawan hukum alam. Masalahnya, apakah manusia yang membuat sebab, sehingga alam semakin baik atau justru malah sebaliknya, ulah manusia mempercepat kerusaknya? Ulasan ini memperhatikan hal itu.

Kedudukan Puasa Perspektif Lingkungan

Saya memandang syariat (ibadah) puasa menunjukkan kebenaran ajaran agama Islam. Wajar saja Allah SWT sampai menegaskan bahwa agama Islam telah disempurnakan, melalui ayat “… al-yauma akmaltu lakum dinakum, wa atmamtu ‘ailaikum ni’mati wa radhitu, lakumul-islama dina(n)…” (QS. Al-Maidah: 3), yang oleh KH. Bahaudin Nursalim (Gus Baha) dijelaskan dalam salah satu ceramahnya, lebih sebagai kesempurnaan bagi syariat Islam itu sendiri.

Syariat puasa mengandung makna universal bagi alam semesta, dan makna yang esensial bagi manusia yang menjalankannnya. Apalagi menjalankan ibadah puasa, sambil di rumah saja, dalam rangka ikhtiar mencegah Covid-19. Tentulah ada makna yang lebih mendalam dari esensi puasa yang kita laksanakan.

Puasa jelas sekali kedudukannya, pertama, ada hukum keseimbangan dalam siklus waktu, revolusi bumi terhadap matahari, atau revolusi bulan terhadap bumi, yang membutuhkan masa satu tahun ini. Puasa wajib ini dijalankan dalam bulan suci Ramadhan selama satu bulan penuh, yang secara esensial menjelaskan siklus waktu. Manusia yang menjalankan ibadah puasa dijanjikan balasan berlipat. Sesungguhnya ada makna apa, hingga ada penegasan berlipatnya balasan? Allah SWT merahasiakan itu semua, yang jelas sebagai orang yang beriman, tentu kita meyakini ada manfaat bagi manusia itu sendiri.

Kedua, puasa memberi definisi bahwa organ tubuh manusia, yang bekerja linier dalam pengertian sepanjang tahun seluruh organ bekerja dibawah alam sadarnya, kini dengan berpuasa organ tubuh kita diberi jeda, dan memang organ memerlukan jeda tiap siklusnya, untuk menemukan penyegaran. Maka wajar syariat Islam lagi-lagi menegaskan “berpuasalah maka, kamu sehat” adalah makna siklik, makna yang menegaskan bahwa tubuh manusia juga butuh jeda atau istirahat. Lagi-lagi ibadah puasa dalam makna lingkungan sangat dalam dalam esensi bagi tubuh manusia itu sendiri.

Lalu bagaimana memaknai puasa yang diharuskan oleh ulil amri untuk di rumah saja, ditengah Wabah Covid-19 ini? Tentu kita bisa kaji secara sederhana dalam berbagai perspektif. Taruhlah dalam perspektif penghematan sumber daya alam (SDA), di rumah saja bermakna mobilitas dan sumber daya alam yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan kita berkurang, dan menurunkan eksploitasi SDA. Dampaknya cadangan SDA untuk anak cucu mendatang lebih terjamin. Bumi dipaksa jeda dari aktivitasnya yang eksploitatif dan bumi diberi kesempatan menyeimbangkan diri. Esensi ini dapat kita maknai pada puasa di rumah saja ini.

Di samping itu, di rumah saja juga memberi perspektif baru, persoalan yang sebenarnya dihadapi manusia, untuk memenuhi hajat hidupnya tersedia dalam ruang lingkup keluarga. Agama begitu mengajarkan pada kita untuk membina keluarga sakinah mawadah warrahmah. Aplikasinya dalam kehidupan modern dengan pandangan materialisme tinggi, membuat orang semakin berjarak dengan orang-orang penting di sekitarnya (ayah, ibu, anak, kakak, adik dsb). Ini adalah bukti, wabah Covid-19 juga mendatangkan perspektif baru dalam beragama, rumah menjadi sentrum aktivitas yang berarti menghemat SDA, juga menjadi tempat ibadah, tempat mencurahkan segala aktivitas, yang bersifat transendental juga horizontal.

Prinsip Utama Mencegah Kerusakan

Penanaman nilai-nilai kelingkungan dirasa sangat penting dalam menjaga alam dan lingkungan dari percepatan kerusakan. Tidak dapat dipungkiri, aktivitas manusia kian intensif dalam rangka menunjang kebutuhan hidup, baik pangan, sandang, papan atau kebutuhan lainnya berdampak pada laju kerusakan lingkungan. Ini ditandai dengan banyaknya kejadian bencana. Jika tidak diimbangi dengan penanaman nilai-nilai lingkungan pada sisi manusianya, dihawatirkan kerusakan lingkungan kian masif. Sederhananya, saat ini tidak ada aktivitas manusia yang pada akhirnya tidak mengeksploitasi sumber daya alam.

Lalu, apakah kerusakan lingkungan yang demikian cepat dapat kita cegah? Kerusakan lingkungan yang demikian cepat, berbanding lurus dengan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia, juga berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan manusia. Jika kebutuhan-kebutuhan itu dapat kita perkecil, maka kerusakan lingkungan akan dapat diperlambat.

Kita pada akhirnya dituntut untuk memahami qodho dan qodarnya Allah SWT. Wabah Covid-19 adalah takdir yang harus dihadapi dengan ikhtiar. Puasa secara esensial mengajarkan kita menahan apapun yang mempercepat kerusakan lingkungan, dan berdiam dirumah mengajarkan kita makna menghargai makna hidup dengan orang orang terdekat, dengan kemampuan dan daya tahan yang dimiliki. Ini memberi manfaat pada keseimbangan alam. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah puasa kita secara esensial.