Produktivitas Santri di Pesantren saat Pandemi

441
pesantren
Sumber Foto Kompasiana.com

Keberadaan pondok pesantren sudah ada sejak sebelum Indonesia lahir. Selama itu pula santri telah mewarnai dan memberikan kontribusi besar untuk negara. Peran santri dalam menyongsong kemajuan bangsa tidak hanya sampai di situ, tetapi santri tetap eksis dan aktif berkontribusi untuk memajukan bangsa Indonesia sampai saat ini.

Bahkan, sekarang ini pesantren dinilai sebagai lembaga pendidikan paling efektif dalam usaha mencegah terjadinya degradasi moral para penerus bangsa. Para santri sangat ditekankan untuk selalu menjaga etika mereka di mana pun dan kapan pun. Mengasihi orang yang lebih muda serta menghormati orang yang lebih tua terutama para guru dan para kiai mereka.

Inovasi Pesantren saat Pandemi

Saat ini, kondisi masyarakat  Indonesia sangat memprihatinkan. Musibah pandemi melanda hampir seluruh negara di dunia. Berbagai protokol kesehatan diterapkan untuk mencegah penyebaran korona virus. Namun, hal tersebut tentu tidak menjadi penghalang bagi para santri untuk terus mencari ilmu di pondok pesantren.

Sejatinya di masa pandemi seperti sekarang ini, kegiatan belajar para santri hampir sama dengan para pelajar umum lainnya. Tidak semua santri yang sebenarnya masih tinggal di pondok pesantren dapat kembali menetap di pondok pesantren untuk melanjutkan usaha mereka dalam mencari ilmu. Saat ini, dunia telah memasuki era disrupsi yang dipercepat oleh munculnya koronavirus sejak beberapa bulan terakhir.

Munculnya istilah pesantren virtual yang semakin marak semenjak social distancing diberlakukan sebagai salah satu bentuk dari protokol kesehatan yang menganjurkan masyarakat untuk tetap berada di rumah. Hal ini meyebabkan terbentuknya dua kelompok santri di dalam pondok pesantren, yaitu santri yang sudah berada di pondok pesantren dan santri yang masih berada di rumah mereka masing- masing.

Kondisi tersebut secara tidak langsung tentunya mendorong pihak pesantren untuk segera membuat alternatif yang tepat untuk kedua kelompok santri agar pandemi ini tidak menjadi penghalang meraka dalam mencari ilmu.

Alternatif  yang diberikan  oleh pesantren  untuk  para santri  yang masih  berada di rumah sama dengan alternatif belajar yang pelajar umum lainnya gunakan. Media dalam jaringan (Daring) masih menjadi solusi yang efektif digunakan dalam sistem pembelajaran jarak jauh.

Walaupun kegiatan pembelajaran dilakukan secara online, para santri tetap diwajibkan untuk menjaga etika belajar, seperti mendengarkan penjelasan kiai dengan posisi duduk yang benar

dan juga memakai pakaian rapi sebagaimana pakaian yang seharusnya dipakai ketika sedang mengaji.

Cara Belajar Santri yang Unik dan Sedikit Berbeda

Cara belajar santri yang unik dan sedikit berbeda dengan pelajar pada umumnya dapat merujuk pada pendapat KH. Muhammad Ishom Hadziq, salah satu cucu KH. Hasyim Asy’ari. Menerut beliau, setidaknya ada tiga cara santri belajar.

Yang pertama, thalabul ilmi bil kasbi, diartikan dengan usaha-usaha yang kasat mata, seperti mengahafal. Kedua, tholabul ilmi bil kashfi, diartikan dengan usaha-usaha yang bersifat batin, seperti berdoa. Ketiga, tholabul ilmi bil ta’zimi ustadzi, diartikan dengan selalu hormat kepada guru di mana pun dan kapan pun. ketiga makna itulah yang menjadi ciri khas para santri dalam menuntut ilmu.

Santri diwajibkan untuk selalu menjaga etika belajar dan sopan santun kepada guru, baik ketika kegiatan belajar dilaksanakan secara online atau bertatap muka langsung dengan guru. Hal itu dilakukan oleh para santri demi mendapatkan keberkahan dalam mencari ilmu. Karakteristik belajar santri juga sering merujuk pada kitab  ta’lim muta’alim karya Syekh Az-Zarnuji.

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa syarat mendapatkan ilmu itu ada enam macam, yaitu kecerdasan,  semangat,  modal,  kesabaran,  guru,  dan  waktu  yang  lama.  Secara  spesifik, keenam syarat tersebut tidak hanya menjadi syarat menuntut ilmu yang terkenal di kalangan santri. Namun, siapapun  yang berstatus sebagai pelajar, enam hal tersebut adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk bisa mendapatkan ilmu.

Pesantren Memberikan Solusi Terbaik kepada para Santri

Jika kita lihat secara keseluruhan, sudah banyak pondok pesantren yang dapat kembali meneruskan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka langsung antara murid dan guru. Protokol kesehatan tetap menjadi indikator penting yang sangat diperhatikan oleh santri yang sudah kembali ke pondok pesantren.

Pesantren dengan pelbagai usahanya mencoba untuk memberikan solusi terbaik kepada para santri dan juga masyarakat. Santri dituntut untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, melindungi para kiai, menerapkan budaya-budaya baru yang sesuai dengan protokol kesehatan dan tidak bertentangan dengan syariat.

Santri harus berusaha agar bisa menjadi garda terdepan guna memberikan contoh kepada masyarakat dalam upaya pencegahan penyebaran koronavirus. Para santri diwajibkan untuk selalu  menggunakan  masker dan face shield selama mengaji. Selain bertujuan untuk mencegah penyebaran koronavirus, hal tersebut tentunya juga bertujuan untuk memberikan contoh kepada masyarakat agar selalu memaatuhi protokol kesehatan selama kita beraktivitas.

Santri juga dihimbau agar selalu menjaga jarak selama proses pembelajaran. Terutama ketika mereka mengaji dengan model pengajaran maju satu demi satu ke hadapan para  kiai. Hal itu dilakukan demi menjaga keselamatan baik di kalangan sesama santri maupun kesalamatan keluarga kiai.

Tak lupa, pesantren juga membatasi para santri dalam kebebasannya untuk keluar asrama. Mereka hanya diperbolehkan untuk keluar dari asrama ketika mengaji atau mempunyai hal-hal penting yang sangat mendesak. Pengecekan suhu dan penyemprotan hand sanitizer pada setiap tangan santri ketika hendak keluar atau masuk ke dalam asrama juga adalah hal rutin yang dilakukan oleh pondok pesantren.

Hal-hal tersebut merupakan suatu gambaran mengenai alternatif yang dilakukan oleh pesantren-pesantren di Indonesia untuk mencegah penyebaran koronavirus di kalangan santri dan masyarakat sekitar.

Walau Pandemi Santri tetap Ta’dzim pada Kiai

Terdapat beberapa kebiasaan santri yang tentunya sering mereka lakukan, tetapi harus diubah untuk sementara waktu. Salah satunya adalah mencium tangan para kiai yang diganti dengan berjabat tangan bil qolbi atau jabat tangan menggunakan hati. Mencium tangan kiai adalah hal yang sangat umum dilakukan oleh para santri dalam rangka tabarruk atau mencari berkah kiai.

Maksud dari jabat tangan bil qolbi tersebut adalah jabat tangan yang dilakukan tanpa saling bersentuhan tangan, melainkan meletakkan tangan di dada saat berhadapan dengan kiai atau pengasuh pondok pesantren. Dengan demikian protokol kesehatan dapat diterapkan dengan baik tanpa mengurangi rasa hormat kepada kiai.

Namun, walaupun tidak dapat mencium tangan kiai, musibah pandemi ini tidak menghalangi para santri untuk terus bersekolah dan mengaji. Adalah salah jika pandemi ini menjadi alasan para penerus bangsa untuk tidak belajar. Karena, dengan belajarlah kita dapat meningkatkan kualitas diri dan meraih cita-cita bangsa.

Artikel terkait Santri, baca Banser, Santri dan Protokol Keamanan Ulama.

Tetap Produktif Walau di dalam Asrama

Lebih sering menghabiskan waktu di dalam asrama bukan berarti membuat kepribadian santri menjadi pasif. Justru mereka dapat menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengulang kembali pelajaran yang sudah meraka dapat ketika mengaji dan bersekolah.

Bagi santri yang menghafal Al-Qur’an, masa-masa seperti ini menjadi kesempatan besar bagi mereka untuk memperbanyak hafalan. Selain itu, para santri juga mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan kreativitas mereka seperti memasak atau menjahit.

Para santri juga bisa sering bergotog-royong untuk membersihkan lingkungan pondok dan rumah kiai. Masa pandemi ini adalah peluang bagi para santri untuk “ngoyo” mengkaji kitab, memperdalam ilmu, dan juga mempererat kedekatan para santri dengan kiai.

Terdapat ungkapan yang menyatakan bahwa usaha harus diiringi dengan doa. Begitu pula dalam usaha mencegah penyebaran koronavirus. Usaha-usaha kita seperti selalu mematuhi semua protokol kesehatan, aktif menyosialisasikan pentingnya mematuhi semua protokol kesehatan dan memberikan nasihat agar tidak mengucilkan keluarga pasien yang terpapar koronavirus kepada masyarakat juga harus diiringi dengan doa.

Di dalam agama islam, ada sebuah sholawat yang kondang digunakan untuk menangkal penyakit dan meminta kesembuhan. sholawat tersebut biasa dikenal dengan sholawat Thibbil Qulub yang artinya obat atau penyembuh hati. Para santrilah yang mengenalkan sholawat tersebut kepada masyarakat. Sholawat tersebut digunakan sebagai salah satu upaya permohonan kita kepada Tuhan agar musibah pandemi ini dapat segera selesai.

Pesan untuk semua Santri

Dadi santri iku ojo gampang kagetan lan gumunan”, itu adalah sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Alm. KH. Ali Maksum, pengasuh pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ungkapan tersebut menyampaikan bahwa seorang santri hendaknya selalu siap dengan segala kondisi dan situasi.

Seperti pandemi saat ini, tidak ada negara yang siap dengan menyebarnya koronavirus yang menyebabkan banyak kerugian dalam berbagai aspek dan tentunya telah membunuh banyak jiwa. Jadi, sebagai penerus bangsa hendaknya tidak ada kata menyerah dalam diri kita untuk terus belajar demi mewujudkan cita-cita kita dan seluruh bangsa Indonesia.

Penulis : Meyta Rahmatul Azkiya
(Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)