Menyebarkan Optimisme Soal COVID-19

279
Optimisme
Photo by National Cancer Institute on Unsplash

Cukup lama, kita disuguhi soal kenyataan bahwa COVID-19 begitu luar biasanya menyerang Indonesia. Dari orang yang terinfeksi berjumlah satuan, kini mencapai lebih dari 20 ribu orang dan bahkan hampir 30 ribu kasus dalam sehari. Seperti sore ini yang angkanya menembus 29,745 orang.

Inilah berita-berita yang setiap hari kita dengar, mulai dari media online hingga media sosial. Itu masih ditambah dengan info jumlah kematian tambah 300 orang, tambah 500 orang setiap hari. Apalagi kalau keluar, hampir pasti saya mendengar suara sirine ambulan membawa jenazah lalu lalang seolah tanpa henti. Dan nyatanya itulah yang kita dengar. Iya kan?

Angka Kesembuhan Memberi Harapan

Sementara itu, mungkin perlu diketahui bahwa jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sampai hari ini jumlahnya 2,313,829 kasus dengan jumlah kematian 61,140 kematian dan yang sembuh mencapai 1,942,690 orang.

Artinya apa?

Angka kematian di Indonesia ‘akibat’ COVID-19 itu diangka 2,64 %, sementara angka kesembuhannya mencapai 83,95 %. Sisanya adalah yang masih dalam masa positif sejumlah 309,999 orang atau 13,4 %.

Betapa sering kita mendengar bahwa bahagia itu menambah imunitas, tapi mengapa kabar soal kematian yang 2,64 % itu yang selalu diberitakan? Bukankah rasa takut malah akan menurunkan imun kita?

Baca juga: Stop Perdebatan Tentang Teori Konspirasi Covid-19

Kenapa tidak berita soal 83,95 % kasus yang dinyatakan sembuh yang diceritakan agar masyarakatnya tenang sambil pemerintah terus mengedukasi soal COVID-19? Saya kira optimisme harus mulai dibangun dari realitas bahwa tingkat kesembuhan kita tinggi.

Ya, kita memang harus mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Tapi juga harus dibarengi dengan rasa optimis soal angka kesembuhan yang tinggi dong.

Itu adalah tugas pemerintah dan media. Tapi kalau itu data yang disampaikan ke publik benar memang angkanya segitu.

Mengubah Narasi Pemberitaan Covid-19 ke Arah Positif

Sekali lagi, kalau memang kegembiraan itu meningkatkan imunitas, saya kira pemerintah dan media perlu meningkatkan berita soal kesembuhan kasus COVID bukan terus memblow-up soal kematiannya.

Saya percaya COVID ada, tapi banyak sekali masyarakat Indonesia yang ngga percaya adanya COVID. Meski mereka percaya dengan bantuan COVID.

Saya percaya, karena orang-orang yang saya kenal tidak satu, dua, tiga yang terinfeksi COVID. Tapi jumlahnya banyak sekali, bahkan ada beberapa di antara mereka yang sampai harus dipasang ventilator dan alhamdulillah sembuh.

Dan ada beberapa teman-teman dan kolega saya yang sehat bugar, kemudian terinfeksi COVID dan tidak terselamatkan dan banyak juga teman-teman saya yang saat ini masih berjuang melawan COVID.

Tugas pemerintah dan media adalah sebarkan optimisme biar masyarakat Indonesia bahagia. Dan jangan tutup mata juga dengan informasi soal pasien yang dicovidkan, bisa jadi itu benar adanya dan yang membuat masyarakat semakin tak percaya dengan COVID.

Kalau mau bangun optimisme ya kabarkan yang baik, bukan mengabarkan yang buruk. Tahu kenapa? Tak selamanya ketakutan itu menimbulkan kepatuhan, tapi adakalanya kegembiraan itu melahirkan kesadaran. Ya, begitulah.

Penulis: Slamet Tuharie