Pancasila dan Tantangan Ideologi Generasi Millenial

139
Tantangan dan Penguatan Ideologi Pancasila Bagi Generasi Muda
Photo by beta-site.ui.ac.id

Pada tanggal 1 Oktober lalu, kita baru saja merayakan hari kesaktian Pancasila, yang hari tersebut dirayakan satu hari setelah peringatan pemberontakan G30S. Sampai saat ini Pancasila terus hadir serta berkembang dan mampu bertahan sebagai ideologi negaraseiring dengan perkembangan zaman.

Di zaman sekarang, generasi milenial, baik generasi Y dan generasi Z harus mampu menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara saja. Melainkan juga menjadikan sebagai landasan berfikir serta ideologi yang mereka anut dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai dasar ideal, merupakan komitmen pada negara, pengakuan negara, dan menjadi dasar pengembangan karakter bangsa Indonesia. Berdasarkan pandangan fungsionalisme struktural, negara multietnis yang dapat dijadikan sebagai nilai yang komprehensif, kesamaan denominator, identitas bangsa, dan nilai-nilai yang dianggap mudah dicapai (nilai ideal) (Kariyadi & Suprapto: 2017).

Pancasila harus dipahami bukan hanya sebagai formalitas belaka, karena jikalau hanya sebatas itu, banyak pihak yang akhirnya menyepelekan atau bahkan menghiraukan fungsi dan arti Pancasila itu sendiri. Seperti yang kita ketahui saat ini banyak fenomena-fenomena yang menjadikan seolah-olah Pancasila sudah tidak relevan dan bahkan ada yang menyatakan Pancasila sebagai ideologi yang tidak benar.

Fenomena ini didasari oleh adanya pergeseran pola pikir yang dialami oleh generasi muda saat ini. Secara spesifik, penyebab turunnya nasionalisme juga patriotisme pada generasi penerus bangsa yakni salah satunya karena berkembangnya era globalisasi, yang menyimpan dampak negatif disamping dampak positif yang diperoleh.

Baca juga: Personal Branding Sebagai Kebutuhan Generasi Milenial

Disamping itu, permasalahan Pancasila yang selalu dibenturkan dengan agama yang sebenarnya sudah muncul sejak dulu kembali marak terjadi akhir-akhir ini. Dalam sejarahnya, tercatat bahwa pernah ada yang menyebutkan bahwa agama adalah musuh utama Pancasila yang sejatinya sangat berseberangan dengan esensi yang dimiliki oleh Pancasila itu sendiri.

Pancasia sendiri merupakan sebuah nilai falsafah kehidupan yang sudah ada bahkan sebelum Pancasila itu dirancang dalam sebuah konsep yang terstruktur. Sebagai filosofische groundlaag Indonesia merdeka, Pancasila adalah sumber nilai utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Dikutip dari Republika.co.id (01/06/21))

Nasionalisme juga patriotisme merupakan bagian penting bagi negara juga bagi kehidupannya. Dibandingkan dengan budaya Indonesia, banyak anak muda yang menyukai budaya negara lain bisa membuktikan hal tersebut.

Kita semua pasti masing ingat dalam sejarah, Bung Karno pernah mengatakan bahwa Pancasila merupakan ideologi alternatif yang beliau tawarkan saat dunia dihadapkan dengan persaingan dua super power dengan ideologi yang kuat pada masa itu, yaitu Amerika Serikat dengan kapitalisme dan liberalismenya serta Uni Soviet dengan ideologi komunisnya.

Alasannya adalah, karena Pancasila mampu mempersatukan ideologi yang bertarung, dan bahkan menjadikan Indonesia terbebas dari persaingan tersebut. Situasi ini membuktikan bahwa Pancasila merupakan sebuah ideologi terbuka dan sebuah penegasan pola pikir yang dinamis dari para pendiri negara kita dalam tahun 1945 tetapi juga merupakan suatu kebutuhan konseptual dalam dunia modern yang berubah dengan cepat.

Implementasi Nilai-nilai Pancasila Bagi Generasi Penerus Bangsa

Sikap nasionalisme harus dibarengi dengan upaya memahami Pancasila. Sebagai landasan dan pedoman hidup bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai kebangsaan, dan harus menjadi generasi penerus bangsa yang dapat menanamkan nilai-nilai kebangsaan itu kembali kelak kepada generasi penerus bangsa selanjutnya.

Dengan memahami Pancasila maka ciri kebangsaan dapat dikembangkan. Nasionalisme tidak terlepas dari keinginan untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, karena diperlukan untuk menanamkan pendidikan karakter pada setiap orang. Indonesia saat ini menghadapi era globalisasi ekonomi yang kompleks. (Devyane & Dinny : 2021)

Jangan sampai pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang di Indonesia, menjadikan bangsa kita terlena serta jiwa nilai-nilai Pancasila juga memudar, yang akan membawa hal-hal buruk bagi negara yakni kemerosotan generasi muda di era milenium ini.

Pesatnya perkembangan teknologi harus dijadikan sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila secara mudah.

Apapun itu, hendaknya masing-masing dari kita, khususnya para generasi muda saat ini untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar fondasi berfikir dan berkehidupan. Dimulai dengan memperkuat nilai-nilai keesaan Tuhan atau dalam islam disebut dengan ketauhidan yang merupakan prinsip dari hablum minallah.

Kemudian diperkuat dengan nilai kemanusiaan, prinsip selalu berusaha memanusiakan manusia tanpa memandang perbedaan suku, bahasa serta agama yang ia anut. Yang dalam islam disebut dengan hablum minannas.

Mengkapanyekan asas persatuan dan kesatuan. Karena sejatinya perbedaan serta keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa ini merupakan sebuah anugerah dari Allah Swt. yang harus kita semua jaga dan syukuri.

Konsep musyawarah mufakat, gotong royong serta kebersamaan yang kuat adalah konsep bernegara yang sudah diwariskan oleh founding father kita kepada generasi penerus bangsa saat ini. Jangan sampai pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menjadikan kita kalah serta membuat orang semakin individualis dan tidak peduli kepada nasib saudaranya.

Serta yang saat ini terlihat luntur adalah generasi penerus bangsa harus menanamkan sifat adil dan berkeadilan. Tanpa adanya keadilan yang haqiqi di muka bumi pertiwi ini, bangsa kita tidak akan solid dan pelan-pelan bisa terjebak kedalam sebuah krisis yang besar.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid