Pro dan Kontra UTBK: Sulitnya Meraih Kampus Impian Tanpa Kegelisahan

420
utbk
Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

Ujian masuk perguruan tinggi semakin dekat, namun kegelisahan kian berkutat. Frasa ini tepat menggambarkan keadaan para calon mahasiswa baru 2021 di Indonesia. Pandemi yang belum juga berakhir mengharuskan terjadinya beberapa penyesuaian pada sistem pendidikan, salah satunya adalah pada sistem UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Baru-baru ini, kontroversi tentang pelaksanaan ujian masuk perguruan tinggi kembali muncul dan menjadi perbincangan hangat negeri.

Kebijakan-kebijakan baru yang ditetapkan pun mendapat respons pro dan kontra dari berbagai kalangan. Sebelum pandemi, setiap siswa diberikan dua kali kesempatan ujian UTBK sebelum mendaftar melalui SBMPTN, materinya pun mencakup Tes Potensi Skolastik (TPS) & Tes Kemampuan Akademik (TKA). Namun pada dua tahun belakangan ini, kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah dianggap plinplan dengan perubahan drastis.

Baca juga: Sayyid Utsman Betawi Mufti Paling Masyhur

Pada UTBK 2020, siswa diberikan kesempatan dua kali ujian dengan materi TPS. Bagi siswa yang sudah mempelajari kembali materi TKA, hal tersebut sempat menjadi kekesalan, namun di sisi lain hal ini menjadi oase tersendiri karena jumlah soal dan materi belajar menjadi sedikit. Pandemi yang belum juga usai hingga 2021 pun menjadi dasar spekulasi bahwa UTBK 2021 akan mencakup materi TPS saja, namun LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi) kembali mengeluarkan kebijakan mengejutkan dengan memasukkan lagi materi TKA dan satu kali kesempatan pengerjaan.

Hal ini menjadi pukulan keras bagi para calon mahasiswa baru, pasalnya, mereka masih berekspektasi bahwa akan ada dua kali kesempatan pengerjaan dengan materi TPS. Pada akhirnya, siswa mulai mengebut untuk mengejar ketertinggalan materi yang belum sempat direview.

Kebijakan lain yang ditetapkan tahun ini adalah kebijakan bahwa siswa yang pernah lulus SNMPTN tidak diperbolehkan mengikuti UTBK. Kebijakan ini tentu saja memiliki niat yang bagus, supaya pendidikan merata dan tidak ada kursi yang pada akhirnya terbuang sia-sia. Namun tetap saja ada kalangan tertentu yang kontra akan kebijakan ini. Bagi mereka yang salah memilih jurusan di SNMPTN dan diterima, mereka menentang kebijakan tersebut. Tak jarang, netizen pun memperdebatkan hal tersebut di media sosial.

Kontroversi lain yang menjadi sorotan adalah tentang Ujian Mandiri. Tahun lalu seleksi mandiri universitas ditetapkan menggunakan nilai rapor, hal ini mendapat kontra dari berbagai pihak karena nilai rapor dianggap lebih mudah dimanipulasi ketimbang ujian langsung di tempat. Pada tahun ini, LTMPT kembali mengubah kebijakan tersebut dengan memperbolehkan setiap universitas menentukan pelaksanaan Ujian Mandirinya sendiri. Beberapa universitas masih menetapkan nilai rapor, beberapa lainnya mulai mengadaptasi sistem CBT atau Computer Based Test. Hal ini menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi para calon mahasiswa baru, pasalnya, belum semua universitas merilis sistem pendaftaran mandiri mereka. Siswa kembali dibingungkan dengan sistem yang ada.

Di tengah pandemi yang belum juga membaik, siswa dituntut untuk tangguh terhadap perubahan. Ditengah kebijakan yang berubah-ubah pula, siswa yang adaptiflah yang akan bertahan. Siswa emas yang berhasil melewati tantangan jua merancang ulang rencana awalnya yang gagal adalah siswa yang berhak untuk mendapatkan kampus impiannya. Pro kontra kebijakan tak masalah, adaptif dalam keadaan apapun adalah kunci jawabannya. Terkadang hal baik memang perlu melewati gelisah terlebih dahulu. Inilah bahasan Pro Kontra UTBK: “Sulitnya Meraih Kampus Impian tanpa Kegelisahan”

Penulis: Dara Ginanti
Mahasiswi Sampoerna University