Menyerap Sembilan Nilai Utama Gus Dur

133
nilai
Photo by Noorulabdeen Ahmad on Unsplash

Siapa yang tak kenal sosok KH Abdurrahman Wahid? Rasanya, hampir seluruh penduduk Indonesia pasti mengenalnya. Tentu bukan sekadar kenal belaka. Sebab, tak sedikit di antaranya yang merasa pernah dibantu, diperjuangkan, hingga dibebaskan dari beragam belenggu yang mengikatnya.

Kepulangannya ke haribaan Ilahi pada akhir tahun 2009 tentu menyisakan kerinduan mendalam bagi segenap bangsa ini. Bagaimana tidak? Kita semua kehilangan sosok yang telah berjuang untuk memenuhi cita-cita yang diinginkan masing-masing, persaudaraan, keadilan, kebebasan, kesetaraan, hingga kemanusiaan.

Baca juga: Menguak Peran Musik dalam Proses Pembelajaran

Rasa rindu yang sama itu melahirkan pertemuan yang merumuskan nilai-nilai yang tertanam dalam diri Gus Dur. Perumusan itu menghasilkan sembilan nilai utama Gus Dur, yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal. Hal ini dijelaskan secara terperinci oleh Nur Khalik Ridwan dalam bukunya Ajaran-Ajaran Gus Dur: Syarah 9 Nilai Utama Gus Dur.

nilai
Cover Buku Ajaran-ajaran Gus Dur

Ketauhidan menjadi motor penggerak nilai-nilai lainnya. Kepercayaan Gus Dur akan keesaan Allah swt. tentu tidak ada yang meragukannya. Bahkan banyak kalangan yang menyebutnya sebagai sosok wali atau kekasih Allah swt. Gus Dur memiliki kedekatan khusus dengan Allah swt. Ketauhidan memang tersimpan rapi dalam sanubari mengingat sifatnya keyakinan, tetapi hal itu terwujud atau tergambar dalam laku keseharian. Khalik mencatat bahwa pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur.

Dari ketauhidan itulah, lahir nilai kemanusiaan Gus Dur. Manusia dimuliakan oleh Allah swt., sebagaimana dalam firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 70, Kami sungguh memuliakan betul anak Adam. Di situ, Allah menggunakan taukid berupa lam taukid dan qad sehingga ada dua penguatan untuk menunjukkan makna sungguh-sungguh. Banyak kemuliaan yang diberikan kepada manusia, di antaranya fisiknya yang paling sempurna. Namun, di sini saya menyampaikan dua hal, yakni kepemimpinan sebagai tugas khusus di muka bumi dan akal untuk berpikir. Dua hal tersebut menjadi modal kemuliaan manusia yang tidak dimiliki makhluk lainnya.

Gus Dur memperlakukan semua orang di mata hukum negara sama. Misalnya, ia mengembalikan martabat masyarakat peranakan Tionghoa yang diperlakukan tidak adil di Era Orde Baru. Gus Dur mengupayakan hal tersebut dengan menetapkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional, sebuah bentuk pengakuan terhadap eksistensi kebudayaan Tionghoa di Indonesia.

Selain itu, Gus Dur juga berupaya untuk memperlakukan eks-PKI sama seperti warga Negara Indonesia pada umumnya. Langkahnya diawali dengan menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan keluarganya. Ia juga menemui para eksil di luar negeri. Hal demikian tentu menuai polemik yang cukup besar. Bahkan, wacananya untuk mencabut Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 harus dibayar mahal dengan pelengserannya dari kursi presiden. Pasalnya, banyak yang tidak sepakat dengan rencananya itu.

Gus Dur juga melakukan pendekatan persuasif personal dengan masyarakat Papua untuk memulihkan kondisi mereka. Ahmad Suaedy dalam Gus Dur, Islam Nusantara, dan Kewarganegaraan Bineka (2018) mencatat bahwa kiai kelahiran Jombang itu mengedepankan sentuhan dan hubungan personal emosional. Cara demikianlah, menurutnya, didambakan masyarakat di sana mengingat pendekatan militeristik yang akrab dengan kekerasan sudah cukup berlarut terjadi.

Ia menjamin kebebasan mereka dengan dibolehkannya mengibarkan bendera Bintang Kejora dengan syarat di bawah Merah Putih. Lalu, Gus Dur juga mengembalikan nama wilayah mereka menjadi Papua, tidak lagi Irian Jaya. Hal yang tak kalah mengesankan adalah kunjungan Gus Dur di Papuas pada akhir tahun 1999. Agendanya adalah melihat matahari terbit pada hari pertama milenium kedua.

Langkah-langkah tersebut di atas tentu tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki jiwa kesatria. Ini bukan soal berani. Kesatria tentu berada pada posisi di atas terma itu sehingga pantaslah nilai utama Gus Dur di antaranya adalah kekesatriaan. Dalam menentukan langkahnya, seorang kesatria penuh perhitungan dan siap menanggung segala risikonya. Artinya, ia bertanggung jawab sepenuhnya. Hal ini bisa dilihat dari proses turunnya dari kursi Presiden. Adagiumnya yang terkenal adalah ada kemanusiaan di atas politik. Itu betul-betul dipraktikkannya sekaligus menunjukkan jiwa kesatrianya. Seorang kesatria hadir untuk menyelamatkan. Jika pun turun dari tampuk kekuasaan adalah jalan yang harus ditempuh demi keselamatan banyak orang, ia tidak ragu untuk melakukannya, sekalipun itu dianggapnya sebagai suatu yang inkonstitusional.

Terakhir, Gus Dur juga menitikberatkan pada lokalitas. Judul tulisannya Pribumisasi Islam tentu sangat dikenal masyarakat Indonesia. Ia menekankan bahwa Islam dan kebudayaan lokal tidak perlu dipertentangkan. Justru dua entitas itu bisa saling menyatu dan bersinergi menjadi suatu khazanah baru. Hal ini sejalan dengan sebuah kaidah fiqih al’adah muhakkamah, adat dapat dijadikan sebagai sebuah pijakan hukum.

Buku ini memberikan kita pemahaman yang cukup mendalam mengenai sembilan nilai utama Gus Dur. Memahami hal itu menjadi bekal kita untuk lebih sadar bahwa kita tidak hidup sendiri, melainkan bersama dengan orang dengan beragam latar belakang, baik ras, suku, agama, bahasa, hingga problematika yang tengah dialaminya.

Penulis: Syakir NF
(Pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama)