Perjuangan Nyawa Demi Nyawa

251
Perjuangan Nyawa Demi Nyawa
photo by Hijrah Ahmad

Tahun 2015 silam, Karisa Bugal, seorang ibu di Colorado rela meregang nyawa asalkan anaknya dapat hidup dan menghirup udara dunia. Karisa mengidap penyakit amniotic fluid embolism yang mengharuskannya memilih, menyelamatkan nyawa nya sendiri atau menyelamatkan nyawa anaknya. Siapa menduga, Karisa lalu mengambil pilihan kedua.

Mungkin tidak perlu saya sebutkan berapa banyak cerita tentang seorang ibu yang rela berkorban demi anaknya. Yang pasti, kisah-kisah yang kemudian terabadikan dalam banyak buku, syair, lagu, atau film itu hampir memiliki satu alasan yang sama: mengenang perjuangan makhluk hidup terkuat di muka bumi yang bernama ibu, novel Khairani The Queen of The Octopus karya Lasty Saniah ini adalah salah satunya.

Buku yang ditulis berdasarkan cerita nyata (nonfiction fiction) ini, bercerita tentang seorang perempuan bernama Khairani yang berjuang hidup melawan penyakit leukemia yang dideritanya. Pada saat bersamaan, Khairani tengah mengandung anak pertama yang sudah lama didamba-dambakannya. Buku ini lalu berkisah tentang peristiwa demi peristiwa yang dialami oleh Khairani melalui pancaindra sang narator tokoh (le narrateur personnage) sekaligus penulis buku ini.

Buku ini tidak tebal, hanya 106 halaman, tapi dari tiap lembarnya, penulis mencoba mengajak pembaca untuk masuk dalam setiap inci peristiwa. Dengan atau tanpa tujuan menyihir, kata demi katanya tersusun rapi membangun garis imajiner kejadian dan latar yang terang dan jelas. Dari sini terlihat pula bahwa penulis sangat ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa setiap peristiwa yang ditulisnya itu benar-benar berharga.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

Dari segi plot, penulis memang belum menyajikannya dengan variatif, terlihat lebih banyak plot yang linear ketimbang maju-mundur. Tapi perlu diakui, bagian ini memang cukup sulit dan merupakan tantangan tersendiri dalam penulisan nonfiction fiction. Meski demikian, penulis terlihat apik mengatur tempo dan equalizer alur ceritanya sehingga pembaca dapat berfokus pada pengecapan emosi dan rasa dalam peristiwa meski plotnya kurang variatif.

Dari segi diksi dan teknik penceritaan, saya melihat memang penulis tidak berusaha menyuguhkan dengan neko-neko, tapi mengalir begitu saja—seperti yang diakui oleh penulis di awal tulisannya. Menurut saya justru ini merupakan poin tersendiri bagi seorang penulis, karena tidak banyak penulis yang mampu mentransformasikan penuturan cerita utuh ke dalam tulisan tapi tetap konsisten pada unsur intrinsiknya. Dalam hal ini menurut saya penulis berhasil melakukan keduanya.

Terkait judul. Menurut saya pengambilan judul octopus yang juga menjadi dasar filosofi cerita di dalam buku ini sangat tepat. Seperti kita tahu bahwa octopus adalah hewan yang mampu bertahan berbulan-bulan bahkan rela kelaparan demi melindungi telurnya. Terakhir, narator tokoh menutup ceritanya dengan teknik refleksi akhir (fin réflexive), yaitu narator menuliskan ungkapan dan hikmah dari ceritanya.

Siapa pun Anda, pria atau perempuan, menikah atau belum, merasakan melahirkan, belum, atau tidak, tua atau muda, tapi pasti pernah memiliki seorang ibu. Ibu, baik yang kita dengar dari Nasida Ria, Iwan Fals, Melly Goeslaw, Hadad Alwi, atau kita baca dalam banyak buku, dari kisah Karisa Bugal dan Khairani, semua merupakan ungkapan rasa cinta kepada makhluk Tuhan paling luar biasa di muka bumi ini.

Akhir kata, saya berharap cerita-cerita seperti ini akan terus ada, tertulis, dan abadi. Seperti kata Pramoedya: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Semoga siapa pun mendapatkan inspirasi,—karena memang saya kira itu salah satu tujuan ditulisnya buku ini, dan karenanya, buku ini sangat layak dimiliki oleh siapa pun. Satu lagi kabar baik, setengah dari hasil penjualan buku ini akan didonasikan untuk kegiatan sosial dan pendidikan. []

Khairani The Queen of  The Octopus
Novel karya Lasty Saniah
Yayasan Darul Bayan Ranca Luluk 2021

“Kematian adalah sebuah ketetapan, dan setiap proses penyebab kematian adalah bentuk ujian iman, kemanusiaan, dan pembelajaran.” –Lasty Saniah

Penulis: Hijrah Ahmad
(Kopitalis Akut, Koki di Emirbooks)