Provokasi, Tanggapi Dengan Bijak

173
Provokasi, Tanggapi Dengan Bijak
Photo by camilo jimenez on Unsplash

Beberapa waktu yang lalu ramai diperbincangkan diberbagai media masa terkait penangkapan seorang youtuber oleh Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama dalam salah satu unggahannya. Konten yang diunggah oleh youtuber tersebut menjadi polemik dan mengandung unsur provokasi karena dirasa menyinggung Nabi Muhammad SAW dan kitab kuning.

Berbagai kecamanpun muncul dari umat muslim sebagai reaksi atas ketidak sepakatan mereka terhadap pernyataan youtuber tersebut. Interpretasi Ayat yang disampaikannya sangat tidak berdasar dan cenderung asal sehingga justru merusak maksud ayat suci Al-quran.

Kenapa Hal itu Bisa Terjadi?

Kita meyakini bahwa Al-Quran merupakan kalam suci yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk kehidupan.

Akan tetapi dengan segala limitasi pengetahuan manusia awam maka konsekuensi logisnya adalah kita butuh pendapat-pendapat para ulama sebagai guidance dalam  memahami maksud ayat Al-Quran diturunkan.

Baca juga: Optimisme Membangun Solidaritas di Tengah Pandemi

Selanjutnya, Al-Quran sebagai sumber pedoman tentunya memiliki beberapa tools agar tidak tersesat dalam memahami maksud ayat yang diturunkan. Seperti ilmu tafsir, ilmu nahwu shorof, ilmu qiroat dan lain sebagainya.

Dan keilmuan tersebut tidak akan kita temukan dalam Al-quran kecuali melalui pendekatan berbasis pendapat para ulama yang telah dikodifikasikan dalam berbagai judul keilmuan atau yang biasa kita sebut dengan istilah kitab kuning.

Bagaimana Cara Kita Menanggapi Provokasi Dari Unggahan Tersebut?

Jika kita teliti, apa yang ada dalam konten youtuber tersebut syarat dengan tindakan provokasi yang dapat memecah belah umat muslim. Sedangkan dari kacamata fiqih provokasi lebih identik dengan istilah namimah.

Al-Quran jelas mengecam perbuatan namimah

وَلاَ تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَّهِيْنٍ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menebar fitnah (QS. Al-Qalam, 10-11).

Imam Ghazali memberikan beberapa tips untuk menghadapi provokator.
Pertama, apapun yang dikatakan oleh provokator jangan sekali-kali kita membenarkannya.

Kedua, berilah nasihat kepadanya untuk mengakhiri perilakunya dengan memberi tahu efek buruk dari perbuatan provokasi.

Ketiga, janganlah kita mendukungnya, karena Allah membenci perbuatan itu.

Keempat, mari verifikasi terlebih daluhu kebenaran yang dibawanya.

Kelima, jangan sampai ikut menyebarkan provokasi yang diusungnya. Keenam, jangan mengikuti untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang diucapkannya. (Ihya’ Ulumuddin, III/165).

Penulis: Umam Annahar