Peran Santri Sebagai Bagian Masyarakat Global

884
Foto oleh Pok Rie dari Pexels

Oleh: Muhamad Rosyid Jazuli
(Peneliti di Paramadina Public Policy Institute, Alumni Pesantren Tarbiyatul Falah, Kota Blitar)

Salah satu elemen utama masyarakat Indonesia adalah kalangan santri. Ada yang bilang mereka kurang diperhatikan, tapi juga ada yang mengatakan terlalu dikhususkan, terlebih dengan adanya Hari Santri. Terlepas dari itu, yang bisa menentukan peran dan seberapa dampaknya kalangan santri terhadap kehidupan sosial di Indonesia tentu adalah para santri itu sendiri.

Sebenarnya siapa santri itu? Saya sebagai seorang alumni pesantren, tidak ingin memperdebatkan ini terlalu panjang. Saya ingin fokus pada deskripsi sederhana bahwa santri adalah mereka yang pernah merasakan pendidikan di pesantren, apapun pesantrennya. Melalui Pendidikan pesantren ini, mereka pada umum adalah generasi yang mereguk pendidikan adab dan sopan santun tinggi.

Pada deskripsi yang lebih fleksible, mereka yang telah menjadi alumni pesantren dan berkarir di dunia non-religius juga berhak menyandang status santri dalam konteks sebagai bagian elemen masyarakat.

Di era globalisasi ini, peran santri perlu terus dibahas. Di masa globalisasi ini, berbagai titik (pengetahuan, manusia dan barang) di dunia ini makin terus terhubung, sehingga batas ruang dan waktu makin lama makin terasa menghilang.

Relevansi santri pun menjadi dinamis karena mau tidak mau pasti terpapar globalisasi. Misalnya, di pesantren yang dulu tidak ada internet, sekarang menyediakannya meski dalam batas tertentu.

Dalam konteks era global ini, di waktu yang sama, kita bukan hanya masyarakat Indonesia, tapi kita juga bagian dari masyarakat dunia. Karena itu, kita perlu menyuarakan dan merelevansikan ide-ide dan karya kita ke dunia. Hal ini juga berlaku bagi santri, temasuk saya tentunya.

Berbagai santri jelas sukses berkarir menjadi ulama atau ustadz. Ini pakem umumnya dan banyak contohnya. Namun, banyak juga yang tidak melanjutkan karir religinya dan memilih karir lain. Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan misalnya, yang juga merupakan alumni pesantrean di Thailand. Ada juga Gus Nadir yang sukses menjadi akademisi di kampus bergengsi di Australia.

Kemudian yang unik, Mardigu Wowiek yang jadi pengusaha dan analis sukses. Mungkin ada yang ragu apa iya beliau santri. Di satu diskusi dengan Helmi Yahya, ia sedikit mengutip bacaan sholat yang seharusnya diucapkan berbeda oleh Rasulullah. Ini menunjukkan ia paham dlomir yang akrab dipelajari santri ketika belajar shorof di pesantren.

Jika dicari-cari, tentu akan banyak lagi pejabat, pengusaha, akademisi, diplomat, walikota, dll yang berlatar belakang santri.

Hal tersebut menunjukkan bahwa peluang masa depan yang gemilang bagi santri terbuka luas. Di era globalisasi ini, santri berhak punya mimpi menjadi apa saja. Sebab dengan keunikan dan kesantunannya, banyak bidang pekerjaan yang membutuhkan figur berlatar belakang santri.

Mereka yang berlatar belakang santri umumnya, memiliki paham wasathiyah atau tengah-tengah yang anak gaul sekarang menyebutnya ‘selaw’, meskipun tidak semua tentunya.

Seseorang yang memiliki paham wasathiyah ini tentu selalu mengedepankan toleransi dan kolaborasi dalam bekerja, yang sering dicari dalam dunia kerja.

Santri punya peran dan kesempatan untuk menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam Indonesia yang kaya dan moderat di berbagai kelompok karir mereka. Pada akhirnya, ini akan mendorong regenerasi sumber daya manusia dengan insan santun dan beradab di berbagai bidang.

