Nissa Sabyan dan Keambyaran Kita

1083
instagram.com/nissa_sabyan

Oleh: Rahmatullah Al-Barawi

Belum lama ini Nissa Sabyan menghebohkan jagat dunia maya. Bukan karena gosip percintaan, tetapi lagu yang dibawakannya mengundang perdebatan. Dia memilih lagu “Ya Tabtab” yang dipopulerkan oleh Nancy Ajram, penyanyi asal Libanon yang beragama Kristen Ortodoks. Tidak hanya itu, lagu tersebut juga dianggap tidak pas dengan momentum Ramadan yang sedang diperingati.

Alhasil, banyak yang mencerca Nissa Sabyan, meski tidak sedikit juga yang memujinya. Golongan yang menyerang pelantun lagu “Deen Assalam” ini berpendapat bahwa lagu “Ya Tabtab” itu tidak “islami”. Sedangkan yang mendukung penyanyi gambus ini beranggapan bahwa lagu tidak beragama sehingga ia bisa dilantunkan oleh siapa saja.

Terlepas dari pro dan kontra, apa yang dilakukan oleh Nissa Sabyan menjadi pengingat untuk kita semua. Khususnya dalam fenomena keberagamaan yang semakin ambyar. Sebagian dari kita sangat mendewakan bahasa Arab. Puncaknya adalah semua yang berbau Arab dianggap untaian doa yang mujarab.

Tentu hal ini tidak terlepas dari semangat populisme Islam yang sekarang kian menguat. Contohnya fenomena selebritas yang berbondong-bondong “hijrah” dan “menyulap diri” menjadi ustaz. Sebagian dari mereka juga membangun brand bisnis, seperti hijab, pakaian dan makanan yang semuanya ada label halal.

Gerakan tersebut juga mencoba menggunakan istilah-istilah Arab. Seperti akhi, ukhti, masyaallah, qadarullah, tabarokallah, dll. Tentu ungkapan tersebut sah-sah saja untuk diucapkan. Tetapi, menjadi masalah jika membuat pola pikir kita menjadi serba Arab. Bahwa bahasa Arab itu lebih utama daripada bahasa Indonesia. Sehingga mengarusutamakan semua yang berbau Arab, termasuk lagu yang dilantunkan oleh Nissa Sabyan.

Belakangan mereka mencerca Sabyan karena lagu tersebut tidak masuk kualifikasi syar’i. Sebagaimana kicauan @afafaziiz di twitter, “Nissa sabyan nyanyiin lagu ‘Ya Tabtab’ di acara Syair Ramadan. Dulu kujuga nariin lagu itu pas acara di pesantren. Padahal lagunya gak ada islami2nya woy, itu tentang cinta2an wkwkwk”.

Seharusnya fenomena Sabyan ini menyadarkan para aktivis hijrah yang terpesona dengan Arab. Kadar keislaman kita tidak ditentukan oleh penggunaan bahasa Arab. Sebab, jika itu yang menjadi ukuran, tentu orang Kristen Ortodoks di Mesir jauh lebih kaffah Islamnya daripada kita. Dengan kata lain, Islam itu bukan Arab dan tidak semua yang Arab itu adalah Islam.

Jika mau membuka lembaran sejarah, kita akan paham bahwa sejak lama sudah ada populasi Yahudi dan Kristiani yang mendiami Timur Tengah. Bahkan jauh sebelum kedatangan Islam. Karenanya pada tataran yang lebih dalam lagi, Islam, Yahudi dan juga Kristen sebenarnya adalah bersaudara. Kita semua satu rumpun dari tradisi semitik yang berbahasa Arab. Sehingga sesama keturunan pengguna huwa huma hum, seharusnya kita bisa saling berempati.

Selain itu, gubahan lagu pada dasarnya adalah netral. Ia akan menjadi subyektif ketika liriknya telah didendangkan oleh sang biduan. Satu bait lagu yang sama akan mempunyai makna yang berbeda jika dilantunkan oleh orang yang tak sama. Lagu yang bahagia bisa menjadi sedih jika didendangkan oleh orang yang baru putus cinta.

Kita bisa merasakan ini dari lagu-lagu yang dilantunkan oleh Mas Didi Kempot. Meski lagu-lagunya bercerita seputar patah hati dan sedihnya menahan pilu, tetapi tidak sedikit sobat ambyar yang menyanyikannya dalam kondisi bahagia. Apalagi ketika konser berlangsung, lagu yang galau diekspresikan dengan ke-ambyar-an penuh sukacita.

Contoh lainnya adalah dari lagu “Ya Tabtab” yang disenandungkan oleh seorang jomblo ngenes akan berbeda nuansanya dengan anak muda yang sedang kasmaran. Pembawaan Sabyan dan Nancy jauh berbeda dan memang tak perlu disamakan.

Perbedaan nuansa ini lahir dari kekuatan rasa yang ditimbulkan oleh sang penyanyi. Sebab, lagu itu ekspresi hati, bukan sebatas teriakan orasi. Karenanya penyanyi terbaik adalah yang mampu membawa penikmatnya hanyut dalam lagu tersebut. Nissa Sabyan berhasil melakukan itu, minimal sebelum kita mengetahui fakta sebenarnya dari lagu “Ya Tabtab”.

‘Ala kulli hal, terima kasih Nissa Sabyan telah memilih lagu Nancy Ajram. Karena dengannya, kita semua disadarkan kembali tentang kualifikasi lagu yang “islami”. Lagu “islami” bukan yang berbahasa Arab, tetapi yang dilantunkan dari hati. Tetaplah berkarya dan menghibur masyarakat Indonesia, khususnya bagi generasi yang memilih jomblo daripada tersakiti.

Rahmatullah Al-Barawi, Penikmat Buku dan Rindu.