Pendidikan Pencetus Perubahan

252
pendidikan
Photo by Annie Spratt on Unsplash

Saya merasa bahwa dunia pendidikan kita berjalan sangat lambat untuk menjemput perubahan. Lembaga pendidikan justru menjadi institusi yang paling tidak responsif terhadap perkembangan zaman yang dirajai oleh teknologi informasi.

Di saat anak-anak kita telah sangat jauh berselancar di jagad virtual, sekolah kita masih membatasi ruang-ruang kelas dengan dinding yang kokoh, sempit dan minim akses internet. Malah, kebanyakan sekolah bangga menerapkan aturan, siswa dilarang keras membawa gadget mereka.

Baca juga: Penjelasan Tafsir ‘Basmalah’ menurut Ibnu Abbas

Di dunia yang makin modern ini, hadirnya fisik menjadi tidak penting lagi. Semakin maju, makin virtual. Saat ini, barangkali kita sedang asyik duduk manis di ruang kantor yang ukurannya hanya (3 x 4) meter persegi, tapi tangan kita boleh jadi sedang menggenggam dunia. Jari dan jempol menuntun otak yang sedang ingin mengintip pasar global.

Pun anak-anak kita, mereka fasih merapalkan jenis-jenis mobil tank dari yang klasik hingga paling mutakhir. Imajinasi mereka tak terbendung, membayangkan dirinya secara utuh pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan melangkahi waktu, sangat cepat. Inspirasi seperti itu bukan diilhami oleh pengetahuan dari gurunya melainkan oleh kemampuannya menjelajahi lorong-lorong maya lewat sentuhan jari.

Penguatan Pendidikan Karakter

Andai saja, kita dilahirkan berbekal otak nalar saja tanpa otak emosi yang mampu mewarnai sisi-sisi kehidupan, barangkali sekolah secara fisik tidak dibutuhkan lagi eksistensinya. Guru bukan lagi sumber pengetahuan utama. Karena, pengetahuan yang nyaris lengkap dapat diunduh oleh anak didik kita melalui Google.

Satu-satunya alasan kenapa sekolah secara fisik masih diperlukan adalah bimbingan moral tidak bisa kita alihtugaskan kepada internet. Pertemuan langsung antara murid dan guru diharapkan mampu mewujudkan pertalian batin sebagai jembatan untuk membangun karakter peserta didik.

Untuk itu, penguatan pendidikan karakter tidaklah otomatis mewujud hanya dengan metode penambahan waktu berada di sekolah. Demikian juga, program-program sekolah yang ditujukan untuk penguatan karakter tidaklah serta merta efektif dan berkorelasi positif sesuai dengan tujuannya semula.

Diperlukan kesungguhan upaya pendidik untuk menjadi teladan. Jika menghendaki murid menjadi seorang pembelajar, guru lebih dulu membiasakan diri menjadi karakter pembelajar. Andai menginginkan siswa adalah seorang pembaca yang konsisten, guru telah mempraktikannya sebagai kebiasaan sehari-hari.

Perlu Dukungan dari Pemerintah

Dari sisi pemerintah, usaha melengkapi sarana dan prasarana sekolah yang mendukung kegiatan belajar mandiri tak bisa ditawar. Pemerintah daerah bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan agar mau menyisihkan anggaran CSR-nya untuk membantu satuan pendidikan mengembangkan media pembelajaran.

Paling tidak, ada dua hal yang harus diupayakan oleh pemerintah. Pertama, guru sebagai garda terdepan dalam membentuk kepribadian anak haruslah pula guru yang berkarakter. Pelatihan-pelatihan guru berkarakter harus dilakukan dengan serius dan berjenjang. Setelah itu, asesmen yang berkualitas terus diujikan secara periodik terhadap guru yang sudah terlatih.

Kedua, sarana yang menghubungkan guru dan peserta didik dengan jaringan internet selayaknya mudah, murah dan aman. Pemerintahlah sebagai penyedia utama perangkat-perangkat yang diperlukan.

Ke depan, barangkali belajar tidak perlu lagi ful berada di sekolah. Pelajaran yang bersifat transfer pengetahuan bisa dilakukan secara virtual. Siswa berada di sekolah untuk belajar mengembangkan mental karakter, kepemimpinan, dan penguatan etos kreatif.

Alhasil, belajar di sekolah lebih fleksibel. Kurikulum yang rigid sudah saatnya direvisi. Kurikulum telah semestinya bersifat dinamis, bukan untuk mengikuti perubahan, tapi bahkan kurikulum yang sanggup mengawali perubahan.

Penulis: Muhammad Dopir
(Guru Matematika SMP Al Fath BSD)