Menolak Agama sebagai Bentuk Perpecahan bagi Manusia

375
Manusia
Foto oleh Pixabay dari Pexels

Jika kita berbicara mengenai agama hal pertama yang mungkin muncul dalam pikiran kita adalah kepercayaan manusia akan sesuatu. Percaya berarti bahwa seseorang tidak tahu akan sesuatu, tetapi mereka tidak ingin mengakui bahwa mereka tidak tahu sesuatu.

Artikel terkait Agama, baca Memeluk Agama Dengan Penuh Cinta.

Analogi Agama

Analogi pernyataan sebelumnya dapat dijelaskan jika seseorang ditanyai apakah bumi berbentuk bulat atau datar. Karena mereka tidak pernah berada di luar angkasa dan mereka tidak ingin mengakui bahwa mereka tidak tahu, mereka mulai percaya bahwa bumi berbentuk bulat atau datar, sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Dari analogi tersebut, satu-satunya masalah yang dimiliki orang-orang adalah bahwa mereka tidak tahu akan sesuatu. Namun, mengapa cara mereka memilih untuk mengabaikan ketidaktahuan mereka beragam? Mengapa mereka tidak mengatakan jawaban yang sama bahwa sebenarnya mereka tidak tahu? Hal yang serupa terjadi dalam urusan agama.

Orang percaya pada agama karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka setelah mereka mati, mereka tidak tahu siapa yang menciptakan alam semesta, dan mereka tidak tahu apakah hal yang mereka lakukan di dunia ini itu benar atau salah.

Itulah sebabnya untuk mengabaikan ketidaktahuan mereka, mereka mulai percaya pada agama di mana agama menjadi suatu wadah yang dapat membuat semua pertanyaan yang awalnya tidak dapat mereka jawab akhirnya pun terjawabkan.

Setiap Agama Memiliki Kesamaan dengan Agama Lain

Jika masalah mereka sebenarnya sama, bahwa mereka tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian, siapa yang menciptakan alam semesta, dan apakah hal yang dilakukan di dunia ini benar atau salah, mengapa mereka menemukan jalan yang berbeda-beda (agama) untuk menemukan jawaban atas masalah mereka? Mengapa mereka tidak menganut jalan yang sama (agama) karena mereka sebenarnya mencari solusi untuk masalah yang sama?

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa perbedaan latar belakang fenomenologi spiritual yang dialami setiap orang adalah alasan yang membuat mereka menemukan jawaban atas masalah mereka dalam hal yang berbeda.

Namun demikian, pernahkah kalian berpikir bahwa sebenarnya kekuatan yang membuat orang mengalami latar belakang fenomenologi spiritual yang berbeda pada dasarnya berasal dari kekuatan yang sama? Karena satu agama terkadang memiliki kesamaan dengan agama lain seperti Islam dan Kristen yang memiliki sejarah yang sama dan Hindu dan Budha yang keduanya percaya pada reinkarnasi.

Jika hal tersebut berasal dari kekuatan yang sama, panggil saja kekuatan tersebut sebagai Tuhan, mengapa Tuhan tidak membuat fenomenologi spiritual yang sama bagi setiap orang seperti yang banyak orang percayai bahwa Tuhan menciptakan alam semesta yang sama bagi setiap orang yang ada di dunia.

Tuhan Menunjukkan Latar Belakang Fenomenologi Spiritual

Melihat dari perspektif ini, penulis berpikir bahwa mungkin Tuhan menunjukkan latar belakang fenomenologi spiritual yang berbeda bagi setiap orang sehingga membuat mereka menciptakan agama yang berbeda hanyalah sebagai cobaan untuk agama yang satu dengan agama yang lain.

Singkatnya, Tuhan telah mengatur bahwa satu agama akan menjadi tantangan bagi agama lain dikarenakan satu agama memiliki pengajaran yang berbeda-beda dengan agama yang lain. Sebagai contoh, orang Islam tidak memakan daging babi, tetapi orang Kristen dan Hindu melakukannya. Orang Hindu tidak memakan daging sapi, tetapi orang Islam dan Kristen melakukannya.

Contoh di atas menunjukkan bahwa sesuatu yang dilarang dalam satu agama diperbolehkan dalam agama lain, yang muncul dalam sebuah kesimpulan bahwa mungkin Tuhan sedang menantang atau mencobai orang dalam satu agama untuk tinggal dengan/keyakinannya atau untuk mengikuti keyakinan dari agama lain yang dapat memuaskan mereka, tetapi melanggar keyakinan yang berasal dari agama mereka.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa mengapa Tuhan melakukan hal ini? Bukankah hal tersebut akan menjadi perpecahan di antara setiap agama? Bagi penulis, alasan mengapa Tuhan melakukan hal ini hanya sekadar untuk mengetahui apakah orang-orang sudah menekuni agama mereka dan apakah mereka melakukan ajaran yang telah Tuhan tunjukkan melalui fenomenologi spiritual.

Itulah sebabnya agama tidak selalu sesuatu yang membuat kehidupan manusia menjadi teratur, tetapi agama juga merupakan jembatan yang menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan yang memberikan kesimpulan bahwa agama memiliki peran yang sangat penting bagi setiap orang.

Agama Mengajarkan untuk Melihat Perspektif yang Berbeda.

Dengan mengatakan bahwa satu agama akan menjadi cobaan bagi agama yang lain bukan berarti bahwa kita harus menjauhi ataupun bermusuhan dengan agama lain. Kita bahkan perlu mempelajari agama lain yang bukan merupakan agama yang kita anut.

Dengan mempelajari agama lain bukan berarti bahwa kita percaya dengan agama yang kita pelajari, tetapi mempelajari agama lain dapat membuka pikiran kita ketika kita melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.

Jika kita hanya belajar tentang agama yang kita anut, pikiran kita hanya akan berfokus pada agama yang kita anut sehingga kita membuat pikiran kita tertutup dan tidak mau menerima segala macam perspektif yang berasal dari agama lain.

Sebagai hasilnya, kita akan menjadi manusia fanatik yang semena-mena menggunakan nama agama hanya untuk melakukan sesuatu hal yang sangat dinginkan walaupun hal tersebut akan sangat merugikan orang-orang di sekitar, sehingga membuat orang lain akan selalu berpandangan buruk terhadap kita.

Penulis: Marthin Agustin Hutauruk