Optimisme Membangun Solidaritas di Tengah Pandemi

135
Optimisme Membangun Solidaritas Di Tengah Pandemi
Photo by Gabriella Clare Marino on Unsplash

Pandemi Covid-19 memaksa setiap individu untuk menjadi pribadi yang mandiri sekaligus anti-sosial. Bagaimana tidak? Mulai dari hilangnya kebiasaan gotong royong antar warga sebagai bentuk solidaritas, berjabat tangan saat bertemu hingga kegiatan beribadah semua harus dibatasi dalam interaksi satu sama lain di luar rumah.

Berdasarkan anjuran pemerintah untuk tetap menerapkan protokol kesehatan; menjaga jarak minimal dua meter, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu pencegahan dalam interaksi sosial secara langsung.

Negatif Thinking Effect of  Covid 19

Demikian juga pandemi menjadikan disorganisasi dan disfungsi sosial dalam bermasyarakat. Seperti, adanya prasangka dan diskriminasi terhadap korban Covid-19 merupakan perwujudan disorganisasi sosial.

Dan adanya sikap masyarakat yang mulai membatasi jarak dengan orang lain karena khawatir terjangkit virus Corona merupakan perwujudan disfungsi sosial.

Baca juga: Inovasi Bisnis Primadona di Tengah Pandemi

Pada masa pandemi ini masyarakat sempat dibuat panic buying atau rasa takut yang tidak rasional akibat Covid-19 dengan berbondong-bondong berdesakan membeli bahan pangan dan rela rebutan di tempat belanja untuk mendapat bahan makanan.

Betapa banyak orang yang memborong bahan pangan, mulai dari daging ayam, beras, gula, sampai bahan pokok lainnya. Tak hanya itu, orang-orang pun banyak yang memborong bumbu dapur seperti jahe dan yang lainnya.”

Social Dsitancing dan Physical Distancing

Murty Magda Pane, ST., M.Si, seorang dosen di Binus University, menulis dalam sebuah karya ilmiahnya yang di unggah dalam website resmi Binus University, Organisasi kesehatan Dunia (WHO) telah resmi mengubah istilah social distancing menjadi physical distancing.

Pengubahan istilah tersebut dimaksudkan agar interaksi antar masyarakat tetap berlangsung walaupun berjauhan fisik. Tentu hal tersebut menjadi lebih baik, mengingat dalam konsep social distancing telah membatasi interaksi sosial masyarakat.

Resiliensi Masyarakat dan Upaya Bertahan Hidup

Resiliensi diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapi tekanan baik internal maupun eksternal.

Resilisiliensi masyarakat tercipta dari dorongan individu saat bertahan hidup dalam sutuasi pelik yang menimpanya saat seseorang berhasil beradaptasi dengan kondisi yang tidak menyenangkan.

Panjangnya Pandemi Covid-19 berhasil membuat masyarakat dalam membiasaakan dirinya untuk upaya bertahan hidup. Baik dalam segi finansial, sosial, pendidikan, stabilitas psikologis, serta fleksibilitas dalam penyesuaian kondisi yang mencekam.

Dr. dr. Sarigan, Sp.B(K)KL., M.Kes, menyampaikan dalam website resmi Universitas Islam Indonesia (UII), “Dalam upaya untuk mencapai resiliensi bersosial, masyarakat memang perlu memulai dari control diri, dukungan sosial, optimism, kemampuan untuk memecahkan masalah, kesadaran emosional, keyakinan diri, dan senses of humor.”

Upaya bangkit dalam situasi pelik (Pandemi Covid-19) ini diperlukan mental yang kuat dan kesadaran setiap individu dalam membangun tameng spiritualisme dan optimisme.

Dengan begitu, masyarakat akan lebih bijaksana dalam berprilaku dan bersosial di tengah pandemi Covid-19. Dengan adanya resiliensi ini menimbulkan nilai percaya diri bagi masyarakat untuk memotivasi masyarakat lainnya dan mau membantu satu sama lain dan menerapkan nilai-nilai solidaritas.

Mulai dari hal kecil dengan saling tolong menolong, saling berbagi, saling support, saling menjaga solidaritas dan juga saling mengingatkan. Maka akan terciptanya lingkungan sosial yang harmonis.

Penulis: Naufal Imam Hidayatullah
(Mahasiswa PBA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)