Pengabdian Santri Untuk Negeri 360 Hari di Wakadawu – Part 2

178
wakadawu
Photo by Dinis Bazgutdinov on Unsplash

Bahkan pada hari minggu, 04 Agustus 2019, pak KS memperoleh info dari masyarakat bahwa didapati murid SMP dari desa Saburano dan Wakadawu sedang belajar main judi dan pada akhirnya paginya mereka dihukum. Bahkan ketika ditanyai satu persatu ada anak perempuan yang juga bermain. Astaghfirullahaladzim. Merubah sifat-sifat mereka adalah pekerjaan yang berat dan butuh waktu yang panjang.

Baca juga: Rahasia Kesehatan Dibalik Waktu dan Shalat Subuh

Di Tekonea raya ini alhamdulillah mayoritas beragama islam. Jika ada pendatang selain islam pasti disini akan dibenci mengingat saya pernah diduga sebagai guru agama non islam oleh teman dan sayapun langsung dicaci. Bahkan saya hampir di celurit ketika saya ngobrol malam rabu tanggal 13 Agustus 2019 dengan teman karena hampir tersinggung soal keyakinan beragama.

Wahh saya cukup merinding dan ketakutan hingga sulit tidur pada malamnya, padahal kita sudah berteman tetapi masih bisa diancam hal demikian apalagi jika belum kenal? Entahlah. Melihat hal demikian membuat saya berpikir juga dengan mengetahui orang-orang sini adalah daerah Indonesia timur yang terkenal dengan emosi tinggi. Jadi saya juga harus pintar-pintar dalam berkata-kata tentang aqidah agama.

Masjid di Tokena dan Wakadawu

Di Tekonea raya ini terdapat 2 masjid yang digunakan untuk masyarakat beribadah. Saya pun sedikit bertanya-tanya juga di tempat yang memang tidak luas begini, yang mungkin jika kita di Jawa hanya seluas 1 dukuh lah tapi ada 2 masjid. Bagaimana jika mereka menjalankan sholat jumat? Kita tahu bahwa salah 1 syarat sholat jumat adalah harus ada 40 orang penduduk lokal yang datang, terus jika begini apakah ada? Setelah saya mencoba sendiri menjalankan ibadah sholat jumat di 2 masjid secara bergantian, dan pernah juga berkhotbah di masjid-masjid tersebut, ternyata Alhamdulillah meski agak ngepress, saya sedikit menoleh disekeliling adalah orang yang hadir sesuai hitungan. Alhamdulillah lagi orang-orang juga tahu kalau ini adalah salah 1 kewajiban bagi kaum laki-laki.

Tapi yang sangat saya sesalkan bahkan hingga menginjak hampir bulan kelima saya disini adalah ketidakserasian antara takmir masjid Tekonea dengan masjid Wakadawu. Apa yang kurang cocok kah? Memang secara kehidupan sosial terlihat biasa saja, tapi setelah saya rasakan secara sosial beragama, keduanya memang terjadi ketimpangan cara berpikir.

Saya sendiri yang baru disini juga pernah hidup dirumah-rumah beliau selama kurang lebih 1 mingguan diawal-awal saya datang dahulu hingga pada akhirnya saya mengontrak di rumah kosong dengan teman-teman guru CPNS yang lain. Saya memang sengaja meninggalkan rumah para tokoh-tokoh agama tersebut demi menghindari kecemburuan sosial nantinya, ditambah lagi pak KS sekolah kami juga tidak ada kecocokan dengan imam masjid Tekonea yang saat itu secara langsung beliau curhat kepada saya.

Memang setelah beberapa hari saya hidup disini, akhirnya mengetahui kepribadian masing-masing dari tokoh-tokoh agama tersebut terutama yang paling saya soroti adalah imam masjid Tekonea. Banyak hal yang membuat hati saya untuk beribadah masjid sangat tidak nyaman. Sifat isrof atau berlebihan dalam menambah-nambah ibadah sangat sekali terasa.

Beliau juga mempunyai watak yang keras sehingga yang dulu beliau mempunyai banyak santri yang belajar membaca Alquran tetapi sekarang sudah tak ada yang mengaji. Akhirnya banyak orang/anak yang tidak suka dengan sifat beliau tersebut. 1 hal yang membuat saya sedikit sakit hati hingga sekarang adalah ketika beliau menyinggung kami berdua, pada saat itu saya bersama teman sesama guru agama yang juga baru datang juga.

