Pengembangan Sistem Pembelajaran Kitab Kuning (Part 2)

241
pengembangan
Sumber Foto Al-mubarok.com

Dewasa ini pondok pesantren sudah dikembangkan tidak hanya dalam upaya memperoleh pengetahuan agama (tafaqquh fi al-dîn) saja, akan tetapi juga mengarahkan misinya pada pengembangan kualitas santri sebagai peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuan diri dalam menghadapi dunia riil kehidupan yang lebih luas.

Jika di masa lalu, orang mengirimkan anaknya ke pondok pesantren hanya untuk kepentingan memperoleh pengetahuan agama, akan tetapi sekarang juga ada harapan baru agar anaknya juga memperoleh ilmu pengetahuan umum. Itulah sebabnya pondok pesantren melalui kyai sebagai pengelola kemudian mengantisipasinya dengan membuka multi program.

Pondok pesantren tidak hanya  mempelajari ilmu agama semata, tetapi juga mempelajari disiplin ilmu umum. Oleh karena itu, dalam perkembangannya sudah banyak kyai yang sudah melakukan pembaharuan sistem pendidikan di pondok pesantren.

Baca juga: Pengembangan Sistem Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren.

Transformasi Pesantren di Era Modern

Meskipun demikian, pada kenyataannya tidak semua pondok pesantren mau membuka diri dan mengadakan inovasi serta pembaharuan terhadap konsep dan metode pembelajaran yang ada.

Sistem pendidikan di pondok pesantren pada umumnya masih dihadapkan oleh berbagai persoalan lantaran paradigma tradisional yang selama ini dianutnya.

Di antara sekian persoalan dalam sistem pendidikan pesantren, masalah metodologi pembelajaran dan kerangka dasar kurikulum pendidikan sangat penting untuk dikaji ulang dan disempurnakan.

Selain aspek metodologis, pesantren juga harus berusaha melakukan kontekstualisasi konstruktif sistem dan orientasi kependidikannya, seperti aspek-aspek administrasi, diferensiasi struktural, perluasan kapasitas, dan transformasi output pesantren.

Kerangka paradigmatik pendidikan pesantren yang harus diformulasikan saat ini adalah bagaimana menjadikan pesantren sebagai laboratorium keulamaan dan kecendikiawanan yang memiliki relevansi dengan perkembangan zaman modern.

Rekonstruksi pemikiran ke arah yang lebih baik adalah sesuatu yang urgen jika pesantren ingin tetap eksis dan survive di tengah gelombang penetrasi teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mengglobal.

Dalam dunia modern, fungsi utama pesantren sebagai lembaga pendidikan yang melakukan proses transfer ilmu-ilmu agama dan nilai-nilai Islam akan dapat bertahan jika pesantren memiliki tingkat responsibilitas yang tinggi terhadap perkembangan teknologi informasi saat ini.

Oleh karena itu, reposisi pesantren harus dimulai dengan merumuskan kembali metodologi pembelajaran dan kurikulum pendidikan secara integral dan komprehensif sesuai dengan perkembangan teknologi informasi modern.

Dalam era globalisasi saat ini, informasi telah menjadi ‘komoditi’ sebagaimana barang-barang ekonomi lainnya. Peran informasi kian hari semakin nyata dalam kehidupan masyarakat modern.

Berlatar fenomena tersebut, sekarang ini telah lahir masyarakat informasi (information age) dan masyarakat ilmu (knowledge society). Dalam kondisi demikian, dunia pendidikan di seluruh dunia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh perkembangan teknologi informasi modern.

Perkembangan Teknologi dalam Bidang Pendidikan

Kemajuan teknologi informasi modern turut mempengaruhi perkembangan sistem pembelajaran dalam dunia pendidikan. Teknologi dalam bidang pendidikan mengalami modernisasi, komputerisasi, hingga digitalisasi.

Semua itu dimaksudkan untuk memudahkan akses terhadap sumber-sumber pustaka, baik primer maupun sekunder, tanpa meninggalkan prinsip akurasi.

Pesatnya perkembangan teknologi tidak hanya memacu institusi pendidikan umum tetapi juga institusi pendidikan agama seperti pondok pesantren untuk mengikuti perkembangan dalam menggunakan teknologi sebagai media pendidikan.

Optimalisasi transformasi pendidikan melalui teknologi dipandang penting sehingga seseorang dapat mempelajari pengetahuan agama dengan efektif yang dapat memberikan kontribusi efisiensi biaya, tenaga dan waktu.

