Potong Rambut

565
Photo by mostafa meraji on Unsplash
Photo by mostafa meraji on Unsplash

Oleh:Emmy Kuswandari

(Praktisi Public Relations)

Dua tiga bulan di rumah karena pandemi korona membuat kita punya banyak cerita. Cerita tentang rambut, misalnya. Rambut pendek kelihatannya lebih mudah panjang, paling tidak setengah inci dalam sebulan. Bagi sebagian orang, bahkan ada yang rambutnya tumbuh lebih cepat. Potong rambut memang menjadi agenda yang teratur. Laki-laki yang berambut cepak perlu pergi ke tukang cukurnya setiap 3-4 minggu sekali. Dalam agama, bahkan ada dalil dan petunjuk khusus untuk urusan memotong rambut .

Memotong rambut itu tanganan, artinya hasil pekerjaannya bisa cocok ke pelanggannya bisa pula tidak. Kalau sudah cocok, pelanggan akan mencari ke mana pun tukang cukur itu pindah, dari bawah pohon hingga ke ruko atau tempat yang lain.

Meskipun rutin potong, belum tentu kita langsung sreg dan jatuh hati dengan hasil potongan tukang cukur.  Ini semacam mencari cinta sejati. Entah berapa banyak yang dipacari, tetapi nikahnya dengan yang lain lagi. Eh, begitu bukan, sih?

Belum lama ini saya menemukan tukang potong yang cocok, sreg dan membuat saya jatuh hati. Johny Malato namanya. Ia yang membuat rambut potong pendek buat saya akhir tahun lalu. Ini pertama kali potong pendek tapi tetap kelihatan tidak seperti satpam. Dan tidak semua pemotong rambut mampu melakukan itu. Rasanya Johny cuma krak krek saja motong bagian-bagian di rambut saya. Diusek-usek, disisir, potong lagi, diawul-awul lagi, tapi entah kenapa hasil akhirnya bagus menurut saya.

Buat saya, Johny bukan sekadar tukang potong rambut. Ia pembelajar. Tidak setiap tukang rambut mampu memegang gunting dan sisir dengan benar. Banyak juga yang tak mampu membaca karakter wajah pelanggannya. Johny meletakkan keyakinan bahwa profesinya adalah seni; menggabungkan kemampuan memotong dengan teknik yang benar, membaca karakter wajah, dan meningkatkan kemampuan sebagai tukang potong rambut.

Ah ya, saya tak ingin melabeli Johny sebagai tukang potong rambut. Ia seniman. Setahun sekali Johny akan sekolah. Sebulan lamanya ia akan pergi ke London atau kota-kota mode dunia buat belajar menggunting. Ya, ia masih belajar memegang gunting dan sisir setiap tahunnya, meski profesi sebagai pemotong rambut sudah puluhan tahun ia jalani. Johny belajar dari hairstylist dunia.

Paling tidak lima enam tahun belakangan ini ia rajin melakukan ritual itu; belajar untuk meningkatkan kemampuannya memotong rambut. Potongan pixie dan bob jadi andalannya. Saat belajar selama sebulan, ini semacam menggali energi baru untuk Johny. “Belajar adalah investasi, kita tak boleh berhenti melakukannya,” ujarnya kala itu.

Berbulan-bulan di rumah, saya rindu Johny. Sama rindunya dengan kongkow di mall dan duduk di cafe sambal minum kopi. Tak ada Johny dan kopi, hidup rasanya cemplang. Dari rambut model pendek hingga tak jelas lagi bentuknya sekarang. Untung masih bisa diakali dengan karet kuncir dan jepit. Saya masih bisa bertahan dengan kondisi ini, tetapi tidak untuk anak laki-laki saya. Dia gerah, rambutnya tak jelas bentuknya.

Bulan pertama tak pergi ke salon, ia minta tolong agar rambut di atas telinganya dikerik dengan alat cukur. Pekerjaan pertama lumayan sukses, meski saya harus merelakan alat kerik alis saya untuk membuatnya lebih rapi. Kamu tahu kan bagaimana sakralnya alat kerik alis buat perempuan? Kalau ia tumpul, bencana sudah.

Bulan kedua lain lagi ceritanya. Anak lanang memanjat tempat kardus-kardus disimpan untuk mengambil clipper. Alat ini sudah lama disimpan, sejak usaha salon tak lagi saya kemudikan. Clipper ini pensiun bertahun-tahun dalam diam. Saya tak pernah mengoperasikan alat-alat salon, praktis tak tahu cara kerja clipper ini pula. Kapster salon dulu yang mengerjakan semua, saya hanya mengawasi manajemennya saja.

Di masa pandemi, clipper termasuk salah satu barang yang paling banyak dicari. Berbagai bentuk, harga dan ukuran jadi rebutan. Persediaan di banyak toko daring bahkan sempat kosong. Banyak bapak yang mendadak jadi tukang cukur buat anaknya atau istri yang terpaksa harus memotong rambut suaminya. Kalau sebelum pandemi cukup duduk manis dan membayar Rp50.000 untuk jasa potong rambut, ternyata pengerjaannya tak semudah yang kita kira. Pencarian tutorial memotong rambut jadi rujukan dadakan. Memang, mesin pencarian ini jadi jujugan semua keperluan kita. Cari tutorial apa saja dan pasti kita akan menemukannya. Mirip kantong Doraemon yang bisa mengeluarkan apa saja.

Saya tak sempat belajar. Clipper sudah dikeluarkan dari dusnya. Getarannya sempat membuat geli tangan saya. Rasanya jadi seperti mati rasa dan sulit mengarahkan gerakan. Utak-utik di kamar mandi, sempat membuat pitak potongan rambut di kepala anak, merapikan lagi, akhirnya berakhir juga. Kalau pandemi makin lama, mungkin ketrampilan mencukur rambut bisa memberikan gelar buat saya: hairsatylist rumahan, pelanggannya satu saja; anak lanang.

Ternyata bisa juga jadi tukang rambut dadakan, asal modelnya hanya satu; menipiskan rambut dan tidak menerima permintaan potongan dengan model yang aeng-aeng. Saya cuma bilang pada anak lanang, merapikan rambut sih bisa aja, tapi hasilnya ya entahlah.