Musik Arab-Islam Menjelajah di Eropa (Part 2)

557
Arab-Islam
Foto oleh Vishnu R Nair dari Pexels

Pengaruh Musik Arab-Islam

Pengaruh musik Arab-Islam terhadap budaya musik Eropa yang paling diakui secara luas adalah dalam hal instrumen musik. Kathleen Schlesinger, seorang arkeolog musik dari Inggris, mengakui bahwa banyak instrumen musik Eropa Abad Pertengahan berasal dari Muslim Spanyol atau Sisilia.

Pengakuan atas kontribusi bangsa Arab terhadap perkembangan instrumen musik Eropa juga diartikulasikan secara apresiatif oleh Carl Engel, musikolog, kolektor instrumen musik dan penulis Jerman abad ke-19. Menurut Carl Engel:

“Orang-orang Arab, ketika mereka datang ke Eropa, pada awal abad ke-8 M, lebih maju dalam budidaya musik, atau semua peristiwa dalam pembuatan alat musik, daripada orang-orang di negara-negara Eropa. Dengan demikian, pengaruh musikal mereka yang mencengangkan dapat dipertanggungjawabkan.”

Menurut Henry George Farmer, pengaruh budaya Arab terhadap perkembangan instrumen musik di Eropa pada dasarnya jauh besar daripada yang umumnya diakui. Untuk membuktikan argumennya, Farmer menyusun daftar panjang alat-alat musik asal Timur yang sangat mengesankan dan menelusuri proses perjalanan alat-alat musik tersebut dari dunia Arab ke Eropa.

Alat-alat Musik Asal Timur

Farmer menyatakan bahwa pengaruh tersebut dimungkinkan karena pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah di Andalusia, banyak seniman (artists) dan pengrajin (craftsmen) dari Syria yang bermigrasi ke Andalusia. Sejarah mencatat bahwa sebelum penaklukan Islam, Syria, Palestina, Mesopotamia dan Mesir adalah wilayah-wilayah yang telah dipengaruhi oleh budaya Byzantium dan menjadi pusat-pusat industri seni terpenting kala itu.

Ketika Abd al-Rahman I menaklukkan Andalusia, seiring dengan kejatuhan Dinasti Umayyah di Damaskus, banyak di antara seniman dan pengrajin dari wilayah-wilayah tersebut ikut berpindah ke Andalusia. Alhasil, Andalusia menjadi salah satu pusat industri seni terpenting pada masa itu.

Pada masa Ibn Rusyd (w. 1198), Andalusia memiliki industri yang memproduksi pelbagai jenis alat musik secara massal dan beberapa di antaranya diekspor ke Eropa. Selain itu, pelbagai instrumen musik juga mengalami diaspora dari Andalusia ke Eropa melalui para musisi, penyanyi dan penyair yang berkunjung ke kota-kota dan desa-desa Kristen di utara Spanyol dan selatan Prancis dan Italia—wilayah-wilayah yang ketika itu mengalami kontak intensif dengan Islam Andalusia.

Instrumen ‘ud, misalnya, telah digunakan secara luas di Eropa—dengan sebutan lute sebelum mengalami transformasi menjadi alat musik lain seperti gitar dan mandolin. Instrumen gaita di Spanyol dan Portugis serta waygh dan bagpipes di Inggris berasal dari instrumen Arab ghaita. Instrumen qanun menginspirasi harpa Inggris dan Irish abad ke-9 serta zither Austria.

Lebih jauh tentang Instrumen 'Ud atau Lute, lihat Ziryab Sang Maestro Musik Andalusia Bagian II.

Instrumen musik string yang dikenal dengan sebutan fiddle diderivasikan dari kamancha Persia dan rabab Arab. Alat tiup Eropa seperti horn dan trumpet berakar dari alat musik zurna. Instrumen santur Persia menginspirasi instrumen-instrumen berbasis keyboard seperti pantaleon dan piano.

Mempengaruhi Teori Musik Eropa

Pengaruh musik Arab-Islam terhadap dunia Barat bukan hanya pada aspek instrumen musik, tetapi juga dalam aspek teori musik. Menurut Farmer, beberapa penulis klasik telah menunjukkan bahwa suku kata solfegio—do, re, mi, fa, sol, la, si, do—berasal dari bangsa Arab.

