Murid Sebagai Subjek Belajar Untuk Mendidik Keberagaman

466
mendidik
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Saya suka menganalogikan mendidik itu seperti merawat pohon. Anak murid ibarat benih pohon yang akan tumbuh sendiri walau tanpa dibimbing. Ya seperti pohon, ia akan terus tumbuh tanpa dijaga, tapi hasilnya, tentu tak maksimal.

Terkait itu, seorang sahabat, pengusaha furnitur, berkisah tentang kayu jati. Darinya saya tahu bahwa, jati yang ditanam warga di pekarangannya (jati desa, demikian kawan saya menyebut) dengan jati yang disemai di hutan oleh perusahaan pemerintah, mempunyai kualitas yang jauh berbeda.

Rupanya, kebanyakan, warga yang berminat menanam jati hanya tergiur soal harga jual kayu jati yang tinggi. Hanya mengandalkan jarak tanam, perawatan jati desa ini kerap tak maksimal. Sementara pohon jati yang ditanam oleh perusahaan pemerintah, dipelihara dengan sistem tanam yang baik. Bukan saja soal jarak tanam, pemupukan secara berkala tak pernah luput.

Baca juga: Serigala Itu Bernama Tanggung Jawab.

Tak pelak, pengusaha seperti sahabat saya itu tak mau menanggung risiko rugi. Demi menjaga kepercayaan pelanggan, ia pasti memilih kayu jati yang terjamin pemeliharaannya sejak masa tanam. Sehingga menghasilkan kayu jati kualitas prima.

Analogi ini tepat untuk menggambarkan bagaimana kita mendidik anak-anak. Peserta didik, sejatinya bisa terus tumbuh tanpa intervensi sekolah. Hanya saja, pertumbuhan itu tak bisa optimal. Maka, sekolah ibarat ladang kawah candradimuka, di mana tunas-tunas inovator akan lahir. Diperlukan lingkungan belajar yang subur, aman, nyaman dan menyenangkan. Kurikulum laksana pupuk, guru semisal petani.

Seorang petani mustahil menumbuhkan benih padi menjelma jagung. Juga tak masuk akal, memperlakukan perawatan tanaman jagung seperti memelihara kedelai. Setiap jenis tanaman mempunyai kekhasan. Sehingga cara bercocok tanam pun tak sama untuk tanaman yang jenisnya beda.

Murid merupakan pengetahuan itu sendiri. Ia bukan perkakas yang bisa dibentuk semau orang dewasa (orangtua dan guru). Socrates memisalkan guru laiknya bidan. Sebatas membantu melahirkan sang bayi pengetahuan. Dalam hal itu, pendidik sebaiknya menjadi sumber cinta alih-alih mematok diri sebagai pusat pengetahuan. Mirip bidan, dengan cinta ia membantu persalinan. Sejarah mencatat, cintalah kekuatan inspirasi yang melahirkan karya agung semisal Taj Mahal, Piramida, atau puisi-puisi anggun milik Rumi.

Dengan cinta, tak mungkin seorang guru gemar menghakimi. Cinta guru pada murid akan mendorongnya untuk terus belajar. Cinta membangkitkan empati, cinta jua yang mengilhami manusia berkarya. Maka sewajarnya guru menyandang cinta dalam mendidik. Jika dipenuhi guru berlimpah cinta, maka sekolah sangat layak bagi tumbuh kembang anak.

Tumbuhkan Bakat

Saat memelihara tanaman, sejak benih kita mengetahui sebagai bougenvil, mawar, melati, keladi, mangga, alpukat, sonokeling, jati, mahoni dll. Lain halnya mendampingi pertumbuhan anak, kita justru dituntut menggali, ia akan tumbuh seperti apa. Bukan kita membentuknya sekehendak kita. Tapi bagaimana caranya agar anak memunculkan sendiri siapa dirinya (baca: bakat, kecerdasan, hobi, minat, passion atau apapun istilahnya).

Untuk itu, sekolah haruslah kreatif membuat kurikulum yang menumbuhkan dan ramah anak. Sehingga anak dengan mudah dibantu mengenali jati dirinya. Jargon “Sekolah Ramah Anak” yang dipampang di depan gerbang sekolah menjadi tak menjawab apapun andai sekolah tak memberi kesempatan peserta didik menampilkan karya, mengungkap gagasan, dan mengkritisi pembelajaran.

Semua kembali pada guru, ungkap Iwan Pranoto dalam buku “Berpikir Majemuk Dalam Matematika”. Pengalaman menunjukkan, saat diberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK, 2004), antara tujuan dan implementasi jauh panggang dari api. Pendidikan menjadi hanya kampanye slogan belaka karena selalu jauh antara kurikulum dan implementasi, lanjut Iwan Pranoto.

Artinya, kurikulum sebagus apapun, tanpa guru yang piawai menerjemahkannya dalam pemelajaran, kritik Iwan Pranoto di atas benar belaka. Kita kerap memuja slogan tanpa berupaya menjiwai kedalamannya. Serupa semboyan Ki Hajar Dewantara, mentereng dipajang di kepala tapi tak pernah bersenyawa dengan cara mendidik.

Sekali lagi, guru menjadi pilar utama di dalam sekolah yang menumbuhkan. Yaitu guru yang melandaskan pekerjaannya pada cinta. Motivasinya merangsang lahirnya pengetahuan sang murid, keteladanannya menguatkan karakter positif peserta didik.

Mari menciptakan lingkungan sekolah yang benar-benar layak untuk menumbuhkan anak menjadi pribadi yang mengenal dirinya, mandiri belajarnya, dan mampu menghargai keragaman di sekitarnya.

Penulis: Muhammad Dopir
(Guru Matematika SMP Al Fath BSD)