Menyikapi kehilangan Adalah Suatu Kenikmatan

126
Menyikapi kehilangan Adalah Suatu Kenikmatan
Photo by Shawn Appel on Unsplash

Separuh nafasku terbang bersama dirimu, saat kau tinggalkanku salahkanku……, ya betul, bait tersebut merupakan potongan lirik lagu klasik dari band Dewa 19 yang menggambarkan sisi lain romantika kisah cinta. Tak semua kisah kasih manusia berakhir dengan mesra itu realita, faktanya ada yang belum menyatakan sudah di tinggalkan atau kehilangan, ada yang sudah jadian tapi hanya jadi tamu dipelaminan dan berakhir jadi mantan.

Mungkin terbesit dibenak kita kenapa Allah menciptakan makhluk yang bernama mantan? untuk menjawab pertanyaan itu mula-mula kita perlu meyakini bahwa segala yang diciptakan-Nya pasti ada hikmah dibaliknya

 رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً

” Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Q.S Ali Imran 191).

Selanjutnya, hendaklah kita mengingat kembali bahwa setiap yang terjadi merupakan renca-Nya jauh sebelum manusia dilahirkan atau yang biasa kita sebut takdir.

مَا مِنْ نَفْسٍ تُبْدِيْهِ اِلاَّ وَلَهُ قَدَرٌ فِيْكَ يُمْضِيْهِ

“Tidakkah setiap nafas yang engkau hembuskan, kecuali ada takdir yang berlaku bagi dirimu”

Ada Takdir Dalam Hembusan Nafas

Dari petikan petuah diatas, memberikan gambaran bahwa sesulit apapun masalah menerpa setidaknya kita masih bernafas, dan setiap nafas yang kita hembuskan mengandung tiga hal yang perlu kita insyafi,

pertama, nafas merupakan anugrah yang sangat besar yang diberikan Allah kepada manusia, tanpa harus direncanakan, dengan sendirinya sebelum datang ajal kita tetap bernafas.

Baca juga: Optimisme Membangun Solidaritas di Tengah Pandemi

kedua setiap hembusan nafas mengandung perintah yang di datangkan Allah kepada manusia untuk memenuhi kewajibannya sebagai hamba, jika kita masih diperintah oleh-Nya artinya kita masih dianggap sebagai hambanya.

Dan terakhir, setiap nafas mengandung pencegahan Allah terhadap manusia untuk tidak melakukan apa yang oleh-Nya dilarang.

Andai sedikit saja kita mau membuka hati  untuk merenungkan bahwa dalam setiap hembusan nafas terkandung nikmat yang diberikan Allah, niscaya tak akan ada waktu untuk sedikitpun mengeluhkan kehilangan dan beban kehidupan.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa hilangnya kenikmatan bukan karena nikmat itu sendiri yang hilang, melainkan terhijabnya kesadaran kita dalam menghadapi ketentuan Allah yang sudah di tetapkan mengiringi setiap hembusan.

Penulis: Umam Annahar