Perjalanan dan Karya Syaikhona Kholil Bangkalan

845
syaikhona
Sumber Foto News.detik.com

Syaikhona KH. Muhammad Kholil bin Abdul Latif Al-Bangkalani dikenal sebagai seorang ulama kharismatik seorang ulama sufi waliyullah, Beliau juga dikenal sebagai guru nusantara pada abad ke-19 hingga ke-20, sekaligus inspirator pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Beliau dilahirkan pada hari Selasa, 11 Jumadil Akhir 1225 H, bertepatan dengan tahun 1835 M. Beliau dilahirkan di Kampung Senenan, Desa Keramat/Kemayoran Bangkalan, Jawa Timur.

Baca juga: Mengenal Berbagai Istilah Literasi Kitab Kuning Karya Ulama.

Wafat pada hari Kamis Kliwon malam Jum’at Legi, tanggal 29 Ramadlan 1343 H, bertepatan dengan 24 April 1925 dalam usia 89 tahun menurut perhitungan masehi,dan 91 tahun menurut hitungan hijriyah.

Belajar dari Pulau Jawa sampai Arab Saudi

Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Kholil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi.

Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih  mempunyai  pertalian  keluarga  dengannya.  Dalam masa masih menjadi santri di beberapa pondok pesantren beliau juga telah menghafal beberapa matan kitab, yang pasti ialah Matan Alfiyah Ibnu Malik (1,000 bait) mengenai ilmu nahu yang terkenal itu.

Selanjutnya beliau juga seorang hafiz al-Quran tiga puluh juz. Beliau berkemampuan dalam qiraah tujuh (tujuh cara membaca al-Quran). Tidak jelas apakah al-Quran tiga puluh juz telah dihafalnya sejak di Jawa atau pun setelah menetap di Mekah berpuluh-puluh tahun. Pada 1276 Hijrah/1859 Masihi, Kiyai Muhammad Kholil melanjutkan pendidikannya ke Mekah.

Di Mekah Kiyai Muhammad Kholil al-Maduri bersahabat dengan Syeikh Nawawi al-Bantani. Ulama-ulama dunia Melayu di Mekah yang seangkatan dengan Syeikh Nawawi al-Bantani (lahir 1230 Hijriyah/1814 Masehi), Kiyai Kholil al-Manduri (lahir 1235 Hijriyah/1820 Masehi), Syeikh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (lahir 1233 Hijriyah/1817 Masehi), Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (lahir 1234 Hijriyah/1818 Masehi), Kiyai Umar bin Muhammad Saleh Semarang dan masih banyak lagi.

Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa Bin Muhammad al-Afifi al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy Syarwani dan ramai lagi.

Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima daripada sahabatnya Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi (Bima, Sumbawa). Walau pun Syeikh Ahmad al-Fathani jauh lebih muda dari padanya, yaitu peringkat anaknya, namun kerana tawaduknya, Kiyai Muhammad Kholil al-Maduri pernah belajar kepada ulama yang berasal dari Patani itu.

Syaikhona Muhammad Kholil al-Maduri termasuk generasi pertama mengajar karya Syeikh Ahmad al-Fathani berjudul Tashilu Nailil Amani, tentang nahwu dalam bahasa Arab, di pondok-pesantrennya di Bangkalan. Karya Syeikh Ahmad al-Fathani yang tersebut kemudian berpengaruh dalam pengajian ilmu nawhu di Madura dan Jawa sejak itu, bahkan hingga sekarang masih banyak pondok pesantren tradisional di Jawa dan Madura mempelajari kitab tersebut.

Berikut Karya-karya KH. Kholil Bangkalan

  1. Kitab Silah fi Bayin Nikah (tentang tata cara, adab, dan hukum pernikahan)
  2. Kitab Tarjamah Alfiyah ibn Malik
  3. Kitab Asma’ul Husna (berbentuk nadham berbahasa Jawa-Madura)
  4. Ijazah Barzakhiyah (berupa himpunan do’a dan wirid)
  5. Shalawat Kiai Kholil Bangkalan (dihimpun oleh KH. Khalil Muhammad dalam I’anatur Raqibin)
  6. Wirid-wirid Kiai Kholil Bangkalan (dihimpun oleh KH. Bisri Rembang dalam kumpulan Do’a alHaqibah)
  7. Al-Matnus Syarif, ditulis syarahnya berjudul Al-Maisanul Lathif oleh Syaikh Thoifur Madura.
  8. Isti’dadul Maut
  9. Taqrirat ala Mandhumah Nuzhatit Thullab

Al-Matnus Syarif al-Mulaqqab bi Fathi al-Latif

Al-Matnus Syarif (المتن الشريف), adalah Kitab Fiqih dasar, Kitab ini ditulis oleh Al-Allamah Syaikhona KH. Muhammad Kholil bin Abdul Latif Al-Bangkalani atau yang lebih dikenal dengan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Sesuai namanya, kitab ini merupakan kitab matan (inti)  yang berbicara mengenai fundamen dasar hukum Islam (ilmu fiqih). yang membahas cara bersuci, dilanjut fiqih shalat, fiqih zakat, fiqih puasa dan Fiqih haji

Pada halaman akhir kitab Al-Matnus Syarif disebutkan bahwa kitab ini rampung ditulis pada malam Rabu 17 Rajab 1299 hijriyah, kitab ini setebal 52 halaman dan di terbitkan oleh Maktabah Kholid bin Ahmad bin Nabhan.

Penulis: Ami Hamdhan