Para praktisi pendidikan saat ini telah mengembangkan teknologi pendidikan sebagai upaya peningkatan keunggulan hasil kerja dalam bidang pendidikan baik berupa proses pendidikan maupun berupa hasil pendidikan.

Dengan demikian, aplikasi teknologi pendidikan dalam peningkatan mutu pendidikan menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Ditinjau dari pendekaan pendidikan, teknologi pendidikan adalah suatu proses yang bersistem dalam usaha mendidik atau membelajarkan. Dalam proses yang bersistem ini kemungkinan besar digunakan teknologi pendidikan sebagai produk (Miarso, 2007: 76).

Menurut Miarso, ada beberapa pedoman umum dalam aplikasi teknologi pendidikan dan implementasinya:

  1. Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa dan lain-lain.
  2. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serampak, dengan memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya.
  3. Digunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar.
  4. Tumbuhnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur mempunyai nilai-nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah (Miarso, 2007: 78).

Transfer of Learning Pada Peserta Didik

Dengan demikian, teknologi merupakan alat yang diharapkan dapat mempermudah proses transfer of learning terhadap peserta didik. Informasi dan pengetahuan melalui elektronik yang saat ini sangat popular merupakan salah satu wujud e-learning dalam konteks dunia pendidikan. Di antara karakteristik dari e-learning adalah:

  1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik, di mana guru dan siswa atau sesama guru dan juga sesama siswa dapat saling berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang bersifat protokoler.
  2. Memanfaatkan keunggulan computer (digital media computer network).
  3. Menggunakan bahan ajar mandiri (self learning materials) di simpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja pada saat yang bersangkutan memerlukannya.
  4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, dan hasil kemajuan belajar dan berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat setiap saat dilihat di komputer.

Dalam penggunakan e-learning sendiri terdapat 4 hal yang perlu dipersiapkan yaitu:

  1. Melakukan penyesuaian kurikulum, kurikulum harus berifat holistik di mana pengetahuan, keterampilan dan nilai (values) diintegrasikan dalam kebutuhan di era informasi (competency-based curriculum).
  2. Melakukan variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan bantuan komputer.
  3. Melakukan penilaian dengan memanfaatkan teknologi yang ada menggunakan komputer, online assessment system.
  4. Menyediakan material pembelajaran seperti buku, komputer, multimedia, studio, dan lain-lain yang memadai.

Berangkat dari paparan di atas, maka sudah selaiknya pondok pesantren melakukan sebuah perubahan mendasar yang dapat mempermudah peserta didik dan/atau warga belajar lainnya dalam sebuah proses pembelajaran, termasuk mengembangkan metode pembelajaran yang berbasis multimedia.

Dalam konteks ini, pesantren sebagai lembaga pendidikan membutuhkan media yang mendukung proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal. Menyadari akan pentingnya sebuah pengembangan sumber daya manusia terhadap keterampilan dalam menggunakan sarana pendidikan yang berbasis teknologi ini, diperlukan adanya sarana yang memadai untuk menfasilitasi kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran di pesantren.

Pemanfaatan Maktabah Syamilah dalam Proses Pembelajaran di Pondok Pesantren

Menurut Soekartawi, perkembangan teknologi e-learning yang didukung oleh komputer dikenal sebagai Computer Base Learning (CBL) atau Computer Assisted Learning (CAL) yang dapat dikelompokan menjadi 2 jenis, yaitu technology-based learning dan technology-based web-learning.

Technology-based learning pada prinsipnya terdiri atas audio information technologies, seperti radio, audio tape, voice mail, telephone) dan Video Information Technologies, misalnya video tape, video text, video massaging. Sedangkan technology-base web learning pada dasarnya adalah data information technologies, misalnya bulleting board, internet, email, dan telecolaboration (Soekartawi, 2007: 198)

Dalam konteks ini, bahan bacaan sebagai sumber dan media pembelajaran memainkan peranan yang sangat signifikan dalam proses transformasi pengetahuan (transfer of knowledge). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, media bahan bacaan atau sumber ilmu pengetahuan terus mengalami evolusi sepanjang sejarah kehidupan umat manusia.

Teknologi Untuk Kemudahan Pengguna

Stevan Harnad bahkan menyatakan bahwa pada masa modern manusia telah mengalami revolusi besar dalam bidang informasi dan komunikasi yang ditandai oleh munculnya perangkat teknologi komputer dan internet (Steven Harnad, 1991). Dengan menggunakan perangkat teknologi ini, manusia dapat melakukan efisiensi dalam proses penyimpanan dan penyebaran bahan-bahan bacaan.

