Nasi Goreng Idul Fitri ala Oemar Bakri

343
nasi
Photo by National Cancer Institute on Unsplash

Setelah memperingati hari Raya Idul Fitri, tak seperti yang lain, orang-orang masih menikmati masa-masa bersama keluarga, guru Oemar Bakri era kini justru murung. Dadanya sesak menahan energi emosinya agar tak meledak jadi marah, supaya tak tumpah jadi sedih, apalagi mendorong air di kelopak matanya. Sekuat tenaga ia tahan agar yang tampak tetap senyum.

Menyiasati Uang Dua Lembar Terakhir

Malam itu, maksud hati melepas lelah. Setelah seharian penuh menguras pikir dan tenaga demi merancang suasana belajar yang manusiawi dan menyenangkan, istri pak guru itu berkata, “Pak, uang kita tersisa dua lembar 50 ribuan”. Deggg… seperti ada yang menghantam perasaannya seketika. Pak guru membetulkan posisi duduknya yang semula “leyeh-leyeh”, kini punggungnya dimundurkan, posisinya ditegakluruskan dengan tembok yang jadi sandaran.

Baca juga: Cigedang dan Ritus Lebaran yang Mulai Hilang

Istri pak guru masih berseloroh, “Sana, itu buat beli beras 5 liter yang 8 ribuan, terus beli susunya si dede yang kecil aja, supaya ada sisa cukup untuk beli telor barang 5 atau mungkin bisa 7 biji”. Diamnya begitu dalam, benar-benar tak tahu harus bilang apa, pak guru itu sibuk mengatur tingkah yang pas menyambut ucapan si istri.

Ia lepas sarungnya, berganti celana pendek lalu mengambil dua lembar uang 50 ribuan itu di samping TV, kemudian bergegas keluar. Si kakak, anak pertamanya itu teriak, “Kakak ikut pak”. “Cuma sebentar, sayang…” balas pak Guru. “Gak apa-apa pak, kakak ikut aja”, timpal si kakak. Padahal, dalam hatinya risau, “Gimana kalau si kakak minta jajan, ya Allah, harus bilang apa nanti”.

Barangkali istri pak guru itu memang sudah menghitung dengan cermat uang dua lembar 50 ribuan itu dapat apa. Susu yang biasanya 900 gram ia beli, kali ini hanya cukup yang nettonya 600 gram seharga Rp48.500,-. Kebetulan harga beras yang satu liter 8 ribu masih ada, beli lah ia 5 liter. Juga tak meleset dari perkiraan, sisa uang cukup untuk dapat membayar telor sebanyak 7 biji. Terakhir tinggal seribu perak, ia bawa pulang dan seribu rupiah itu ia masukan ke kaleng bekas biskuit.

Makan Malam dan Keresahan Pak Guru

Mulailah adegan makan malam dengan menu nasi goreng, campur telor, tok, til… Tak ada tambahan lauk apa-apa lagi, selembar krupuk mini pun tak nampak. Si pak guru masih dalam diamnya. Dia bingung kata apa yang pantas untuk membuka makan malam bersama itu. Di dalam kepalanya penuh sesak dengan pikiran yang kusut. Dia sadar, ini masih pertengahan bulan. Sisa beli beras, susu dan telor tadi hanyalah seribu perak. Jangankan mikir buat sampai akhir bulan. Lusa, ia masuk ke sekolah, tangki motor sudah hampir kering perlu dikucuri ulang pertalite.

“Wah, nasi gorengnya enak, ma…”, Tetiba si kakak meluncurkan kata itu. Hati pak guru mendesis, terasa dingin, sempat menggetarkan bulu kuduk. Jelas itu bukan perasaan gembira. Itulah sedih yang menyayat. Ia tahan sebisanya agar kelopak mata tak turut bergetar dan mengalirkan air emosional itu.

Dibebani keadaan tak punya uang, istri pak guru hanya menjawab datar kata-kata si kakak, “besok mama bikinin lagi nasi goreng seperti ini, kak…”. Polos dibalas oleh si kakak, “makasih mama”. Hingga semuanya dirapikan, sepatah pun kata tak terucap dari mulut pak guru. Makan malam selesai diliputi keheningan hati pak guru dan istrinya.

Pagi ini, si kakak agak buru-buru. Pasalnya, kakak bangun kesiangan. Sedari tadi dibangunin sangat susah. Pak guru, yang tiap hari harus mengantar anak gadisnya itu ke sekolah, sudah rapi lebih dulu, tinggal nunggu si kakak sarapan dan menyiapkan yang lainnya.

Sembari nungguin, pak guru mengamat-amati wajah si kakak saat sarapan. Semburat kelabu nampak di matanya. Tidak semangat. Kunyahannya lamat-lamat tak bergairah. Pak guru pun mencoba membuka tanya, “kenapa kak, masih ngantuk ya?”. “Enggak apa-apa pak”, balas si kakak. “Sarapannya gak enak ya, nak?”, Pak guru bertanya lagi. “Iya pak, kurang enak rasanya”, jawab si kakak.

Kali ini bukan perasaan dingin yang meremas hatinya, tapi perih, pedih yang teramat sangat. Dalam hati pak guru berkata, ” nasi goreng hari ini masih sama, sayang…dibuat oleh tangan mama, tangan yang setiap hari memasak untuk melayani kita. Bumbu nasi goreng itu juga masih sama, sayangnya tidak ada yang beda. Yang kurang enak bukan nasi gorengnya, nak…tapi lidahmu yang sudah di tangga rasa teratas, bukan sedap, bukan. Itu rasa bosan namanya, sayang…kalo kata guru ekonomi bapak jaman SMA dulu, yang kamu rasain sekarang adalah apa yang oleh seorang ekonom terkenal di masanya, yaitu Gosen, itulah hukum Gosen. Berturut-turut, ini adalah nasi goreng di hari kelima.

Penulis: Muhammad Dopir
(Pengajar di Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Moga, Pemalang, Jawa tengah)