Muhammad Nafis al-Banjari Ulama Sufi Dunia Melayu

100
nafis
Dokumentasi Pribadi

Biografi Syeikh Muhammad Nafis

Ulama sufi berasal dari dunia Melayu yang diriwayatkan ini nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein al-Banjari. Seperti ulama-ulama sufi lain, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari juga mendapat tentangan daripada orang orang yang tidak sependapat dengan ajaran tasawufnya.

Namun tidak sehebat tentangan terhadap Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrai. Dalam perkembangan mutakhir golongan sufi dunia Melayu cukup rancak dibicarakan.

Baca juga: Iman Pondasi Belajar yang Kokoh

Bagi ulama abad ke 18-19 dunia Melayu, ajaran semacam itu cukup mereka fahami kerana memang ada kitab-kitab tasawuf peringkat tinggi (muntahi) yang dirujuk dan mengimbangi kitab ad-Durr an-Nafis itu sebagai pegangan yang kukuh bagi kaum sufi. Yang termaktub dalam karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari itu adalah relevan dengan karya-karya Syeikh Abdul Karim al-Jili, Syeikh Muhyuddin Ibnu Arabi (17 Ramadan 560 H/29 Julai 1165 M-28 Rabiulakhir 638 H/21 November 1240 M) dan lain-lain. Lebih dua ratus tahun kitab ad-Durr an-Nafis itu diajarkan oleh para ulama di dunia Melayu, kemudian pada waktu akhir-akhir ini, sama ada di Indonesia mahu pun di Malaysia, ada pihak-pihak tertentu menyalahkan dan melarang mengajarkannya.

Muhammad Nafis dikenal sebagai seorang ulama yang suka merendahkan diri, ia adalah seorang juru dakwah yang sering melakukan aktivitasnya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, terutama daerah-daerah terpencil yang strategis dalam upaya penyebaran agama Islam. Diduga ia banyak berdakwah di daerah Kelua Muhammad Nafis pindah ke Kelua dari Martapura, diperkirakan juga karena ia tidak senang kepada penjajah (Belanda) yang sudah mulai menguasai pusat kerajaan Banja saat itu. Dan Kelua merupakan daerah strategis karena terletak di bagian utara kerajaan Islam Banjar, yaitu diperbatasan antara Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Asal-Usul dan Pendidikan

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan. Hidup sezaman dan seperguruan dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Sama-sama belajar di Mekah dan Madinah. Yang seperjuangan dengannya termasuk Syeikh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi (Jakarta), Syeikh Abdus Shamad alFalimbani dan lain-lain.

Guru Syeikh Nafis al-Banjari

Para gurunya juga beliau sebut dalam karyanya ad-Durr an-Nafis yang tersebut, senarai lengkapnya adalah sebagai berikut:

  1. Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi.
  2. Syeikh Shiddiq bin Umar Khan. Beliau adalah murid kepada Syeikh Muhammad

bin Abdul Karim Samman, iaitu murid ulama sufi yang lebih dulu daripada

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan kawan-kawannya.

  1. Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Madani.
  2. Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.
  3. Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Juhuri.

Menurut analisis Ahmadi Isa, tampaknya Muhammad Nafis ini dalam bidang tasawuf dan tarikat seguru dengan Abdul al-Samad al-Falimbani. Karena dia juga pernah berguru dengan guru yang sama, yaitu Syekh Abdul alRahman bin Abdul al-Aziz al-Maghribi dan Syekh Muhammad bin Abdul alKarim Saman al-Madani, seorang wali quthub (wali Allah yang tertinggi) pada zaman itu. Selain itu. Muhammad Nafis seguru juga dengan Syekh Muhammad Arsyad, karena Syekh Muhammad Arsyad pernah belajar dengan Syekh Muhammad bin Abdul al-Karim Saman al-Madani. Jadi ketiga takoh ini, yaitu Muhammad Nafis, Muhammad Arsyad, dan Abdul al-Samad sebenarnya adalah seguru dalam bidang tasawuf dan tarikat, dan sama-sama mendapat izin untuk mengajarkan ilmu yang didapat dari gurunya tersebut.

Penulisan

Karangan Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang ditemui, selain ad-Durr an-Nafis, yang sebuah lagi masih berupa manuskrip ialah Majmu’ al-Asrar li Ahlillahil Athyar. Mengenai ad-Durr an-Nafis beberapa maklumat tentangnya, bahawa selesai ditulis pada 27 Muharam 1200 H/30 November 1785 M. Cetakan pertama kitab ini ditashih oleh Syeikh Ahmad alFathani, di Mathba’ah al-Miriyah bi Bulaq, Mesir al-Mahmiyah. Pada terbitan pertama tercantum syair Syeikh Ahmad al-Fathani:

“Berpeganglah kamu dengan ilmu orang sufi,  Nescaya kamu menyaksikan bagi Tuhanmu itu keesaan.  Wahai yang meninggalkan sebaik-baik teman sekedudukan,  Adalah kitab ini mengandung vmaksud keseluruhan, Seperti lautan, daripadanya tiap-tiap yang berharga penilaian.

