Pandemi dan Upaya Bertahan Hidup di Bawah Tekanan Mental

319
Pandemi dan Upaya Bertahan Hidup Dibawah Tekanan Mental
Photo by Ben Garratt on Unsplash

Pandemi Covid-19 yang menerjang seluruh dunia telah melahirkan kecemasan dan tingkat stress yang meningkat. Wabah yang berjalan hampir dua tahun ini bukan hanya ‘meruntuhkan’ ketahanan sebuah negara, tapi juga mengoyak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mengurangi pegawainya sehingga banyak orang yang kehilangan pekerjaan secara mendadak, pengurangan gaji dan jam kerja, pendidikan yang masih dilakukan secara daring sehingga banyak orang tua yang terlibat dalam proses pembelajaran dan kehilangan anggota keluraga karena terinfeksi virus corona.

Itu semua merupakan keadaan yang lebih dari cukup untuk menyebabkan masalah kesehatan mental bagi diri kita. Lebih dari itu pandemi Covid-19 menciptakan dampak negatif terhadap fisik dan psikologis.

Beragam dampak psikologis selama pandemi diantaranya gangguan stress pascatrauma, kebingungan, kegelisahan, frustasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tak berdaya. Bahkan beberapa psikiatris dan psikolog mencatat hampir semua jenis gangguan mental ringan hingga berat dapat terjadi dalam kondisi pandemi ini. Bahkan kasus xenofobia dan kasus bunuh diri karena ketakutan terinfeksi mulai bermunculan.

Jika kita merujuk pada kelompok struktur usia penduduk dunia, maka kelompok rentan yang terdampak pada kesehatan jiwa dan psikososial akibat infeksi Covid-19 diantaranya adalah perempuan, anak dan remaja, dan lanjut usia (lansia).

Baca juga: Memperkuat Persatuan Pasca Kemerdekaan

Mengutip salah satu hasil kaji cepat Survei Ketahanan Keluarga di masa pandemi yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), dari sebanyak 66 persen responden perempuan yang sudah menikah menunjukan bahwa gangguan psikologis yang paling banyak dialami adalah mudah cemas, mudah sedih, dan sulit berkonsentrasi.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian mengingat perempuan memegang peran yang sangat penting dalam mengelola rumah tangga. Anak-anak dan remaja pun tidak luput dari dampak kebijakan pembatasan penyebaran virus melalui sistem pembelajaran jarak jauh. Ruang gerak yang terbatas dan minimmnya interaksi dengan teman sebaya selama masa pandemi juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa mereka.

Begitu juga dengan kelompok lansia. Kerentanan lansia disebabkan oleh proses degeneratif yang menyebabakan menurunya imunitas tubuh, sehingga lansia rentan terinfeksi penyakit, termasuk virus corona. Di tengah kondisi pandemi yang penuh ketidakpastian, lansia mudah dihinggapi perasaan cemas berlebihan yang kemudian berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik.

Situasi yang demikian kompleks dan penuh tekanan secara psikologi dari setiap kelompok usia membutuhkan perhatian dan penanganan yang cepat sehingga tidak menjadi gangguan jiwa yang lebih serius. Kelomok rentan yang telah disebutkan di atas adalah potret umum kondisi masyarakat saat ini.

Proses Terjadinya Kecemasan di Masa Pandemi Covid-19

Pada dasarnya semua gangguan kesehatan mental diawali oleh perasaan cemas. Karena, kecemasan merupakan respons terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi. Kecemasan diawali dari adanya situasi yang mengancam sebagai situasi stimulus yang berbahaya (stressor).

Pada tingkatan tertentu kecemasan dapat menjadikan seseorang lebih waspada (aware) terhadap suatu ancaman, karena jika ancaman tersebut dinilai tidak membahayakan, maka seseorang tidak akan melakukan pertahanan diri (self defence).

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, kecemasan perlu dikelola dengan baik sehingga tetap memberikan awareness namun tidak sampai menimbulkan kepanikan yang berlebihan atau sampai pada gangguan kesehatan kejiwaan yang lebih buruk.

Reaksi kecemasan setiap orang berbeda-beda. Bagi sebagian orang reaksi kecemasan tidak selalu diiringi dengan reaksi fisiologis. Namun pada orang-orang tertentu, kompleksitas respons dalam kecemasan dapat melibatkan reaksi fisiologis sesaat seperti; detak jantung menjadi lebih cepat, berkeringat, sakit perut, sakit kepala dan gejala lainnya.

Pentingnya Mengelola Kecemasan Bagian dari Bertahan di Tengah Pandemi

Pada dasarnya mengelola kecemasan agar tetap pada tingkatan yang proporsional, merupakan hasil dari proses penilaiaan (perception of situation) yang terjadi berulang kali. Proses penilaiaan ini dapat berubah seiring seseorang terpapar oleh informasi.

Sebagai contoh, pada awal-awal masa pandemi Covid-19, tindakan membeli kebutuhan secara berlebihan merupakan salah satu contoh penilaian individu terhadap ancaman kelangkaan bahan kebutuhan pokok.

Mungkin saja keputusan panic buying tersebut dilakukan karena input informasi yang ia dapatkan dari media kemudian digabung dengan pengalaman masa lalu ketika ketersediaan baha-bahan pokok menipis pada masa krisis moneter. Namun, tindakan tersebut tidak berlangsung lama karena dianggap tidak efektif.

Kecemasan adalah sesuatu hal yang tidak dapat dihindari ketika berada pada kondisi penuh tekanan seperti di masa pandemi Covid-19. Salah satu kunci penting mengelola kecemasan adalah pada penyeleksisian informasi yang diterima. Informasi tersebut hendaklah berasal dari sumber terpercaya dan memiliki kredibilitas dibidangnya.

Pandemi Covid-19 Adalah Sebuah Kenyataan

Sampai saat ini, belum ada perkiraan akurat tentang berapa lama situasi pandemi Covid-19 akan bertahan, jumlah orang terinfeksi diseluruh dunia, atau berapa lama kehidupan orang akan terganggu.

Karena kehidupan harus tetap berjalan, maka langkah awal yang dilakukan adalah penerimaan. Penerimaan memiliki arti memberi ruang kesadaran yang penuh kepada diri bahwa pandemi Covid-19 adalah sebuah kenyataan. Kalau kita sudah menerima bahwa kondisi sekarang bukanlah kondisi normal, maka kita akan siap untuk beradaptasi.

Kemampuan setiap orang untuk beradaptasi pun berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan dan cara seseorang beradaptasi seperti; keperibadain, usia, pengalaman, proses belajar, kondisi fisik dan lingkungan.

Kesuksean beradaptasi seseorang akan melahirkan daya pantul atau resiliensi pada diri seseorang. Dan jangan lupa ketuka mulai merasa memiliki gejala gangguan mental ringan, langkah awal adalah meminta pertolongan pada orang-orang terdekat yang bisa dipercaya. Jika hal itu belum membuahkan hasil meminta bantuan kepada pihak yang kompeten seperti psikolog atau psikiatri.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)