Belajar Menghargai Perbedaan

Setelah sholat isya berjamaah dimasjid pada waktu setelah beberapa hari kedatangan saya disini, kita saling berkenalan dan bercanda-canda. Dia juga bertanya-tanya tentang status-status kami dan pada akhirnya yang membuat saya tidak senang adalah dia menyangkut-nyangkutkan status kami dengan beribadah yaitu untuk menjadi khotib sholat jumat disini adalah harus dengan tekhnik menghafal. Saya langsung kaget, dan spontan langsung menanyakan apa alasannya? Dan beliau menjawab alasannya adalah “kita itu malu kalau seorang sarjana maju khotbah membawa buku”, seketika suasana semakin tidak mendukung.

Saya juga menegaskan “bahkan di Jawa, seorang kyai atau doktor biasa maju dimimbar membawa buku”, tapi karena memang kekerasan watak beliau, beliau tetap teguh dengan aturannya tersebut. Saya pun hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Dan masih banyak lagi kejanggalan dalam ibadahnya yang membuat hati saya tidak tenang ketika beribadah di masjid.

Sebenarnya beliau sifatnya baik sekali dalam bersosial, saya saja sering dikasih makanan oleh beliau. Tapi memang hanya sifatnya dalam sosial beragama yang cukup sulit untuk diatasi, padahal beliau sudah berumur 65 tapi sifat keegoisannya masih tinggi. Ya inilah namanya hidup bermasyarakat, banyak macam-macam orang yang bisa kita jumpai. Kita harus bisa menghargai perbedaan karena perbedaan itu yang membuat hidup menjadi berwarna.

Jika seperti ini, maka sulit bagi saya untuk mengembangkan ibadah dimasyarakat sini, meski dihati cukup menderita, tapi saya mencoba bersabar dan berusaha untuk memperkuat agama di tempat tugas ini.

Kerukunan antar Umat Beragama Belum Terlalu Baik

Selain permasalahan diatas, kerukunan beragama belum terlalu baik. Hal itu terlihat dengan banyaknya TPQ di desa ini. Bayangkan hanya sebatas kurang lebih 400 meter persegi terdapat 5 TPQ. Mereka berdiri sendiri-sendiri, itu masih didesa lain. Memang sangat baik sekali sebenarnya semangat mengajar disini, walau juga banyak yang belum bisa mengaji Al-Qur’an tapi anak-anak disini dididik dari kecil untuk belajar jika orang tuanya memang benar-benar peduli dengan masa depan akhlak anaknya.

Sebenarnya jika kita bisa bersatu mendidik mereka dalam 1 wilayah dengan guru-guru yang banyak pasti hasilnya jauh lebih, tapi sementara ini saya masih belum bisa berbuat apa-apa mengingat saya masih baru disini. Saya memang sejak awal sudah mengajar disalah 1 TPQ nya tokoh agama yang cukup terkenal dengan ahli dakwah juga pandai dalam keadministrasian negara sehingga dia menjadi salah 1 penyuluh terbaik di Provinsi ini. Mungkin butuh waktu beberapa tahun kedepan jika saya memang benar-benar menginginkan perubahan yang lebih baik, tapi sayangnya waktu saya hanya setahun saja, harus bisa memaksimalkan waktu yang ada ini, semangat!

Sekolah kami bernama SMPN 1 Satap Wawonii timur. Kalau biasanya nama satap itu identik dengan gabungan sekolah SD SMP SMA, tapi sekolah ini mempunyai gedung sendiri-sendiri antara SD dan SMP nya. Bangunan SD memang sudah sejak lama dibangun sedangkan SMP kami masih 4 tahun yang lalu. Bangunan bagus yang di arsiteki langsung oleh orang australia ini memiliki 3 kelas saja yaitu kelas 1, 2, dan 3. Selain itu juga ada ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang OSIS, ruang BK dan kamar kecil untuk guru maupun murid. Sedangkan untuk ibadah sendiri, Alhamdulillah didepan sekolah kami ada masjid desa Tekonea, jadi untuk pengembangan ibadah, kami bisa menggunakan masjid tersebut.  Meski sekolah kami bagus, tapi sekolah ini tak luas, hanya ruangan-ruangan yang mengelilingi halaman seluas 30×20 meter.

Berbagi Jam Pelajaran Agama

Kami tahu sesungguhnya tugas utama kami sesuai dengan juknis wajib mengajar di sekolah yang tak ada guru agamanya. Berbeda dengan nasibku yang sekarang ada disini. Karena tahun lalu di kabupaten ini membuka formasi besar-besaran untuk guru termasuk 8 orang guru CPNS baru disini. Didalamnya juga ada guru agama, jadi saya berbagi jam pelajaran agama dengannya yang hanya 3 kelas ini. Teman saya yang mengajar kelas VII dan VIII sedangkan saya mengajar kelas IX. Yang membuat saya tambah kecewa tidak sesuai ekspetasi sebelumnya ternyata 2 bulan kemudian masuk lagi guru agama 1 lagi yang sebelumnya cuti melahirkan. Dengan terpaksa saya tidak mengajar pelajaran PAI. Pada waktu itu saya jadi berfikir apa tugas saya benar atau tidak?

Pada awal kedatangan dahulu, memang oleh kadepag kabupaten saya diberi tugas untuk ekskul saja seperti kaligrafi, tilawah, pidato atau yang lain. Saya sihh hanya mengikuti apa yang ditugaskan saja, karena memang pada waktu itu setidaknya saya masih mengajar jam agamalah, tidak menyangka kalau jadinya seperti ini. Meskipun pada awal-awal saya mendapat tugas penting untuk melatih lomba pentas PAI tingkat Provinsi, dan yang pasti itu berhubungan dengan ekskul juga sihh, yaitu lomba kaligrafi, pidato, dan MTQ.

Tetapi tujuan utama untuk memberikan pendidikan agama yang rohmatul lil alamin menjadi sedikit terabaikan. Bahkan diwaktu pas hati tak tenang sempat timbul perasaan untuk pindah. Dan puncakanya ketika hari Jumat, 04 Oktober 2019, Saya beranikan diri untuk pergi ke Kanwil kemenag Provinsi Sultra untuk meminta pencerahan. Setelah bicara dengan ibu Kasi Pendis hasilnya tetap sama, saya tetap ditugaskan di tempat semula agar tidak mempersulit administrasi. Dengan demikian saya sudah putuskan untuk memaksimalkan kemampuan yang saya miliki untuk bekerja semaksimal mungkin di sekolah meski tanpa mengajar PAI. Semangatt!

Memang sekolah didaerah kecil yang lingkupnya jauh dengan pemerintah dinas masih banyak kasus indisipliner bagi guru-guru, termasuk juga sekolah tempat tugas saya. Bahkan kasus ini sudah seperti sudah adat di daerah seperti ini. Kedatangan awal saya disini sebenarnya sudah sangat tidak senang dengan hal demikian, apalagi kita yang tinggal di Jawa sudah terbiasa mengajar disiplin setiap harinya di sekolah.

Meningkatkan Disiplin Guru

Guru yang datang terlambat atau hanya masuk ketika jam mengajarnya saja sudah menjadi hal yang biasa. Lebih dari itu guru biasa tidak datang saat waktunya mereka mengajar. Ada yang pulang kampung atau alasan yang lain. Tapi pada akhirnya setelah kami 3 bulan disini diadakanlah sebuah rapat yang mengubah segalanya pada hari sabtu, 26 Oktober 2019.

Rapat yang membuat semua menjadi ambyar. Kedisiplinan guru-guru menjadi meningkat, karena ada suatu suntikan dari pak KS yang merasuk keseluruh tubuh guru-guru baru kali ini. Tapi bagi guru-guru lama mereka sudah tetap kebal untuk menjadi guru nakal. Kalau kita boleh membandingkan dengan sekolah-sekolah lain di daerah terpencil ini, sekolah kamilah yang paling disiplin dalam pembelajarannya. Tapi sekolah kami sangat sulit untuk maju. Why?

Sebenarnya apa saja yang telah terjadi di sekolah kami selama 4 tahun ini berdiri? Lalu mengapa banyak guru bahkan masyarakat yang tidak senang dengan pak KS kami? Terus apa tujuan sekolah yang sudah mempunyai 2 guru agama mendatangkan lagi guru agama dari akademi bina kawasan ini? Dan apa yang bisa diperbuat oleh relawan ini selama 360 hari di negeri kecil ini?

Penulis: Ahmad Jakal
(Alumni Program Bina Kawasan 3T Kemenag RI)