Pandemi, Literasi Digital dan Pendidikan Toleransi

307
Merawat Toleransi Melalui Literasi

Covid-19 sudah ada lebih dari setahun, namun jumlahnya masih fluktuatif. Beberapa negara telah dihancurkan oleh Covid-19, dan beberapa negara telah berhasil melepas topeng mereka. Masa pandemi Covid-19 saat ini bisa menjadi momen penting, untuk merajut kebersamaan, toleransi, tolong menolong antar umat lintas agama dan kepercayaan.

Toleransi Kala Pandemi

Penanganan pandemi Covid-19 bukan hanya persoalan kebijakan, juga bukan pembenahan aspek teknis atau alokasi anggaran. Namun ada beberapa hal yang lebih filosofis, yakni berkaitan dengan moralitas agama dan fitrah manusia.

Dan sudah menjadi kewajiban bagi setiap masyarakat termasuk pelajar, untuk urun rembug menjaga kelangsungan harmoni keberagaman tersebut, baik melalui forum diskusi ilmiah maupun sekadar melakukan brainstorming penguatan nilai solidaritas sosial di dalamnya diperkuat dengan praktik sehari hari.

Penanaman nilai toleransi juga harus diiringi dengan semangat membudayakan literasi di kalangan pelajar, diantaranya melalui kemampuan literasi digital. Lembaga Pendidikan dan Pelatihan untuk Indonesia (LADUNI) melihat peluang dalam rangka memperkuat toleransi melalui forum seminar literasi pelajar.

Menggandeng mitra strategis, LADUNI melihat pandemi juga memiliki dampak positif terhadap kehidupan di Indonesia. Yakni, mendorong setiap pelajar beraktivitas, berinteraksi, dan bermigrasi ke ruang digital. Begitu pula dengan proses pembelajaran yang dialami generasi Z, mereka mengikuti pembelajaran jarak jauh secara daring.

Baca juga, Covid-19 dan Migrasi Ruang Digital.

Melalui materi literasi digital bertajuk penguatan konten positif di media sosial, pegiat literasi digital, Wachid Ervanto mengingatkan bahwa media sosial dapat mengelompokkan orang ke dalam identitas tertentu.

Dan dalam perjalanannya akan menciptakan masyarakat yang homogen yang berpotensi mengarah pada fanatisme. Nantinya, fanatisme akan membuat masyarakat menjadi tidak toleran terhadap kelompok yang berbeda.

Oleh karena itu, ia meminta pelajar untuk menghindari penggunaan media sosial yang menimbulkan kecenderungan sikap keberpihakan yang berlebihan, baik pada tokoh politik maupun figur yang mungkin membuat mereka tidak toleran terhadap kelompok yang berbeda.

Karena fanatisme bisa membuat orang kehilangan objektivitasnya dan hanya bisa melihat orang dari satu sisi saja. Sikap ini dapat dimitigasi dengan ikhtiar memperkaya kreasi konten positif di media sosial.

Karakter Pelajar Moderat

Wachid menambahkan, karakter pelajar moderat harus didorong agar dapat diimplementasikan di media sosial agar menumbuhkan karakter yang baik. Saat ini, banyak pembuat konten di media sosial yang luar biasa, misalnya youtuber. Namun, pembuat konten ini cenderung terbagi menjadi dua yakni yang bermuatan positif dan youtuber yang kontennya cenderung berisi hal-hal tidak mendidik.

Peran dari guru dan orang tua menjadi penting dalam membangun awareness para murid terkait konten-konten negatif dan data pribadi di ruang digital. Guru dan orang tua juga harus mengambil peran penting dalam membangun awareness para murid terkait konten-konten negatif dan data pribadi di ruang digital.

Di sinilah, pelajar diharapkan tak sekadar larut dalam euforia kemudahan akses media sosial, namun juga memiliki kepedulian yang tinggi untuk menjaga perdamaian dengan merawat nilai moderasi beraagama melalui internet dan media sosial.

Menjadi Relawan Literasi Positif

Artinya, pelajar yang merupakan bagian dari Generasi Z diharapkan perannya untuk menjadi “relawan”, yang tak sekadar sibuk dengan kepentingan pribadinya, namun juga punya kepedulian menjaga nilai-nilai persaudaraan dan persatuan bangsa. Bagi generasi Z yang akrab dengan internet dalam kesehariannya, menjadi relawan perdamaian bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Pertama, aktif menciptakan, memproduksi, dan menyebarkan konten yang bermuatan moderasi bergaam baik secara eksplisit maupun implisit. Konten yang moderat dapat dibangun dengan menjunjung tinggi prinsip penghargaan terhadap perbedaan dalam tubuh bangsa baik berbentuk tulisan, gambar, video, suara, dan sebagainya.

Wujud konkretnya, bisa dengan menulis artikel yang menyebarkan gagasan-gagasan persatuan, toleransi, dan persaudaraan di dalam bingkai islam Rahmatan lil ‘Alamiin yang dipublikasikan dan disebarkan di internet. Berbekal keterbukaan pikiran, semangat, dan kreativitas yang menjadi ciri khas generasi zaman ini, diharapkan muncul bermacam konten moderat yang kreatif dan inovatif di dunia maya.

Semangat, energi, dan kreativitas kaum pelajar saat inilah yang diharapkan bisa disalurkan untuk menyebarkan perdamaian dan mampu menjadi penggerak utama penyebaran konten-konten positif bernafaskan toleransi dan moderasi beragama yang bisa membentengi masyarakat luas dari pengaruh konten-konten negatif yang mengancam persatuan bangsa.

Militan dalam Beribadah, Toleran dalam Bermuamalah.

Penulis: Muhammad Chasan Fauzi 
(Mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta)