Menutup Tahun 2020, Tanpa Terobsesi Pada Potret Menyeluruh

218
tahun
Gambar oleh zibik dari Pixabay

Sudah pasti saya menikmati pergantian tahun di dalam gelapnya kamar. Namun bisingnya kembang api dari berbagai penjuru masih dapat saya dengar. Suaranya memecah hening seperti sekilas cahaya yang berpendar. Seakan-akan ingin memastikan bahwa saya menyadari semua manusia sedang menuju pintu keluar. Bukan menuju realita alternatif. Karena kita bukan berada dalam cerita fiktif. Pintu keluar ini membawa kita pada hari esok yang tetap akan sama, bila kita tidak melakukan apa-apa. Di detik ini, pikiran saya memutar kembali segala aksi, reaksi dan narasi di tahun yang dilewati.

Kita memiliki tendensi untuk memahami segala sesuatu secara gestalt. The whole is greater than the sum of its parts, kalau menurut Bapak ilmu pengetahuan, Aristoteles. Kecakapan ini mempermudah kita dalam memahami dan menyelesaikan masalah. Kecakapan inipun hadir saat kita bergelut di dalam ruang refleksi akhir tahun. Kita terbiasa menilik tahun yang berlalu secara holistik. Kenyataannya, mengamati keseluruhan adalah cara terbaik untuk mendekati kebenaran. Namun dalam keseluruhanpun tentunya ada gap yang tidak bisa kita pecahkan. Akhirnya kita mengatasinya dengan melakukan persamaan.

Baca juga: Tentang Proses Menjadi Utuh Setelah Terjatuh

Tahun 2020 bila direkap dengan prinsip gestalt, maka akan kita maknai sebagai tahun penuh perubahan, adaptasi dan upaya bertahan. Tidak heran bila kita melabelnya sebagai tahun yang sulit, rumit ataupun pelik. Tidak ada salahnya juga. Mengingat corona ada di setiap agenda.

Namun bagaimana bila kita coba melakukan pengamatan secara structural? Tentang setiap unsur yang mengisi dan melengkapi tahun ini. Kita akan menemukan sesuatu yang lebih kaya. Bukan hanya tentang cuci tangan, jaga jarak, sekolah dan kerja di rumah, resesi ekonomi, dan lain sebagainya yang kemudian kita utuhkan sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan. Kenyataannya ada gap yang mungkin diisi oleh sesuatu yang tidak ada dalam bayangan kita sebelumnya. Gap yang bisa menghadirkan pemaknaan berbeda bila kita tidak mengaburkan wujudnya dengan persamaan semata.

Kalau bagi saya pribadi, tahun  ini  mempertemukan saya dengan sebuah seni dari paradox yang tersaji. Bagaimana pelukan di setiap malam terasa lebih bermakna ketika kita sedang terluka. Bagaimana kejatuhan justru menghadirkan alasan untuk bertahan. Bagaimana saat terinjak kita dapat memaknai lebih bijak. Bagaimana saya mengukuhkan peran di saat merasa rentan. Dan bagaimana tubuh yang ringkih, dapat lebih baik dalam mengekspresikan kasih.“

Mungkin ada baiknya, refleksi kehidupan dengan durasi yang panjang ini kita perkaya dengan pengakuan pada bab-bab kecil di dalamnya. Bab kecil berisi hobi baru yang amat seru, saling bantu pada yang perlu, lebih banyak belajar daripada mengejar, berpikir reflektif daripada praktis, dan introspeksi daripada melarikan diri. Adakalanya satu perubahan memberi dampak lebih besar dari semua kebiasaan. Tidak juga dapat dipungkiri, satu hari mampu memiliki arti yang lebih dari 364 hari lainnya yang telah dilalui.

Saya menutup tahun bukan dengan cara-cara yang seru namun penuh haru. Masih dengan beberapa ketidakpastian, namun bebannya terasa lebih ringan. Temuan-temuan baru membuat saya tidak memandang akhir dan awal dengan cara yang kaku. Saya mengamini bahwa kedua oposisi pasti memiliki titik temu. Pun meyakini, bahwa lawan mainlah yang mempertegas identitas kita, sebagaimana kita memberi warna pada eksistensinya. Bila lawan main kita hadir dalam wujud corona, maka mungkin ini tentang menaikkan level pemaknaan atas keberadaan manusia dan kemanusiaan di dunia.

Karena ternyata, dalam gagap kita berupaya tetap sigap. Dalam isak kita tetap bergerak. Kita tidak kekal namun kita berupaya menjadi kebal. Kita hancur namun tetap bergeliat dalam medan tempur.

Semua pemaknaan ini mengantarkan saya pada sebuah kesepakatan. Hidup di 2020 bukan hanya tentang bertahan, tapi juga diramaikan asa dan daya untuk berperan.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis oleh Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.