Melalui sistem ‘etekisasi’ (pengubahan teks tertulis/cetak menjadi teks elektronik/digital), satu rak buku bacaan dapat dikemas ke dalam beberapa keping CD dan dengan mudah dapat disimpan ke dalam alat penyimpan data digital (server) dengan kapasitas beberapa giga bite (GB) saja.

Seiring dengan perkembangan tersebut, saat ini kitab kuning yang pada awalnya dicetak secara manual dalam bentuk buku/kitab, sudah mulai bisa dibaca dalam bentuk digital atau disebut dengan kitab kuning digital. Bahkan beberapa kalangan dalam hal ini para warga belajar sudah banyak yang menggunakan kitab kuning digital ini sebagai bahan referensinya.

Salah satu kitab kuning digital yang berkembang saat ini adalah Maktabah Syamilah (perpustakaan lengkap). Kitab kuning digital ini memuat hampir semua kitab dari disiplin-disiplin keilmuan Islam yang ditulis oleh para pakar pendidikan pada zaman klasik. Sebagian besar bidang keilmuan tersebut adalah materi-materi yang diajarkan di pondok pesantren.

Kitab kuning digital Maktabah Syamilah memiliki berbagai macam versi, di antaranya:

  • Al-Isdhar 2.06 (Pustaka Lengkap, Versi 2.06), terdiri atas 1800 judul kitab yang dikelompokkan dalam 29 bidang keilmuan
  • Versi 2.09, terdiri dari 2500 judul kitab yang dikelompokkan dalam 48 bidang keilmuan
  • Versi 2.11, terdiri dari 6688 judul kitab yang dikelompokkan ke dalam kurang lebih 60 bidang keilmuan.

Kitab Kuning Digital Maktabah Syamilah

Kitab kuning digital Maktabah Syamilah ini memuat ribuan kitab-kitab induk dalam agama Islam, seperti: Kitab Ulmum al-Qur’an, Tafsir, Fiqih, Tasawuf, Akhlaq dan bidang keilmuan lainnya. Berikut adalah daftar bidang disiplin ilmu yang dimuat dalam salah satu versi kitab kuning digital Maktabah Syamilah:

  1. Bidang tafsir memuat 52 kitab, meliputi: Tafsîr al-Thabarî, Ibn Katsîr, al-Baghawî, al-Alûsî, al-Bahr, Fath al-Qadîr, al-Durr al-Mantsûr, al-Jalâlayn, al-Khazîn, al-Zamakhsyarî, Ibn ‘Abd al-Salâm, Sayyid Thanthawî, al-Zhilal al-Qur’ân, al-Qusyairî, dll.
  2. Bidang Ulumul Qur’an memuat 43 kitab, meliputi: kitab I‘râb al-Qur’an, Asbab al-Nuzûl al-Qur’ân, al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Misykat al-Anwâr, Fadhâ’il al-Qur’ân, Majâz al-Qur’ân, Lubâb al-Nuzûl, al-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Ahkâm al-Qur’ân li al-Syâfi‘î, Ahkâm al-Qur’ân li Ibn al-‘Arabî, dll.
  3. Bidang Fiqh. Kitab dalam lingkungan 4 madzhab diletakkan secara terpisah. Bidang Fiqh Madzhab Imam Syafi‘i terdapat 19 kitab, antara lain: al-Umm, I‘ânat al-Thâlibîn, Fath al-Wahhâb, Fath al-Mu‘în, al-Majmû‘, Raudhat al-Thâlibîn, Hâsyiah Qalyûbî wa Umayrah, Mughnî al-Muhtâj, Nihâyat al-Muhtâj, Hâsyiah Bujayrimî ‘ala Khatîb, Hâsyiah Bujayrimî ‘ala al-Minhâj, dll. Bidang Fiqh Madzhab Imam Maliki berjumlah 14 kitab, antara lain: al-Syarh al-Kabîr, Bidâyat al-Mujtahid, Mukhtashar al-Khalîl, al-Tâj wa al-Iklîl, Mawâhib al-Jalîl, Hâsyiah al-Dasûqî ‘alâ Syarh al-Kabîr, dll. Bidang Fiqh Madzhab Imam Hanafi berjumlah 17 kitab. Sedangkan bidang Fiqh Madzhab Imam Maliki berjumlah 14 kitab.
  4. Bidang Tasawuf dan Akhlak memuat kitab Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Riyâdh al-Shâlihîn, al-Kabâ’ir, al-Futûhât al-Makiyyah, Qût al-Qulûb, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, al-Adzkâr, dll.
  5. Klasifikasi umum memuat kitab Tafsîr al-Ahlâm, Mafâhim al-Islâmiyyah, al-Jam‘’iyyah al-Khairiyyah li Tahfîzh al-Qur’ân al-Karîm, Jam‘ al-Qur’ân al-Karîm fî ‘Ahd al-Khulafâ’ al-Râsyidîn, dll.
  6. Ushul Fiqh dan Mushtalah al-Hadits.