Meski datanya belum jelas, tak ada yang menafikan bahwa jumlah santri di Indonesia begitu banyak. Ini tentu harus dilihat sebagai dua hal yakni basis politik dan basis pasar.

Karenanya, santri punya peran besar untuk mencetak politisi yang berbasis pesantren dan memperjuangkan hak kaum berkekurangan. Selain itu, tentu banyak potensi-potensi bisnis berbasis santri. Karenanya, santri juga bisa berkesempatan menjadi pengusaha yang mengoptimalkan dan menumbuhkan pasar berbasis pesantren yang sangat potensial.

Namun demikian, tentu peran santri di era globalisasi ini masih punya beberapa tantangan yang perlu dicari mitigasinya.

Meski beberapa pesantren telah jauh lebih modern dengan metode pengajaran yang variatif, sebagian besar lainnya hanya berfokus pada ‘ajaran agama’. Yang saya maksud di sini adalah pesantren yang hampir sebagian besar kegiataan mengkaji kitab kuno. Bukannya tidak baik.

Namun akan lebih baik jika pengkajian ilmu-ilmu kontemporer misalnya perkembangan islam di negara non-timur tengah, ekonomi islam modern, dan sebagainya perlu dikaji juga.

Selain itu, banyak pengajaran di pesantren hanya fokus menghafal ilmu, bukan menganalisis dan mengaplikasikannya. Bukan rahasia lagi kalau hafalan menjadi andalan para santri. Hafal Quran, hafal kitab, hafal alfiyah dll.

Sementara pengkajian analitis dan pembudayaan ilmu yang dihafalkan seringkali belum optimal. Contoh mudah misalnya, soal kebersihan. Sepertinya tak ada santri yang tak hafal annadhofatu minal iman. Tapi kalau melihat kondisi pesantren pada umumnya, kita jadi garuk kepala, ini dimana bersih-bersihnya.

Terakhir, di pesantren pada umumnya dipahami, kalau dunia yang ‘hak’ itu ada dua. Satu, Indonesia. Dua, Timur Tengah khsusunya Mesir dan Arab Saudi. Sisanya adalah dunia ‘batil’, setidaknya ini pengalaman saya dulu saat nyantri.

Padahal, harus diakui bahwa perkembangan ilmu pengetahuan khususnya 4 abad terakhir jelas ada di negara-negara Barat. Karena sudah mengecap bahwa darah selain keduanya ini tidak menarik, maka keingintahuan atas perkembangan ilmu pengetahuan umum di kalangan santri pun juga masih minim.

Lewat beberapa contoh ‘santri berpengaruh’ di atas, sangat perlu disadari bahwa peran santri terbukti diperlukan di era globalisasi ini. pertanyaannya, santrinya mau apa tidak.

Beberapa hal yang perlu menjadi perenungan di antarnaya bahwa santri perlu meluaskan perspektif dan wawasannya dengan ilmu-ilmu kehidupan lainnya selain ilmu-ilmu agama yang umumnya di ajarkan di pesantrean. Sebab, segala ilmu pada hakikatnya adalah ilmu Allah.

Selain itu, santri perlu mempelajari kesuksesan negara-negara maju. Lewat berbagai kesempatan, seperti pertukaran pemuda atau mahasiswa, atau lawatan dll, santri dapat mengunjungi negara-negara seperti Amerika, Selandia Baru, Jepang, Singapura, dll untuk melihat anugerah kemajuan sosial ekonomi di sana.

Santri juga perlu berkemauan untuk menciptakan dan menjajal kesempatan berkarir diberbagai bidang yang begitu luas spektrumnya. Santri bisa menjadi peneliti kebijakan public seperti saya, menjadi pengusaha, politisi, ahli geologi, ahli antariksa atau apapun.

Para santri perlu terus mengasah pemikiran kritisnya atas perannya bagi masyarakat, sembari terus membangun kepercayaan diri bahwa perannya terus dinanti-nanti masyarakat Indonesia maupun dunia.