Pendidikan Karakter Bekal Hadapi Quarter Life Crisis

193
Pendidikan Karakter Bekal Hadapi Quarter Life Crisis
Photo by Tim Gouw on Unsplash

Bagi seorang remaja yang baru memasuki usia dewasa tentu sangat labil dalam setiap emosi dan tindakan yang diambil. Hal tersebut menjadi hal yang lumrah, karena dalam usia remaja seseorang akan mencari jatidirinya. Bagi remaja yang belum mengerti dunia orang dewasa tentu akan kerepotan.

Oleh karena itu ia membutuhkan dukungan orang-orang dekat; orang tua, guru, lingkungan yang baik,  teman sepergaulan dan bahkan pendidikannya  yang akan menjadi support system sekaligus pembimbing dalam menjadikannya bijaksana di masa mendatang. Seperti kata pepatah “beda usia, maka beda juga tantangan dan masalah yang dihadapinya.”

By The Way, untuk ukuran usia seseorang menurut WHO (World Health Organization) atau organisasi kesehatan dunia, yaitu: 0-1 tahun (bayi/infants), 2-10 tahun (anak-anak/children), 11-19 tahun (remaja/adolescents), 20-60 (dewasa/adult), 60 keatas (lanjut usia/elderly). penulis akan membatasi tulisan ini untuk usia 15-30 tahun yaitu masa pertengahan remaja dan awal usia dewasa.

Peran Pendidikan bagi Sebuah Negara

Masa remaja merupakan masa yang sangat penting untuk seseorang menemukan jatidirinya, sekaligus langkah awal untuk menentukan ingin menjadi apa di masa depan nanti. Baik itu faktor internal ataupun eksternal memberikan peranan penting dalam keberlangsungan seorang remaja. Begitu juga pola pikir yang akan terbentuk menjadi kedewasaan. Karena banyak orang dewasa yang memiliki pola pikir selayaknya anak kecil.

Lingkungan yang baik dan sehat akan menjadikan seseorang berkarakter bagus. Begitupula pendidikannya. Mengutip perkataan seorang tokoh nasional, Ki Hajar Dewantara, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak.”

Pernyataan tersebut menunjukan bahwa, pendidikan memiliki dampak yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Pada perang dunia II saat Amerika Serikat menjatuhkan bom Atom di dua kota negara Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.

Pada 6 Agustus 1945  di kota Hiroshima, menewaskan hingga ±140.000 korban. Kemudian di Nagasaki, menewaskan  ±70.000 korban jiwa. Hal pertama yang dilakukan Jepang saat itu adalah mengobati para tenaga pendidik atau guru yang masih bisa diselamatkan.

Dalam satu sumber menyebutkan, Kaisar Hirohito (bertakhta 1926-1989) berupaya membangun kembali bangsanya dengan memerintahkan menteri pendidikannya untuk menghitung jumlah guru yang tinggal dan masih hidup. Bahwa jumlah guru yang tersisa di Jepang adalah sebanyak 45.000 orang.

Walaupun Jepang adalah salah satu negara yang pernah menjajah Ibu Pertiwi, namun secara teknis dan penerapan kebijakan pendidikan Jepang memberikan gambran bahwa sekolah merupakan orientasi  untuk negara berkemajuan.

Walhasil, sebagai seorang guru pendidik menjadi kewajiban untuk membuat muridnya cerdas secara intelektual maupun spiritual. Karena guru akan berinteraksi secara langsung dengan murid-muridnya. Nasib seorang murid di maa depan nanti, tergantung bagaimana cara guru mengajarkan dan mendidiknya menjadi seseorang yang bermanfaat di masa mendatang.

Quarter Life Crisis bagi Generasi Muda

Quarter Life Crisis (QLC) atau krisis seperempat abad merupakan masa saat seseorang berusia 18-30 tahun, yaitu masa transisi antara remaja menuju dewasa yang merasa bingung, khawatir, galau akan ketidakpastian hidup bahkan tidak memiliki arah untuk masa depannya. Umumnya, kekhawatirin ini merupakan masalah relasi, keluarga, percintaan, karir, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Masalah QLC ini bukanlah masalah yang baru bagi seseorang yang sedang di masa transisi dari remaja menuju dewasa. Biasanya dampak QLC ini membuat seseorang merasa khawatir terhadap dirinya sendriri, seperti (1) rasa takut menjalani hidup (2) bingung ingin menjadi apa di masa depan (3) merasa kesepian karena semakin dewasa circle pertemanan semakain sedikit disekitar kita (4) kurang percaya diri atau minder dengan kemampuan yang kita punya (5) merasa demotivasi atau kondisi kehilangan motivasi dan kecewa dengan diri sendiri dalam mencapai target yang diimpikan, dan (6) overthinking karena merasa tidak pernah puas, membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan takut dengan segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa diri kita nanti.

Character Building bagi Generasi Muda

Setiap manusia tentu memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu tidak bisa menyamakan karakter seseorang. Namun, walaupun seseorang memiliki karakter yang berbeda-beda bukan berarti karakter tidak bisa dirubah sama sekali. Pendidikan karakter sebagaimana diketahui telah menjadi suatu pembelajaran penting disetiap sekolah/perguruan tinggi.

Drs. Hibur Tanis, M.M mengungkapkan dalam jurnal yang diupload pada Binus University, pendidikan karakter bertujuan menciptakan seseorang agar memiliki kerendahan hati, memiliki keberanian (courage) dalam arti benar-benar memiliki keberanian untuk menegakkan sesuatu yang dianggap benar dan bertanggung jawab, serta tidak memiliki keraguan.

Selain itu pendidikan karakter juga memiliki integritas (kejujuran, ketulusan dan keutuhan) tanpa rasa pamrih dan memiliki rasa perikemanusiaan dan belas kasihan (compassion).

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membentuk character building, diantaranya  seperti belajar menghargai diri sendiri, memperbaiki masa lalu, mengenal dan mengendalikan diri sendiri, memiliki rasa terus ingin belajar, memperhitungkan setiap tindakan yang akan diambil, kedisiplinan dan berkomitmen.

Pentingnya membangun character building tentu akan menjadikan diri kita bijaksana dalam setiap perbuatan, dan tentunya akan berdampak bagi masa depan dalam meraih cita-cita. Terlebih, hal tersebut merupakan solusi untuk terhindar dari masalah quarter life crisis (QLS), khususnya di era revolusi industri 4.0. Sehingga generasi muda mampu menciptakan problem solvingnya sendiri.

Penulis: Naufal Imam Hidayatullah