Milennial dan Tantangan Bonus Demografi

680
Photo by Afif Kusuma on Unsplash

Oleh: Nurul Huda

Pada tahun 2020, Indonesia memasuki era bonus demografi. Artinya, jumlah penduduk produktif mendominasi komposisi penduduk Indonesia. Ketika itu, generasi milenial akan mendominasi komposisi penduduk Indonesia. Oleh sebab itu, seringkali milenial dipandang sebagai cerminan wajah Indonesia masa depan.

Bonus demografi menghadirkan sejumlah energi positif, seperti mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah hingga memicu pertumbuhan ekonomi. Meskipun begitu, tantangan yang akan mereka hadapi ke depan pun kian dinamis, termasuk di sektor dunia kerja. Kompetisi dunia kerja nantinya akan semakin ketat. Siapa yang mampu bersaing, dia akan jadi pemenangnya.

Meningkatnya jumlah penduduk produktif berimplikasi pada semakin ketatnya kompetisi di setiap sektor. Data Badan Pusat Statistik (BPS, Februari 2019) menyebutkan jumlah pengangguran mencapai 6,82 juta orang. Jika, diteliti lebih lanjut penggangguran dari kalangan terdidik cukup tinggi, seperti lulusan Diploma (6,9%) dan Universitas (6,2%). Artinya, lulusan pendidikan tinggi belum tentu menjamin sukses di dunia kerja.

Dari sisi demand (permintaan), jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia pun terbatas. Jika melihat data BPS (Februari 2019), beberapa sektor lapangan kerja yang mengalami peningkatan adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (29,46%), perdagangan (18,92%), dan industri pengolahan (14,09%). Data tersebut menunjukkan bahwa persaingan dunia kerja masih banyak di sektor-sektor konvensional. Sementara itu, masih banyak sektor lain yang dapat diisi oleh kalangan milenial, terutama yang membutuhkan dukungan teknologi.

Benang merahnya, bonus demografi dapat berimbas pada ketidakseimbangan supply dan demand dunia kerja. Potensi pengangguran semakin tinggi. Tingkat pendidikan tidak lagi menjadi parameter utama kesuksesan individu. Kondisi tersebut, jika tidak dilihat secara serius, tentu akan berdampak pada wajah Indonesia ke depan. Lalu, bagaimana solusi bagi milenial untuk menghadapi tantangan bonus demografi tersebut?

Alvara Research Center menyebutkan, milenial memiliki 3 karakteristik utama, yakni connected, creative, dan confidence (atau disingkat 3c). Connected artinya milenial adalah pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitasnya. Mereka juga aktif berselancar di media sosial dan internet.

Karakteristik kedua adalah creative. Milenial memiliki pemikiran out of the box, kaya ide dan gagasan, serta mampu mengomunikasikan ide dan gagasan mereka dengan baik. Ketiga ialah confidence atau percaya diri. Artinya, milenial memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, berani mengemukakan pendapat, dan tidak sungkan berdebat melalui media sosial.

Ketiga karakteristik tersebut merupakan modal dasar yang perlu dioptimalkan untuk menghadapi tantangan bonus demografi. Pertama, connected dengan berjejaring dan organisasi. Saat ini, banyak sekali organisasi maupun komunitas, baik gerakan berbasis di media sosial hingga gerakan berbasis kepentingan tertentu. Saat ini, kita tidak bisa hanya menjadi follower di dunia maya, tapi juga perlu berjejaring melalui berbagai kegiatan organisasi.

Nilai penting dari berorganisasi adalah membuka kesempatan, menggali potensi diri bersama, serta menebarkan manfaat. Parameter keberhasilan kita berorganisasi hanya dapat dilihat dari seberapa besar manfaat kita di dalam organisasi tersebut.

Kedua, creative. Kunci dari creative adalah pendidikan dan ketrampilan. Milenial tidak boleh hanya mengandalkan nilai ijazah. Mereka perlu menempa diri dengan belajar berbagai ketrampilan, terutama pendidikan vokasional. Apalagi, saat ini banyak fasilitas tersedia untuk belajar secara mandiri, terutama melalui video digital (youtube). Mau belajar apapun telah tersedia, mulai cara memasak, make up, desain grafis, hingga menjadi data analis. Semakin besar kompetensi yang dimiliki, pilihan untuk bersaing di dunia kerja pun semakin terbuka. Mau jadi karyawan atau pengusaha, semua bisa. Milenial yang memiliki penghasilan di atas rata-rata karena kompetensi vokasi, contohnya pun banyak.

Ketiga, confidence. Perspektif inilah yang membutuhkan elaborasi dari kompetensi vokasi dan pengalaman organisasi. Kepercayaan diri tumbuh disaat kompetensi yang dimiliki ditopang oleh komunikasi berjejaring yang kuat.

Dari catatan di atas, kita tidak perlu khawatir untuk menghadapi tantangan di masa depan. Semangat belajar harus terus ditumbuhkan. Giat berjejaring juga perlu dilaksanakan. Khoirunnaas anfauhum linnas.

*Tenaga Ahli Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian