Perjalanan Panjang Goenawan Mohamad

279
goenawan
Sumber Foto Whiteboardjournal.com

Goenawan Soesatyo Mohamad, lahir di Batang, 29 Juni 1941. Beliau adalah seorang sastrawan Indonesia yang terkemuka dan berwawasan luas. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo. Ia merupakan adik kandung dari Kartono Mohamad,  dokter umum yang pernah menjadi ketua umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selama dua periode, yakni pada 1985–1988 dan 1991–1994.

Tulisan Goenawan banyak yang menganggkat tema Hak Asasi Manusia (HAM), agama, demokrasi, korupsi dan sebagainya. Ketika menduduki kelas VI SD, Goenawan mengaku menyukai acara puisi Radio Republik Indonesia (RRI). Kemudian, kakaknya (Kartono Mohamad) saat itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. Goenawan mulai menulis sejak usia 17 tahun, kemudian dua tahun setelahnya ia menerjemahkan puisi penyair wanita asal Amerika, Emily Dickinson

Baca juga: Toto Sudarto Bachtiar Sastrawan Sekaligus Pejuang

Ia juga menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Ia juga menulis kolom untuk harian Manichi Shimbun (Tokyo).

Riwayat Pendidikan

  • SD Negeri Parakan Batang, (1953)
  • SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
  • SMA Negeri Pekalongan, (1959)
  • Fakultas Psikologi UI Jakarta

Karir Goenawan

  • Redaktur Harian KAMI (1969-1970)
  • Redaktur majalah Horison (1969-1974)
  • Pimpinan Redaksi Majalah Ekspres (1970-1971)
  • Pemimpin redaksi Majalah Swasembada (1985)
  • Pemimpin redaksi Majalah Tempo (1971, 1993 dan 1998-1999)

Perjalanan Keras Goenawan Mohamad

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Majalah Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers di Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Setelah pak Soeharto diturunkan pada tahun 1998, majalah Tempo terbit kembali tentunya dengan berbagai perubahan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan kualitasnya. Tidak lama kemudian, majalah Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo sempat menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomi Winata. Pernyataan Goenawan yang dimuat dalam Koran Tempo pada tanggal 12-13 maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha tersebut.

Goen mempelajari psikologi di Universitas Indonesia (UI), mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua orang anak.

Segudang Prestasi Goenawan Mohamad

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan brbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang dan Perancis. Sebagian esainya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Banyak penghargaan yang sudah diberikan kepada Goenawan Mohamad, seperti:

  1. Anugerah Hamengku Buwono IX bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada.
  2. Penghargaan Profesor Teeuw Award dari Leiden University Belanda (1992).
  3. Louis Lyons Award dari Harvard University Amerika Serikat untuk kategori Concience in Journalism.
  4. International Editor (International Eitor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat (1999).
  5. Wertheim Award (2005) dan masih banyak lagi.

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

Penulis: Fazri Rojali, Finy Fidinilillah Aditya, Irna Komalasari.
(Siswa Kelas X Bahasa SMAN 1 Karawang 2016)