Nasib Guru Honorer

328
guru
Sumber Foto syaifulanshor.com

Baru saja saya membaca tulisan Pemred MediaGuru Eko Prasetyo, Ada hal menarik menurutnya, “Guru layak digaji minimal 25 juta per bulan plus tunjangan,” Meskipun itu hanya contoh kalimat, tetapi saya sangat setuju guru digaji tinggi.

Artikel terkait Guru, lihat Pentingnya Menghormati Guru Bagi Seluruh Murid.

Melamar Kerja sebagai Guru

Lima tahun lalu, ketika saya baru lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, tepatnya pada September 2015. Saya langsung tancap gas menyebarkan lamaran kerja ke sekolah-sekolah.

Dua pekan saya menjelajahi kota kelahiran, panggilan kerja tak kunjung datang. Oh, begini rasanya sulit mencari kerja. Bahkan, keinginan untuk mencerahkan dan mencerdaskan anak bangsa pun ternyata butuh perjuangan. Saya terus menahan teriknya matahari, dengan keringat yang bercucuran membasahi sekujur tubuh.

Saking lelahnya sempat terbesit dalam pikiran. Ini pula yang menjadi pertanyaan banyak orang. Apa betul harus punya ‘orang dalam’ untuk bisa bekerja? Ah, pikiran itu segera saya buang jauh-jauh. Mungkin karena belum rejeki saya saja.

Saat saya dalam perjalanan pulang, entah itu hari ke berapa saya menjelajahi Karawang dan sekitarnya. Tiba tiba telepon selurer saya berbunyi, di seberang terdengar perempuan  baya. Ternyata, ia  kepala sekolah yang saya titipkan surat lamaran kerja.

Dalam percakapan tersebut, sebut saja Ibu Dedeh mempersilakan saya datang menghadapnya di sekolah. Terjadilah perbincangan, antara lain alamat rumah, pengalaman mengajar serta yang lainnya.

Semurah ini Profesi Guru Dihargai?

Saat itu, saya tidak menanyakan besaran gajinya, yang terpenting mendapatkan kesempatan dan pengalaman saja sudah cukup. Namun, Ibu Dedeh menceritakan, “Sekolah yang dipimpinnya termasuk yang kecil, dibanding dengan sekolah-sekolah sekelilingnya”.

Nah. Karena itu, Ibu Dedeh bertanya, “Mau engga Bapak ngajar di sini tapi hanya enam jam sepekan?”

Saya pun mejawab, “Iya Bu mau”

“Gajinya pun 20 ribu per jam, berarti Bapak digaji 120 ribu setiap bulan, Bapak siap?” melanjutkan pertanyaannya.

“Insyaallah saya siap bu” saya menjawab sambil tersenyum.

Gaji 120 ribu dengan perjalanan 20 km. Saya merenung sepanjang perjalanan pulang. Semurah inikah profesi guru dihargai? Bagaimana mau menghasilkan anak didik yang berkualitas? Bagaimana guru mau fokus mendidik anak bangsa? Sementara, kesejahteraan jauh dari kata layak, padahal tugasnya sangat mulia dan tidak mudah. Begitu banyak pertanyaan terlintas dalam pikiran kala itu.

Ah, ya sudah Insyaallah pintu rejeki akan diberikan dari jalan yang lain. Buktinya kok banyak guru yang masih bisa ‘makan’ meski harus sambil jualan atau ojek online. Kembali meyakinkan keputusan yang telah diambil.

Omnibus law dan Nasib Guru

Sementara itu, disisi lain beberapa waktu lalu bahkan sampai saat ini sebagian besar orang menolak UU Omnibus law karena merugikan kaum buruh. Rasa-rasanya para guru honorer sudah merasakan apa yang menjadi tuntutan tersebut. Misalnya :

  1. Pengupahan dengan sistem jam
  2. Kerja sebulan yang dibayarkan seminggu
  3. Tidak ada pesangon
  4. Tidak ada tunjangan
  5. Siap di-PHK jika ada PNS
  6. Dikontrak seumur hidup
  7. Gaji jauh dari UMR

Begitulah potret miris kesejahteraan guru honorer. Namun, meskipun penghasilannya tidak menentu, mereka tetap menjalankan amanahnya sebagai pahlawan. Karena guru adalah pahlawan para pahlawan.

Penulis: Kardiyah, S.Pd