Fungsi Maktabah Syamilah

Jika dilihat dari fungsinya, kitab kuning digital Maktabah Syamilah ini memiliki fungsi yang sama dengan kitab kuning biasa, yaitu menyampaikan informasi sesuai dengan yang tertera di dalam matan (teks asli). Namun demikian, kitab kuning digital Maktabah Syamilah memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:

  1. Penggunaan kitab kuning digital lebih efektif karena para pengguna – dalam hal ini guru dan siswa – tidak perlu membuka halaman kitab lembar demi lembar yang dicetak tidak sempurna seperti buku pada umumnya.
  2. Penggunaannya lebih efisien karena siswa tidak perlu lagi membeli kitab-kitab yang diperlukan sesuai dengan materi yang mereka pelajari.
  3. Kitab kuning digital lebih mudah diakses karena siswa hanya perlu menginstall program tersebut ke dalam komputer.
  4. Informasi yang disajikan lebih representatif karena memuat hampir semua disiplin keilmuan Islam seperti: al-Qur’an, Hadits, Tafsir, Fiqh, Tasawuf, Akhlak, Ilmu Kalam, dan ilmu-ilmu Islam lainnya.
  5. Kitab berupa program komputer ini sangat praktis karena tidak membutuhkan ruang besar untuk menampung ribuan kitab yang masing-masing bisa jadi terdiri atas puluhan juz atau bab.
  6. Kitab dalam bentuk seperti ini juga tidak membutuhkan perawatan yang berarti seperti halnya buku-buku yang disimpan di dalam rak karena tersimpan di dalam memori komputer.

Oleh karena literatur untuk mengkaji disiplin ilmu di pondok pesantren banyak menggunakan kitab kuning, maka diperlukan upaya yang maksimal untuk menciptakan suasana belajar yang berlandaskan pada PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).

Dalam konteks ini, penggunaan kitab kuning digital Maktabah Syamilah diharapkan dapat menciptakan suasana baru yang lebih menyenangkan dan merangsang gairah belajar peserta didik di pondok pesantren. Apabila kondisi tersebut bisa terealisasi, maka bisa diprediksikan kembali bahwa hasil belajar santri juga akan meningkat.

Mengantisipasi Metode Mengajar Satu Arah

Penggunaan kitab kuning digital Maktabah Syamilah di pondok pesantren diharapkan dapat mengantisipasi metode mengajar ustadz yang terkesan satu arah, cenderung membosankan dan tidak merangsang keaktifan santri.

Melalui metode pembelajaran konvensional, siswa hanya diberikan materi sesuai dengan apa yang disampaikan ustadz dan cenderung tidak memupuk kemandiriannya. Sebaliknya, apabila santri menggunakan kitab kuning digital Maktabah Syamilah, mereka dapat mengakses berbagai bahan materi sesuai dengan apa yang mereka cari.

Sejalan dengan perkembangan zaman, lembaga pendidikan pondok pesantren sudah seharusnya membuka diri untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pembaharuan tersebut harus dilaksanakan baik pada tatanan konsep maupun metodologi.

Pembaruan ini akan menjadi modal yang kuat bagi pondok pesantren untuk mengenali dirinya sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang memiliki kekuatan (srenght). Kekuatan tersebut diperoleh salah satunya dari kualitas dasar yang dimiliki oleh para pendidiknya – dalam hal ini kyai dan ustadz. Karena disadari atau tidak, mereka menjadi modal utama bagi sebuah lembaga pendidikan untuk menciptakan sistem pendidikan ke arah yang lebih baik.

Modal yang kedua adalah kemauan yang keras dari peserta didik (santri) untuk mau berkembang, berkompetisi dan beradaptasi dengan pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman yang sarat dengan teknologi.

Kitab Kuning Berbasis Multimedia

Pengembangan metode pembelajaran kitab kuning berbasis multimedia merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pondok pesantren untuk melek teknologi dan memperkenalkan peserta didiknya untuk mengenal zamannya karena zaman yang dialami oleh kyai atau ustadz tentunya berbeda dengan zaman yang dialami oleh para santrinya.

Meskipun demikian, dalam implementasinya, pemanfaatan kitab kuning berbasis multimedia di pondok pesantren akan dihadapkan oleh beberapa kendala yang perlu diantisipasi. Beberapa kendala tersebut antara lain:

  1. Untuk mengakses kitab kuning berbasis multimedia, diperlukan keterampilan khusus dari para santri atau ustadz karena kitab kuning digital tersebut hanya bisa diakses dengan bantuan komputer atau notebook.
  2. Meskipun penyimpanan data buku ada di memori komputer/notebook, namun hal ini tetap adanya ruangan ruangan khusus untuk menyimpan komputer dalam jumlah banyak, seperti laboratorium komputer.
  3. Oleh karena data buku tersimpan di dalam memori komputer, berarti memerlukan perawatan khusus untuk menjaga kondisi softwear dan hardwear komputer tetap terjaga kualitasnya.
  4. Penggunaan komputer atau notebook memerlukan daya listrik.
  5. Memerlukan biaya besar untuk membeli komputer/notebook dan membayar penggunaan listrik.
  6. Selain itu, pihak pondok pesantren juga harus membayar gaji teknisi untuk mengoperasikan komputer dan memperkenalkan penggunaannya kepada para santri dan/atau kyai.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan adanya dukungan yang maksimal dari pihak pengelola pondok pesantren untuk mengembangkan sistem pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Pondok pesantren sudah selaiknya mengadaptasikan visinya yang pada awalnya hanya mengembangkan disiplin keilmuan keislaman semata, tetapi juga pada disiplin keilmuan umum.

Meminimalisir Kesenjangan

Untuk mengembangkan sistem pembelajaran kitab kuning berbasis multimedia sendiri misalnya, diperlukan adanya upaya untuk meminimalisir adanya kesenjangan seperti yang dipaparkan sebelumnya.

Pertama, untuk dapat mengakses kitab kuning digital Maktabah Syamilah, para santri dan kyai atau ustadz dituntut untuk memiliki kemampuan lebih dalam mengoperasikan komputer atau notebook, misalnya dengan memasukkan pembelajaran komputer menjadi salah satu kurikulum muatan lokal.

Kedua, pihak penyelenggara pendidikan harus menyediakan ruangan khusus untuk penyimpanan komputer dalam jumlah yang banyak, misalnya dengan melengkapi sarana dan prasarana laboratorium komputer.

Ketiga, untuk menjaga kualitas softwear dan hardwear komputer yang ada di laboratorium, pihak penyelenggara pendidikan memerlukan teknisi khusus yang akan merawat perangkat-perangkat tersebut.

Keempat, pihak penyelenggara juga harus memperhatikan kebutuhan daya listrik yang meningkat akibat penggunaan intensitas komputer yang meningkat pula.

Kelima, proses pengadaan komputer dan perangkat lainnya sudah pasti diperlukan biaya yang sangat besar, termasuk pengadaan softwear Maktabah Syamilah sesuai dengan versi yang diperlukan.

Keenam, untuk membantu para guru dan santri dalam menggunakan Maktabah Syamilah, diperlukan pula tenaga ahli materi dan tenaga teknis untuk memperkenalkan penggunaannya.

Eksistensi Pesantren di Era Modern

Namun demikian, apa pun kondisinya, eksistensi pondok pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap dipandang signifikan. Pondok pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual. Keberadaan pondok pesantren sampai saat ini juga membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman.

Akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pondok pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan sebuah pondok pesantren ditentukan oleh sejauhmana pondok pesantren tersebut menformulasikan dirinya menjadi pondok pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.

Langkah ke arah tersebut tampaknya telah dilakukan beberapa pondok pesantren melalui sikap akomodatifnya terhadap perkembangan teknologi modern dengan tetap menjadikan kajian agama sebagai rujukan segalanya. Kemampuan adaptatif pesantren atas perkembangan zaman justru memperkuat eksistensinya sekaligus menunjukkan keunggulannya.

Keunggulan tersebut terletak pada kemampuan pesantren menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Pondok pesantren sejatinya melahirkan manusia paripurna yang membawa masyarakat dan negara ini mampu menapaki modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Inilah citra baru pesantren masa depan.

Penulis: Eva Fitrianti,MA.