Meninski, dalam Thesaurus Linguarum Orientalium (1680), menyatakan bahwa sistem Nota Musica di Eropa setara dengan Durr-i-Mufassal [dal, ra, mim, fa, sad, lam], skema solmisasi sebagaimana digunakan di Timur. Laborde, dalam Essai sur la Musique Ancienne et Moderne” (1780), menghubungkan notasi musik alphabetik—yang dikenal dengan sebutan “solmisasi”—dengan tradisi musik Islam.

Senada dengan Laborde, Villoteau mengakui pengaruh Islam pada teori musik. Dengan membandingkan skala musik Guido de Arezzo—tokoh yang dianggap sebagai penemu sistem notasi alphabetik pada 1026—dengan musik kaum Muslim, Villoteau menemukan kemiripan yang membuat dia percaya bahwa Arezzo telah mengadopsi teori musik dari bangsa Arab-Muslim.

Kemiripan Fonetik Notasi Alphabetik

Farmer, dalam monografinya, menyediakan analisis detail untuk menunjukkan bahwa penggunaan dan penemuan notasi tersebut memiliki asal-muasal Arab-Islam. Farmer bahkan menunjukkan kemiripan fonetik notasi alphabetik dengan huruf Arab yang cukup mencolok:

Arabic Alphabetic        :MimFaSadLamSinDalRa
Musical Notes             :MiFaSolLaSiUt/DoRe

 

Farmer juga menunjukkan bahwa sistem notasi dan tablatur yang dikembangkan oleh bangsa Arab-Muslim memainkan pengaruh penting terhadap musik Eropa. Menurut Farmer, orang Arab memang tidak menggunakan partitur musik (part, piece) dalam pertunjukannya.

Semuanya dipelajari dengan cara menghafal. Namun fakta historis menunjukkan bahwa bangsa Arab menggunakan notasi fonetik (phonetic notation) untuk mengembangkan teori praktis. Farmer memberikan contoh notasi praktis dari Yahya ibn ‘Ali (w. 912), seorang pengikut mazhab Ishaq al-Mawshili, sebagai berikut:

Symbols :A.B.J.D.H.W.Z.H.TY.
Notes    :Ga.b♭b.c.d.e♭e.f.f♯/G

Al-Kindi bahkan pernah menyusun notasi yang mirip dengan skala nada kromatik, sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut:

Symbols :A.B.J.D.H.W.Z.H.T.Y.K.L.
Notes    :a.b♭b.c.c♯d.e♭e.f.f♯g.a♭

Notasi fonetis di atas telah digunakan jauh sebelum notasi fonetik diadopsi oleh Eropa Barat, bahkan sebelum masa al-Farabi. Kaum Muslim menggunakan notasi fonetis tersebut sejak awal abad ke-9 pada masa al-Ma’mun (w. 833) dan Ishaq al-Maushili (w. 850).Notasi tersebut juga ditemukan dalam karya-karya al-Kindi (w. 874), Yahya Ibn ‘Ali (w. 912), al-Farabi (w. 950), Ibn Sina (w. 1037), al Husain ibn Zaila (w. 1048) dan lainnya.

Menurut Farmer, meskipun bangsa Arab belajar dari Yunani, namun notasi fonetis yang dikembangkan oleh mereka berbeda dari sistem Yunani. Al-Farabi, misalnya, tidak menggunakan rangkaian nada yang sama dengan Ptolemy.

Notasi Arab adalah murni instrumental, seperti notasi yang pertama kali dikenal di Barat Eropa. Ini adalah awal dari modus utama modern, yang pada tahap pengenalannya berkaitan erat dengan kontribusi orang-orang Arab.

Peran Sistem Notasi Fonetik Alfabetik Arab-Muslim

Menurut Farmer, pengembangan sistem notasi fonetik alfabetik oleh bangsa Arab-Muslim itu memainkan peran penting dalam perkembangan teori musik Eropa Abad Pertengahan. Beberapa tokoh seperti Pseudo-Hucbald, Pseudo-Bernelinus dan Notker Labeo (1022), misalnya, menggunakan notasi fonetis alfabetis yang sangat mungkin merujuk pada metode Arab sebagaimana dipraktikan oleh al-Kindi.

Tokoh lain yang dianggap memperkenalkan notasi fonetik alfabetik ke Eropa adalah Gerbert dari Aurillac (w. 1003), nama yang sangat populer dalam sejarah pendidikan Abad Pertengahan. Dia dikenal sebagai tokoh yang menguasai ilmu pengetahuan Arab, termasuk angka-angka Arab (Arabic numerals), dan dikenal dengan julukan “Gerbert the Musicians”.

Tokoh lain adalah Hermann Contract, yang tertarik pada karya-karya al-Kindi, khususnya teori musik dan sistem notasinya. Karya-karya Ibn Sina dan Ibn Rusyd juga berpengaruh terhadap musik Eropa, khususnya di Provence dan Montpellier. Karya-karya al-Farabi juga sangat berpengaruh terhadap musik Eropa bahkan sampai abad ke-18.

Sistem Organum atau Tarkib

Aspek lain teori musik Arab yang menorehkan pengaruh terhadap musik Eropa adalah “organum”, sistem pembagian irama yang berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan. Organum adalah jenis musik polifonik tertua, yang terdiri dari gerakan suara paralel berkesinambungan dalam irama 4/3 atau 3/2.

Sistem ini dikenal dalam bahasa Arab dengan istilah “tarkib”, yang muncul dalam pelbagai manuskrip termasuk Kitab al-Shifa karya Ibnu Sina (w. 1037). Al-Shifa menggambarkan organum atau tarkib sebagai “satu beat yang berlangsung pada dua string, dengan nada 4/3 atau 3/2, atau selain itu, seolah-olah keduanya jatuh dalam satu waktu.”

Sebelum Ibn Sina, al-Kindi juga pernah menguraikan pembahasan khusus tentang hal yang sama dengan tarkib untuk diterapkan pada ‘ud, namun dengan menggunakan istilah yang berbeda, yakni “jass”.

Bukti lain dari penggunaan organum di dunia Muslim adalah laporan dari Virgilius Cordubensis, tokoh sezaman dengan Ibnu Sina (abad ke-11), yang menyatakan bahwa organum diajarkan di sekolah-sekolah musik Cordoba. Dia juga menyatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa Eropa belajar musik di sana.

Tapi sejumlah kritikus seringkali menyatakan bahwa Muslim terutama mengajar homophony daripada harmony dan semua penemuan musik mereka berada di wilayah ini. Menanggapi hal ini, Farmer menulis sebagai berikut:

“Mahasiswa sejarah musik yang berhati-hati dapat menilai sendiri seberapa jauh klaim Arab layak dipercaya. Satu hal yang pasti adalah bahwa Ibn Sina telah menggambarkan kinerja harmoni simultan 4/3, 3/2 dan oktaf, dan bagian itu tidak diuraikan dalam bagian teoretis risalahnya, tetapi dalam bagian praktis. Selanjutnya, kita juga memiliki bukti yang sangat penting dari dokumen al-Kindi.”

Fakta Perkembangan Musik Eropa Abad Pertengahan

Fakta-fakta historis di atas menunjukkan bahwa perkembangan musik Eropa Abad Pertengahan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh peradaban Arab-Islam yang pernah menjadi kekuatan hegemonik di Semenanjung Iberia sejak tahun 711 M sampai 1492 M. Pengaruh tersebut merembes ke dalam setiap aspek-aspek budaya musikal Barat, baik pada ranah teori maupun praktik.

Pengaruh tersebut telah memberikan dampak yang mendalam terhadap kebangkitan musik Eropa Abad Pertengahan dan pada gilirannya turut membukakan gerbang bagi dunia Barat untuk menyambut kedatangan Abad Pencerahan. Kontribusi peradaban Arab-Islam terhadap dunia Eropa Abad Pertengahan ini digambarkan secara elok dalam puisi Allamah Iqbal, “The Mosque of Cordoba”, sebagai berikut: “Those whose vision guided the East and the West, Who showed Dark Europe the path of Enlightenment.”

Penulis: Rahmat Hidayatullah