Menyuarakan Keberagaman dengan Langkah yang Lebih Luas

156
keberagaman
Sumber Foto Kumparan.com

Keberagaman merupakan sebuah kepastian, karena memang hal tersebut merupakan Sunnatullah yang diberikan Sang pencipta. Bentuk keberagaman terjadi karena kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang. Perbedaan tersebut dalam hal suku bangsa, ras, agama, keyakinan, ideologi politik, sosial-budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Berbagai fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang beragam memang menuntut toleransi sebagai sebuah tindakan terpenting dalam mempertahankan kesatuan bangsa ini, karena keadilan sosial yang sedianya merupakan cita-cita kita dalam berbangsa dan bernegara tak akan pernah terwujud tanpa adanya toleransi antar masyarakatnya sendiri.

Baca juga: Pagi yang Sejuk Bersama Romo Kyai Abd. Hanan Maksum

Lalu bagaimana langkah-langkah menumbuhkan sikap toleransi akan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat?. Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan dalam memahami dan menerima perbedaan antar individu atau kelompok. Salah satunya adalah menumbuhkan sikap toleransi melalui bimbingan orang tua dan guru di sekolah kepada anak sedari dini. Karena dengan menanamkan sikap toleransi sedari dini, kita semua akan terbiasa untuk memahami bahwa kita saling berdampingan dengan perbedaan dan kita harus menghormati juga menerimanya dengan penuh kasih sayang.

Riset SETARA Institute menyatakan Jawa Barat dan DKI Jakarta menjadi Provinsi paling intoleran. Dikedua provinsi itu dinilai banyak terjadi kasus pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan dalam lima tahun terakhir, dari 2014-2019. Hasil riset SETARA, terjadi 162 pelanggaran kebebasan beragama atau keyakinan di Jawa Barat pada tahun 2014-2019. Angka itu lebih tinggi dari DKI Jakarta yang menempati peringkat kedua. Dari riset SETARA, terjadi 113 pelanggaran kebebasan beragama dan keyakinan di Jakarta pada tahun 2014-2019.

Setelah melihat data tersebut, kita bisa sama-sama tahu bahwa perbedaan yang ada bisa terus berjalan dan beriringan jika rasa tenggang rasa, toleransi serta memahami satu sama lain bisa terus kita kuatkan. Dalam tulisan singkat ini, ada beberapaa hal yang bisa kita lakukan bersama-sama agar keberagaman terus tersuarakan serta kita bisa menyuarakan toleransi dan perdamaian dikehidupan sehari-hari.

 Bertemu Dengan Mereka Yang Beragam

Kita sepakat bahwa manusia terdiri dari berbagai suku, ras, agama bahka pemikiran atau ideologi yang beragam. Namun, hal tersebut bukanlah sebuah penghalang untuk kita berteman. Kendati demikian, perbedaan yang ada haruslah menjadi khazanah dalam pertemanan, bahkan Allah Swt dalam salah satu firman-Nya pernah memberitahu kita bahwa perbedaan yang ada adalah sebuah keniscayaan yang Dia ciptakan. Serta hal tersebut ada supaya diantara kita saling mengenal satu sama lain.

Sebagaimana Firman-Nya dalam surat Al-Hujurat: 13

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti”.

Apalagi di Indonesia yang merupakan negara multikultular artinya memiliki tingkat keanekaragaman tertinggi, maka dari itu kita perlu membangun perjumpaan dalam perbedaan, menumbuhkan lingkungan yang meminimalisir prasangka sekaligus mengurangi cara pandang yang didasarkan pada latar belakang suku, etnis, agama dan lain halnya. Perbedaan bukan sesuatu hal yang perlu kita hindari tapi harus kita dekati melalui pertemuan dengan banyak orang, membuat forum diskusi, dan bermain bersama mereka, yang mana dibutuhkan saling kesepahaman antar individu ataupun kelompok demi keselarasan kehidupan, kerjasama yang dilandasi rasa ikhlas penuh tangguh jawab untuk mewujudkan tujuan bersama. Berbeda bukan berarti tidak berteman bukan?.

Menyampaikan Kritikan Dan Saran Dengan Baik

Memberikan masukan kritik dan saran memang selalu bisa membantu membangun prilaku seseorang atau kelompok dalam menghindari kesalahan, tapi terkadang kritik yang tidak baik cenderung dapat menimbulkan konflik. Sehingga sikap toleransi tidak terlihat ketika banyak orang yang saling merasa paling unggul dan benar Maka dari itu, mari sama-sama berlajar bersama untuk menyampaikan kritikan ataupun masukan dengan cara yang baik dan tidak menyinggung lawan bicara. serta hindari rasa emosional karena kepentingan pribadi dan lihatlah sekitar kita bahwa tidak semua keinginan harus terpenuhi dan disetujui banyak orang, kita perlu melihat bahwa ada banyak perbedaan yang harus kita hargai dan sikapi dengan adil. Karena pada dasarnya hak asasi tertinggi orang lain adalah pilihan yang harus kita hargai dan hak pribadi orang lain yang diatur undang undang adalah hak mengeluarkan pendapat sesuai norma hukum yang berlaku.

Tidak mudah menilai sebelum mengenali

Setiap orang berhak menilai sesuatu sesuai pendapat dirinya sendiri dan tidak ada yang berhak untuk melarang setiap orang berpendapat. Dihubungkan pada beragam faktor, salah satunya suku, ras, agama dan lain halnya. Banyak sekali orang yang selalu mengaitkan sikap dan prilaku orang dengan suku atau agama yang mempengaruhinya. Padahal sikap dan perilaku seseorang tidak bisa kita lihat dari satu sisi saja dan kita tidak bisa langsung menyimpulkan pada tindakan seseorang yang berhubungan dengan suku agama budaya dan lain halnya.

Perbedaan memang tidak bisa kita hindari terlebih kita hidup dinegara yang multikultular. Membangun dan meningkatkan rasa toleransi sudah seharusnya kita biasakan sejak dini, supaya kelak kita sebagai generasi penerus dan pengubah bangsa bisa senantiasa  menanamkan benih-benih perdamaian dan meminimalisir benih benih kebencian akan perbedaan.

Cobalah untuk bisa menghargai keberagaman yang ada disekitar kita. Jangan jadikan perbedaan menjadi sebuah ancaman dan kecaman untuk saling membenci, tapi gunakanlah perbedaan itu sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia mencintai keberagaman. Dimanapun kita berada, tetaplah tebarkan benih –benih perdamaian miliki rassa untuk bisa saling menghargai.

Penulis: Regina Puspita Sari