Karya Syeikh Nafis al-Banjari

Kitab al-Durr al-Nafis disusun oleh pengarangnya Muhammad Nafis dalam bahasa al-Jawi (Melayu) dengan maksud agar memudahkan orang-orang Indonesia yang kurang memahami bahasa Arab dengan baik untuk mempelajarinya. Sistematika pembahasan kitab ini sebagaimana disebutkan oleh penulisnya pada halaman 3: “dan aku aturkal akan dia atas satu mukaddimah dal ampat fasal dan satu khatimah dan aku sebutkan di dalamnya beberapamasalah yang tinggi-tinggi yang diambil daripada beberapa kitab ahli al-tashawuf”.

Karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang kedua, yang masih belum diketahui umum, dalam bentuk manuskrip ialah Majmu’ al-Asrar, salinan Muhammad Zain bin Hasan. Selesai menyalin pada waktu Zuhur, hari Sabtu 21 Syaaban 1355 H/1936 M. Kitab Majmu’ al-Asrar ini juga membicarakan masalah tasawuf. Sampai riwayat ini ditulis kitab yang tersebut baru dijumpai dua versi, yang sebuah lagi dengan judul Majmu’ as-Sarair, atau judul dalam bahasa Melayu yang diberi oleh beliau Perhimpunan Sekalian Rahasia.

Versi yang pertama, koleksi Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia, dan versi yang sebuah lagi adalah koleksi peribadi saya sendiri. Yang menjadi milik saya itu terdapat tiga buah risalah lain, yang dipercayai juga karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari. Risalah-risalah itu ialah Penjelasan Huruf-Huruf Abjad Dalam Al-Quran, llmu Haqiqat Yang Sebenar-Benar dan Masalah Orang Yang Dijadikan Imam

Pada risalah yang terakhir tercatat tahun selesai menulisnya pada waktu Dhuha, 8 Ramadan 1245 H/1829 M. Dengan dijumpai manuskrip yang terdapat tahun itu maka dapatlah diagak-agak jarak waktu sementara penulisan Syeikh Muhammad Nafis alBanjari yang telah diketahui, iaitu 1200 H/1785 M (Ad-Durran-Nafis) hingga 1245 H/1829 M (manuskrip yang tersebut di atas). Jadi bererti sekitar 45 tahun.

Dengan demikian pada jarak waktu yang demikian lama masih banyak karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang belum kita jumpai dan ketahui.

 

Ad-Durar An-Nafis Syeikh Nafis al-Banjari

Kitab al-Durr al-Nafis disusun oleh pengarangnya Muhammad Nafis dalam bahasa al-Jawi (Melayu) dengan maksud agar memudahkan orang-orang Indonesia yang kurang memahami bahasa Arab dengan baik untuk mempelajarinya.

Sistematika Kitab

Sistematika pembahasan kitab ini sebagaimana disebutkan oleh penulisnya pada halaman 3: “dan aku aturkal akan dia atas satu mukaddimah dal ampat fasal dan satu khatimah dan aku sebutkan di dalamnya beberapamasalah yang tinggi-tinggi yang diambil daripada beberapa kitab ahli al-tashawuf”.

Kandungan Kitab

Dilihat dari segi isi kitab secara keseluruhan, maka diketahui bahwa kitab tersebut mengandung bahasan ilmu tasawuf tingkat tinggi (pelik). Persoalan pokok yang banyak dikupas atau ingin dikomunikasikan penulisnya kepada pembaca adalah: keterangan mengenai tauhid al-af’al, tauhid al-asma, tauhid al-shifat, dan tauhid al-zat. Agar para hamba dapat dengan benar melalukan pendekatan diri kepada Allah, terhindar dari syirik kahfi, Meskipun beliau sendiri menyebutkan sebagai ilmu yang tinggi-tinggi atau sampai kepada Allah, tetapi tidak boleh dipahami menggugurkan taklif syara’ kepada hamba

Konsep Tasawuf

Dilihat dari segi konsep tasawuf, maka kitab al-Durr al-Nafis mengandung ajaran tentang Zat Mutlak Allah dan fananya segala zat yang lain (al-aghyar), ajaran tentang penciaptaan alam dengan konsep tajalli dan tanazzul. ajaran tentang manusia yang paripurna (insan kamil), ajaran tentang maqam-maqam perjalanan seorang salik untuk mendekatkan diri (sampai) kepada Allah sehingga mencapai derajat Shiddiqin, Muqarrabin atau Arif billah yang sejati.

Corak Tasawuf

Dilihat dari segi corak tasawuf , maka dapat disimpulkan bahwa ajaran tasawuf Muhammad Nafis (yang dapat dipahami dari kitabnya al-Durr al-Nafis) adalah kombinasi dengan harmonis antara tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Dimulai dengan ajaran tasawuf sunni, kemudian menapak naik dalam tasawuf falsafi.

Penulis: Ami Hamdhan