Menjelajah Jepang Melalui Program Budaya

394
Photo by David Edelstein on Unsplash

Oleh: Yudi Septiawan
(Dosen STISIPOL Pahlawan 12 Bangka)

Apa yang ada di benak para sahabat Mading ketika mendengar kata “JEPANG”? Kalau saya, ketika dulu mendengar kata Jepang, yang saya ingat hanya Bom Atom, Hiroshima dan Nagasaki. Ya! Itu adalah salah satu materi hafalan pelajaran sejarah SD dan sampai kini masih melekat di otak kanan saya. Namun, tidak pernah terbayang sama sekali oleh saya bahwa suatu saat (pada tahun 2014) saya bisa pergi ke Jepang secara cuma-cuma, terlebih ke salah satu kota yang saya sebutkan tadi, untuk memperkenalkan beragam budaya dan keunikan Indonesia di sekolah-sekolah di sana. Pengalaman mengitari 12 prefektur serta mengunjungi 36 sekolah-sekolah dan kampus yang ada di Jepang dalam waktu dua bulan adalah pengalaman yang tak terlupakan sampai sekarang.

Di Jepang, saya tidak hanya diberi mandat untuk memperkenalkan budaya dan keunikan Indonesia kepada siswa dan mahasiswa di sana. Namun, saya juga diberikan kesempatan unik, langka dan mengesankan untuk bertemu para dewan pendidikan di berbagai prefektur, mengunjungi kastil-kastil megah, serta sekedar “mencicipi” empuknya kursi kereta canggih shinkansen (bullet trains) yang ada disana. Tentu, cerita saya selama dua bulan di Jepang tidak akan muat kalau saya tuangkan semua dalam cerita di beranda Mading yang singkat ini.

Awal mula saya bisa mendapatkan kesempatan untuk melancong ke Negeri Sakura yaitu karena keterlibatan saya di salah satu organisasi internasional non-profit, atau istilah kerennya Non-Government Organization (NGO), bahasa kitanya mirip seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Organisasi ini menawarkan program-program pengembangan diri untuk para agent of change dari seluruh dunia. Di Indonesia, basis awalnya ada di Ciputat, namun sekarang pindah sementara ke Palmerah, Jakarta Barat.

Singkat cerita, setelah 6 (enam) tahun belajar, mengadakan berbagai camp nasional dan internasional di berbagai kota, hingga menjadi bagian dari pengurus inti, barulah kesempatan itu datang. Memang, syarat yang dibutuhkan untuk mendaftar Program Japan School Visit (JSV) 2014 saat itu sangatlah eksklusif. Hanya orang internal organisasi saja yang mungkin bisa mendaftar karena ada beberapa persyaratan khusus.

Saya merupakan satu dari empat kandidat yang lolos pada seleksi internasional oleh tim Jepang. Bayangkan, seluruh biaya ditanggung oleh tim Jepang yang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar di sana. Mulai dari visa, tiket peswat pulang pergi, akomodasi (penginapan, makan, transportasi) selama dua bulan, dan uang saku semuanya ditanggung. Waktu itu, saya cuma berbekal uang Rp. 650.000 dan itu utuh sampai saya balik ke Indonesia.

Di Jepang, banyak hal yang saya pelajari dan teladani. Saya merasa bahwa kultur Jepang itu tersebar merata di seluruh penjuru Jepang. Di Indonesia, setiap daerah memiliki kultur khas masing-masing, dari cara berbicara, makan, dan sebagainya. Namun, saya beberapa kali menjumpai hal yang sama setiap kali saya berkunjung ke daerah-daerah yang berbeda di Jepang. Kultur umum yang kebanyakan orang Jepang lakukan adalah membungkukkan badan seraya menyapa lawan bicaranya.

Selain itu, kalau kita sering menonton dari televisi bahwa Jepang itu bersih, faktanya memang begitu. Jepang memang terkenal dengan lingkungannya yang bersih dan ramah lingkungan. Setiap sudut kota yang saya jajaki, sangat sedikit sekali terlihat sampah-sampah bertumpukkan. Sistem pengolahan sampah yang baik juga menjadi salah satu alasan mengapa Jepang menjadi negara yang maju.

Di salah satu kota di Kitakysuhu, saya berkesempatan mengunjungi tempat pengolahan limbah dan sampah daur ulang. Mungkin tempat daur ulang itu merupakan salah satu yang terbesar di Jepang. Proses penanganan yang canggih memudahkan sampah-sampah tersebut di daur ulang. Tak heran, banyak dari produk-produk pakai yang dihasilkan dari proses daur ulang ini. Saya mendapat sepasang  baju daur ulang yang, menurut saya, sangat unik.

