Esai dari Negeri Napoleon Bonaparte

854
Photo by Mike Benna on Unsplash

Oleh: Muhammad Fahri Kholid
(Mahasiswa Université Lumiére Lyon 2)

Prancis, negara yang terkenal dengan modenya serta dengan lambang ayam jago sebagai simbol kebanggaan negara ini, negara dimana Napoleon Bonaparte pernah memimpin sebagai raja, dan juga terkenal dengan pendidikan dimana pemikiran kritis sangat digaungkan mulai dari bangku sekolah. Hal tersebut menarik banyak mahasiswa asing yang mengeyam pendidikan di negara tersebut, salah satunya Muhammad Fahri Kholid, mahasiswa Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan S1 dalam bidang Langues étrangers appliquées di salah satu Universitas Negeri Prancis.

Memulai perkuliahan pertama di Prancis, bukanlah sesuatu yang mudah khususnya untuk pelajar asing yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, makanan, serta teman-teman di universitas, begitu juga dengan bahasa Prancis yang sangat sulit dipahami saat pertama kali memasuki kelas, perkataan serta penjelasan profesor seakan seperti mantra sihir yang sulit dimengerti dan mungkin hanya dimengerti olehnya, tapi tenang saja, semakin banyak waktu yang digunakan untuk mendegar penjelasan profesor, kita semakin mengerti apa yang dikatakan oleh profesor saat dikelas.

Ketika masa-masa sulit seperti itu, tidak sedikit dari mahasiswa asing yang meminjam catatan kepada mahasiswa Prancis untuk mencatat point-point penting pelajaran pada hari itu, pada umumnya profesor akan menaruh semua pelajaran yang dia bahas saat pagi hari pada hari itu juga, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengerti atau sebagainya, karena universitas disini sudah berpengalaman dengan mahasiswa asing yang mempunyai kendala dengan bahasa.

Dan setiap kota di Prancis memiliki beberapa universitas negri yang memiliki spesialisasi bidang masing-masing, contohnya saja, tempat dimana Fahri belajar saat ini, di Lyon sendiri ada 3 universitas negri yang besar yaitu, Université Claude Bernard, kampus ini mempunyai spesialisasi dalam bidang sains, selanjutnya Université Lumiére Lyon 2, terkenal dengan bidang seninya, mulai dari bahasa, hingga politik, dan terakhir ada Université Jean Moulin, ekonomi dan hukum sebagai bidang yang menonjol di kampus ini. Setiap mahasiswa dapat mengakses perpustakaan 3 kampus tersebut hanya dengan menggunakan kartu pelajar yang diberikan pihak kampus saat pertama kali mendaftar.

Semua fasilitas yang diberikan sangat mendukung semua program pembelajaran, mulai dari akses perpustakaan, ruang komputer bebas akses, hingga kantin universitas yang murah meriah, dengan 3,25 euro mahasiswa telah mendapatkan menu pembuka, menu principal, dan hidangan penutup, jangan takut dengan biaya yang dibayar setiap tahunnya, karena pemerintah Prancis telah mensubsidi 25,49 miliar euro untuk perguruan tinggi, riset serta inovasi, maka dari itu mahasiswa dalam negri maupun asing hanya membayar 170 euro untuk jenjang sarjana, 243 euro untuk pascasarjana sedangkan untuk doktoral 380 euro setiap tahunnya.

Berbicara tentang budaya Prancis, budaya yang sangat terkenal dengan pikiran yang kritis, mungkin pikiran ini didapat karena budaya literasi yang sangat melekat pada setiap warganya, bagaimana tidak, di setiap perpustakaan yang telah FRahri kelilingi di kota Lyon khususnya, mulai dari yang kecil hingga yang besar, banyak orang tua hingga nenek yang membawa cucunya yang masih kecil ke perpustakaan hanya untuk membacakan mereka cerita menarik.

Selain budaya berfikir kritis, warganya pun sangat menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara berolahraga dengan rutin, bahkan tidak sedikit dari warganya yang menggunakan sepeda, skateboard hingga otoped untuk pergi kerja atau kegiatan lainnya, selain menjaga kesehatan tubuh, mereka juga telah melakukan pengurangan polusi udara, dan pastinya dibarengi dengan mengonsumsi makanan pilihan yang sehat dan bernutrisi tinggi.

Melihat biaya kehidupan di Eropa yang tidak bisa dibilang murah, banyak dari mahasiswa asing, maupun mahasiswa dalam negri yang bekerja untuk membianyai kehidupannya selama masa kuliah. Di Prancis sendiri, pada umumnya anak muda berusia 18 tahun, sudah keluar dari rumah mereka untuk mencoba menjalani bagaimana hidup sendiri tanpa orang tua, mungkin kalau bahasa kitanya “merantau”, maka dari itu mencari pekerjaan disini tidaklah mudah, karena saingan kita adalah orang Prancis itu sendiri, tapi tenang saja, jika ada kemauan pasti ada jalan, pasti kita akan menemukannya.

Pernah saat musim dingin tiba, ketika uang sudah tidak memungkinkan mencukupi kebutuhan hidup sampai bulan depan, Fahri pernah mengalokasikan uang transportnya untuk kebutuhan makanan, dan menggunakan sepeda sebagai transportasi untuk pergi ke kampus di tengah dinginnya udara saat musim dingin, hal itu membuat sebuah jejak yang sangat membekas dihatinya, bahwasanya kesuksesan itu tidak didapatkan dengan hal yang mudah, semua butuh pengorbanan.

Mendapatkan pekerjaan adalah salah satu cara bagaimana keluar dari kesulitan hidup bagi semua orang, dan pada akhirnya dia mendapatkan pekerjaan part time di salah satu sekolah swasta untuk bekerja sebagai cleaning service, belajar sambil bekerja bukan lah hal yang mudah dilakukan secara bersamaan, di sini kita di tuntut bagaimana impian tetap pada relnya dan bahan bakar selalu terisi penuh pada gerbongnya, maka dari itu kita harus pintar-pintar membagi waktu.

Liberté Égalité Fraternité atau kebebasan, kesamaan dan persaudaraan dijadikan semboyan oleh bangsa Prancis dari tahun 1848 benar-benar melekat pada setiap warganya, begitu juga dengan institusinya, ada banyak asosiasi Prancis yang telah dia kunjungi, seperti L’Olivier des sages, FIL, la petit cantine, dan lain-lain, semuanya mencerminkan bagaimana pemerintah Prancis menjalankan semboyannya itu kepada setiap warga negaranya dan warga negara asing dari yang kaya hingga yang sulit mencari pekerjaan.

Banyak bantuan yang diberikan oleh pemerintah Prancis kepada seluruh masyarakatnya, mulai dari bantuan belanja kebutuhan sehari-hari bagi pekerja dengan gadi dibawah rata-rata, potongan biaya penyewaan rumah setiap bulannya, untuk orang tua yang mempunyai anak lebih dari satu akan diberikan bantuan lebih, dan masih banyak lagi jenis bantuan yang diberikan secara cuma-cuma, tapi untuk mendapatkan semua itu, kita harus menjalankan proses administrasi yang dibilang cukup sulit.

Dengan segelintir pengalamannya selama hidup dan belajar di negara ini banyak hal yang mengajarkan bagaimana berfikir kritis tetapi juga mengedepankan kepedulian terhadap sesama manusia adalah hal yang wajib. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya negara ini berusaha keras melakukan yang terbaik untuk menjunjung tinggi semboyannya.