Merdeka Belajar Ala Paulo Freire

137
Merdeka Belajar
Photo by Husniati Salma on Unsplash
Selama ini, sering kali kita semua dininabobokan oleh retorika tentang tujuan utama mengenyam pendidikan, tak lain demi mendapat pekerjaan yang layak serta menunjang perekonomian hidup. Bahkan, tak jarang pula kita dihantui oleh bayang-bayang masa depan yang suram apabila pendidikan yang kita miliki tidak sesuai dengan ketersediaan lapangan kerja.
 
Kerap terjadi di tengah masyarakat kita, ketika seseorang yang baru saja lulus dari jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, tentunya jurusan yang dicarinya merupakan jurusan yang berpeluang tinggi dalam dunia pekerjaan.
Hal lain yang tak boleh terlewatkan yaitu memperhitungkan berapa gaji yang akan diperoleh setelah lulus dan bekerja di sektor tertentu yang terkadang upahnya tidak sepadan.
Lantas dalam hal ini siapakah yang paling diuntungkan? Kita semua dicetak sebagai pekerja dan budak korporat belaka. Tanpa kita sadari, pola pikir tersebut telah mengakar di setiap benak kita, sehingga pendidikan menjadi dangkal dan berbau kapitalistik. Pendidikan yang kapitalistik ini melahirkan kepincangan terhadap sistem yang berujung pada dehumanisasi, perbudakan, dan penindasan.

Problematika Pendidikan

Problematika sempat diperbincangkan Rara Sekar dan Ben Laksana, dua pasangan aktivis sekaligus pengamat sosial, dalam Podcast Benang Merah Episode 8, dengan tema Pedagogi Kritis & Pendidikan Emansipatoris. Mereka mengkritik sistem tersebut dengan beberapa pertanyaan; “Mengapa pendidikan dikerucutkan dan sekedar ditujukan untuk memenuhi ekonomi para pekerja?
Apakah tujuan pendidikan hanya sekedar link and match dengan dunia industri? Itu suatu perspektif yang sangat membatasi pendidikan, sehingga kita seakan menjadi manusia yang hadir sebagai Homo Economicus, makhluk pencari dan penghasil uang saja.” (https://open.spotify.com/episode/1dEjHfyUL0Neuan3LxOhAr, Sekar & Laksana, 2020)
 
Dilema tersebut sebetulnya telah lama menggerogoti dunia pendidikan sejak awal era modern. Dialog diatas menjadi pemantik bagi kita untuk kembali menilik ulang gagasan tentang pendidikan kritis dan emansipatoris yang pernah diusung seorang filsuf pendidikan abad ke-19, yaitu Paulo Freire (1921-1997).
Teori-teori yang disuguhkan Freire merupakan salah satu solusi untuk memerdekakan kita dari pembelajaran yang doktrinal dan sarat akan dogma.

Upaya Memanusiakan Manusia

Pendidikan kritis dan emansipatoris dalam perspektif Freire adalah upaya untuk memanusiakan manusia, dalam artian, pendidikan mesti diterapkan dengan bebas sesuai pilihannya sendiri dalam hal berpikir, berkreasi, dan berinovasi.
Bukan justru menggunakan konsep pendidikan gaya bank, yakni menganggap bahwa pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa.
Menganggap bodoh secara mutlak pada orang lain, sebuah ciri dari ideologi penindasan, sehingga mengingkari pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian (Husni, 2020).
 
Langkah utama dalam mewujudkan merdeka belajar yang diusung Paulo Freire adalah dengan menumbuhkan kesadaran. Upaya penyadaran tersebut perlu melalui berbagai tahap, salah satunya dengan berdialog.
Freire menyatakan bahwa pendidikan sebagai jalan menuju peningkatan kualitas intelektual dan potensi manusia, dimana antara satu dengan yang lainnya memiliki daya kreasi dan potensi yang berbeda-beda dan harus senantiasa mengutamakan dialog antara pendidik dan peserta didik agar tercipta sebuah interaksi yang dialektis antara keduanya (Abdillah, 2017).

Keterbatasan Dialog

Sebaliknya, di negeri kita metode dialog masih jarang sekali diterapkan. Murid cenderung dibatasi oleh standar pendidikan di bawah otoritas guru dan para pemangku otoritas pendidikan lainnya.
Murid hanya tinggal menerima, mencatat, menghafal, mendengarkan, patuh, disiplin seperti robot. Guru sebagai pemilik ilmu pengetahuan mendepositokan ilmu pengetahuannya tersebut kepada murid untuk didengarkan dan dihapal. 
 
Pendidikan gaya bank tak ubahnya dengan pengisian deposito. Maka dari itu, perlunya ada muatan realistis dalam sebuah pendidikan, kemudian materi ajar pun berhubungan dengan fenomena aktual dari realitas sosial masyarakat, sehingga setelah mengenyam pendidikan peserta didik jadi sadar akan kebutuhan, tantangan dan persoalan yang terkait dengan realitas sosial sekitarnya atau bahkan sadar akan realitas sosial dunia.
 
Melalui pembentukan kesadaran dan penerapan dialog antara pendidik dan yang terdidik, tentunya akan membasmi penindasan, serta hirarki yang ada antara keduanya. Dengan begitu, kesempatan generasi bangsa untuk menjadi bibit unggul lebih besar, sehingga Indonesia akan jauh dari keterbelakangan.
Penulis: Giza Gasica
(Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
 
Sumber:
Abdillah, R. (2017). Analisis Teori Dehumanisasi Pendidikan. Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Vol.2, No. 1, 1-21.
Husni, M. (2020). Memahami Pemikiran Karya Paulo Freire “Pendidikan Kaum Tertindas” Kebebasan dalam Berpikir. Al-Ibrah, 42-60.
Sekar, R., & Laksana, B. (2020, Maret). Open Spotify. Dipetik Oktober 1, 2021, dari Spotify Web Site: https://open.spotify.com (https://open.spotify.com/episode/1dEjHfyUL0Neuan3LxOhAr).