Selain itu, kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan keunikan Indonesia saya manfaatkan ketika presentasi ke sekolah-sekolah dan kampus. Saya dan tim terdiri dari 4 orang dari 4 negara (Kosovo, Nagaland/India, Jepang). Sajian yang saya suguhkan kepada para siswa dan mahasiswa lebih ke pengenalan budaya lokal, tempat-tempat wisata (selain Bali), makanan, bahasa, budaya, dan tradisi lokal. Saya mengemas semuanya menjadi satu paket slide powerpoint sebanyak 10 slides. Untuk program ini, saya menyiapkan 30 slides powerpoint yang berisikan beragam konten dari berbagai provinsi. Konsepnya, saya menyajikan sajian yang berbeda ke setiap sekolah yang kami sambangi.

Tentu, banyak siswa dan mahasiswa masih asing dengan nama Indonesia. Yang mereka kenal cuma Bali. Bali seolah mengalahkan kedigdayaan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ketika saya menunjuk peta Pulau Bali di big screen, sontak mereka terkejut bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang sangat besar, luas, dan kaya akan potensi pariwisata.

Di sela-sela kunjungan, meeting, serta plesiran di berbagai kota seperti Tokyo, Tsukuba, Odawara, Shizuoka, Saga, Fukuoka, Kyushu, Hiroshima, Nagoya, Yokohama, dan lainnya, saya juga sempat “memperkenalkan” mie khas Indoenesia, indomie, yang sempat membuat teman-teman saya ketagihan. Kala itu, saya dan tim membawa bekal asal negara masing-masing, kebetulan semuanya sama, berbahan dasar mie. Mulailah kami memasak mie khas masing-masing.

Ketika sudah sedia di meja, kami pun mencoba satu persatu dan host kami pun memberikan penilaian mie mana yang paling menggugah selera. Indomie Rasa Soto saya pun ludes tak bersisa. Padahal, saya hanya memasak tanpa telor, hanya berbekal mie dan bumbunya saja. Namun, hal tersebut sudah cukup untuk membuat Indomie khas Indonesia itu menang telak.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan dalam jilid Jepang ini yaitu kesan dan pesan saya selama menjadi tamu di Jepang. Dari mulai tiba, hingga kepulangan, 80% saya tinggal homestay. Ya, tinggal langsung bersama keluarga orang Jepang. Kurang lebih, saya merasakan di 6 kali homestay di  beberapa kota. Ada yang di perumahan penduduk biasa, komplek elit, sampai apartemen lantai 29 di Yokohoma. Makan sushi kah selama di homestay? Jujur, saya sampai bosan makan sushi disana. Baru bangun tidur, sudah dihidangkan sushi yang benar-benar fresh, dan itu hampir setiap hari, cuma berbeda variannya saja.

Makanan yang paling tidak bisa saya lewatkan adalah Tempura. Makanan ini adalah yang pertama saya makan ketika sampai di Jepang dan menjadi makanan Jepang pertama yang saya cicip seumur hidup . Tentu, pengalaman di homestay lebih membuka wawasan saya tentang kehidupan asli di Jepang. Dari keseharian, sampai hal sakral seperti ibadah pun saya alami. Pada saat itu, saya baru paham bahwa di Jepang ada beberapa aliran yang saya baru dengar langsung dari mereka. Waktu itu, di Shizuoka, salah satu ottosan (bapak) membeberkan bahwa mereka adalah penganut aliran (atau agama saya kurang paham) Tenrikyo. Tenrikyo adalah perpaduan antara agama Budha dan Sinto di Jepang. Tempat ibadahnya berada di teras rumah, besar, nyaman dan megah. Mirip seperti kuil kecil mungkin.

Yang menariknya, mereka bertanya agama saya dan tertarik untuk melihat saya beribadah secara Islam. Disitulah saya merasa bahwa masyarakat Jepang sangat terbuka dan menerima perbedaan. Walaupun saya terlahir sebagai seorang Muslim, namun  mereka tetap menghargai saya, menyajikan saya makanan-makanan halal, sampai bertanya waktu-waktu saya salat. Pernah beberapa kali mereka membangunkan saya Salat Subuh!

Sahabat Mading, masih banyak cerita yang sebenarnya ingin saya bagikan di dinding Mading ini. Namun, saya juga tak kuasa untuk menuangkan seluruh kenangan saya ke dalam tulisan singkat ini. Jepang terlalu indah, ingin rasanya ku kembali ke sana walaupun hanya sehari! Namun, sekagum-kagumnya saya sama negeri orang, satu hal yang saya sering rasakan ketika berada di luar sana, yaitu kangen negeri sendiri, kangen masakan, kangan budaya, dan kangen keramahan orang Indonesia.

Semoga, cerita singkat ini bisa menginspirasi sahabat Mading. Masih ada cerita-cerita budaya saya di beberapa negara lainnya. Semoga, jari-jari ini terus bisa menari di atas keypad laptop usang, menyalurkan kenangan yang ada di benak saya beberapa tahun terakhir. Semoga! Terima kasih!