Menjemput Hidayah Allah – Part 1

292
Cahaya Allah
Photo by Mohamed Nohassi on Unsplash

Mengenal Dajjal

Anda kenal Iblis? Anda kenal Dajjal? Pernah dengar Ya’jui- Majuj? Mana yang tertua dari ketiganya? Iblis. Kalau Anda menyimak riwayat-riwayat yang dituturkan oleh Allah dan dari perpustakaan Islam, Iblis dan Malaikat Jibril itu duluan Iblis.

Dia itu malaikat paling senior. Tapi ada yang lebih senior dari Iblis, yaitu nur Muhammad. Sebelum ber-tajalli atau mewujud menjadi Muhammad bin Abdullah, yang dilahirkan melalui ibunya, Muhammad adalah gelombang dan cahaya. Lalu, kapan Yajuj-Ma’juj atau Dajjal itu lahir?

Dajjal itu kan dikenal setelah ada informasi atau cerita- cerita dari para nabi, terutama dari Rasulullah Saw. Nanti akan ada Dajjal itu yang begini, Ya’juj-Ma’juj itu begini-di Al-Quran juga ada Yajuj-Majuj-dan seterusnya. Jika dilihat dari eskalasi waktu berdasarkan kelahirannya, menurut saya urutannya begini: Iblis duluan, lalu Dajjal, baru Yajuj-Majuj.

Untuk bisa “mencerna” kehadiran mereka, kita perlu ber tadabur: Dajjal ini sebenarnya sudah hadir sejak 700 tahun lalu, hingga pengaruhnya memuncak pada abad ke 17 dan sekarang pengaruhnya sudah berlaku di seluruh dunia.

Berebut Cara Pandang

Dajjal itu satu cara pandang, di mana Anda ditipu, Anda akan menganggap surga adalah neraka dan diiming-imingi sesuatu dan membuat Anda tertarik, padahal itu neraka.

Semua itu sudah terjadi pada kebudayaan, filsafat, pada apa saja. Inilah mungkin yang dimaksud Allah dengan, “Aku bikin tampak indah dunia itu bagi orang-orang yang kafir.”

Sekarang ini, Dajjal sudah berlaku dalam sistem politik, kebudayaan, serta sistem nilai dan kepercayaan. Semuanya ada Dajjalnya. Semua kebijakan politik itu sebenarnya berdasarkan cara berpikir Dajjal, yang membuat penglihatan manusia terhadap surga dan neraka jadi terbalik.

Semua orang pada sibuk ingin ke surga, tapi yang dibayangkan sebagai surga adalah rumah yang sangat besar dan istri yang cantik-cantik, banyak lagi. Aspirasi kebanyakan orang tentang surga adalah aspirasi materialisme. Membayangkan surga dengan cara materialistik. Padahal, surga bukan begitu.

Surga dan Neraka Sejati

Allah mengabarkan kalau surga itu ada empat, warnanya hijau tua, lalu ketika Anda di sana nanti punya bawahan yang hamanya sesuatu yang mengalir yang disebut sungai. Sungai yang dimaksud itu tidak ada airnya, tidak ada tanahnya, tidak ada lumpurnya, tidak ada rumputnya, tapi dititikberatkan pada alirannya.

Kalau ada sungai yang tidak ada airnya, Anda tetap mengatakan itu sungai. Jadi, jelas kan kalau sungai itu sebenarnya bukan air. Sungai adalah sesuatu yang mengalir-sifat aliran itu- dan Anda membawahinya: min tahtihal anhâr-di bawahnya ada sungai yang mengalir. Jadi, Anda ada di atas aliran dan berlaku sebagai pemerintahnya sesuatu yang mengalir tadi agar bisa mengalirkan sesuai kehendak.

Anda bisa mengatur semuanya. Dan, Anda harus memahami ini. Yang membedakan surga dengan dunia adalah, kalau di dunia, surganya seseorang bisa menjadi neraka bagi orang lain. Anda membeli motor baru, neraka bagi tetangga Anda yang tidak mampu beli. Anda menikahi perempuan, neraka bagi laki- laki yang tidak bisa mencapai perempuan itu.

Itulah dunia. Di surga tidak begitu. Seperti kata Allah, semua yang kita inginkan terpenuhi tapi tidak ada konflik. Kan, ada ayat yang menyebut: “…mereka berebut gelas tapi tidak ada pertengkaran dalam perebutan itu…”.

Itu tadi fasenya Dajjal. Nah, sekarang ini era Yajuj-Ma’juj. Kalau Dajjal itu gabungan antara yang barat agak tengah dengan barat sekali, kalau Yajuj-Ma’juj itu dari utara. Yang jadi sasaran utama Ya’juj-Majuj adalah Indonesia.

Seumpama Ya’juj-Ma’juj itu pasukan infanteri, ia adalah pasukan yang luar biasa. Dan, ia ke sini. Kita diserbu habis-habisan. Bangsa Indonesia sekarang adalah Adam yang didatangi Iblis-dibujuk oleh kenikmatan palsu. Dan Iblis seorang diplomat, seorang juru kampanye yang ulung, sampai pengikutnya banyak sekali.

Bersambung…

Penulis: Ahsanu Taqwim