Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

144
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi
Photo by Victor He on Unsplash

Satu tahun lebih kita dihadapi oleh pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Media dan siaran TV tidak jauh dari pemberitaan terkait Covid-19.

Pemerintah pun selalu mengingatkan kita agar beradaptasi dan selalu mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir atau dengan handsanitizer.

Para pakar kesehatan pun tak henti-hentinya mengingatkan kita agar senantiasa menjaga kesehatan tubuh dengan berjemur di pagi hari, berolahraga secukupnya, dan rajin mengkonsumsi makanan bergizi serta vitamin.

Dengan jumlah kasus pasien positif Covid-19 yang meningkat kembali, pemerintah pun menetapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Pulau Jawa-Bali.

Baca juga: Kenapa Ilmu Seseorang Tak Berkah ? Ini Alasannya

Kondisi seperti ini pun berdampak pada segala lini kehidupan, mulai dari beberapa buruh dan pegawai yang dipulangkan serta ekonomi yang tidak stabil,

sehingga membuat beberapa orang mengalami stress, khawatir berlebih, bahkan bisa menyebabkan depresi. Apabila hal ini tidak segera diatasi maka akan berdampak negatif terhadap kesehatan mental di kemudian hari.

Gangguan Kesehatan Mental akibat Pandemi Covid-19

Tekanan yang berlangsung selama pandemi seperti ketakutan terhadap virus, rasa terasingkan selama menjalani karantina, kesepian karena jauh dari keluarga, teman dan pacar, kecemasan akan kebutuhan hidup menyebabkan gangguan berupa:

  • Ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat
  • Bosan dan stress karena terlalu lama berdiam diri di dalam rumah
  • Sulit berkonsentrasi saat sekolah, kuliah ataupun kerja
  • Memburuknya kesehatan fisik
  • Munculnya gangguan psikosomatis

Cara Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Kekhawatiran, stress, dan rasa cemas berlebihan bahkan depresi dapat dikelola dan ditangani, agar tidak menimbulkan masalah kesehatan mental yang lebih para di kemudian hari. Berikut ini tips menjaga kesehatan mental selama pandemi:

  1. Menjaga kesehatan tubuh

Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Jika kesehatan mental menurun, maka sistem kekebalan tubuh akan mengikuti, pun sebaliknya. Dirangkum dari lama resmi Covid.go.id,

kita bisa menjaga daya tahan tubuh dengan melakukan; berjemur di bawah matahari pagi selama 5-15 menit, olahraga rutin secukupnya, perbanyak minum air putih, konsumsi vitamin atau suplemen sesuai anjuran dokter, tidur yang cukup, serta konsumsi makanan sehat dan gizi seimbang.

  1. Trikotomi kendali

Pandemi ini menuntut kita untuk melakukan segala aktifitas di rumah. Kondisi seperti ini dapat kita manfaatkan untuk lebih mengenal diri sendiri. Meskipun berdampak kepada rasa bosan, kekhawatiran berlebih, stress, dan rasa cemas, itu semua masih bisa kita kendalikan dengan berbagai cara.

Salah satunya adalah dengan menerapkan hidup ala filsuf stoa, aliran filsafat ini kemudian dipopulerkan oleh Henry Manampiring dalam bukunya dengan Filosofi Teras.

Salah satu kutipan menarik dari tokoh filsuf stoa, Epictetus (Enchiridion), adalah “Some things are up to us, some things are not up to us”.

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tergantung pada) kita.”

Baca juga: Peningkatan Taraf Hidup Melalui Peluang CPNS dan PPPK

Prinsip ini disebut “dikotomi kendali”. Dalam prinsip fundamental ini, kita bisa memilah hal-hal di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan yang tidak.

Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari “things we can control”, hal-hal yang di bawah kendali kita.

Apa saja yang termasuk hal-hal yang di bawah kendali kita? Jawabannya adalah opini, persepsi, dan respon kita terhadap sesuatu. Karena sejatinya kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian kepada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.

Dari prinsip dikotomi kendali itu, William Irvine menambahkan menjadi trikotomi kendali. Trikotomi kendali terdiri dari:

  • Hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri.
  • Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti cuaca, opini, dan tindakan orang lain.
  • Hal-hal yang sebagian bisa kita kendalikan, seperti sekolah, kesehatan, dan hubungan dengan pasangan.

Contoh penerapan dari point ketiga, bisa kita terapkan dalam ikhtiar kita menjaga kesehatan di masa pandemi ini. Kita bisa berharap agar terhindar dari penularan virus covid-19 yang melanda dunia ini, dengan selalu menerapkan gaya hidup sehat dan protokol kesehatan yang ketat.

Namun, kita tidak bisa berharap agar semua orang bisa melakukan seperti yang kita lakukan. Begitupun dengan hubungan asmara, kita bisa memberikan perhatian yang cukup, kasih sayang, dan kesetiaan diri sendiri. Namun, kita tidak bisa mengendalikan perasaan pasangan agar melakukan hal yang serupa.

Pasrah pada keadaan? Ohh tidak. Di semua situasi, bahkan saat kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi.

  1. Imunisasi mental

Dalam memperkuat mental menghadapi kesulitan hidup di tengah pandemi, Filosofi Teras memiliki sebuah tips yang terkesan paradoks dengan paragraf di atas. Dalam bahasa Latin, tips ini disebut “premeditatio malorum”, atau “pikirkanlah hal-hal yang jahat/negatif yang mungkin terjadi”. Marcus Aurelius berkata,

“Awali setiap hari dengan berkata pada diri sendiri: hari ini saya akan menemui gangguan, orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, hinaan, ketidaksetiaan, niat buruk, dan keegoisan – semua itu karena pelakunya tidak mengerti apa yang baik dan buruk.

Saya tidak bisa disakiti oleh itu semua, karena tidak ada orang yang bisa menjerumuskan saya ke dalam perbuatan buruk, dan saya mampu untuk tidak menjadi marah atau membenci sesama saya; karena sesungguhnya kita dilahirkan ke dunia ini untuk bekerja sama…” (Meditations)

Dari perkataan di atas kita bisa mengembangkan premeditatio malorum sampai ke situasi tidak enak lainnya, seperti memikirkan akan diberi tugas banyak oleh dosen, Wi-Fi lemot pada jam-jam tertentu, tetangga bakar sampah di pagi hari, atau kerjaan ketumpahan kopi.

Dengan melakukan ini kita akan lebih siap menghadapi ketidakpastian. Pikiran kita harus selalu memikirkan semua kemungkinan, dan tidak hanya pada situasi normal. Karena adakah sesuatu pun di dunia yang tidak bisa dijungkirbalikkan oleh nasib?

Praktik ini sangat mirip cara kerjanya dengan imunisasi, atau bahkan vaksinasi. Dalam imunisasi, kita memasukkan kuman yang sudah dilemahkan sehingga sistem kekebalan tubuh kita bisa mempersiapkan diri melawan kuman yang sesungguhnya jika datang.

Dengan mensimulasikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, kita sedang mempersiapkan kekebalan mental menghadapinya jika memang terjadi.

Kecemasan dalam situasi sulit seperti saat ini memang mungkin dialami oleh beberapa orang. Namun, dengan melakukan langkah-langkah di atas mungkin bisa membantu kita untuk memperkuat mental yang tangguh di masa pandemi.

Kita bisa berdamai dengan diri sendiri, bersyukur, dan mengatur persepsi kita terhadap situasi tersebut. Jika dalam keseharian kita terbiasa hidup dengan cemas dan stres untuk jangka waktu panjang, maka tubuh juga beradaptasi dalam rentang waktu tersebut. Bukan situasi penyebab stresnya yang menjadi masalah, tetapi persepsi kita akan situasi tersebut.

Menutup tulisan ini, saya mengutip perkataan Viktor Frankl, seorang psikiater yang hidup di Austria saat Perang Dunia II. Ia berkata:

”Bahwa di dalam situasi yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih bisa memiliki makna, dan karenanya, penderitaan pun dapat bermakna. Kita tidak bisa memilih situasi kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap (attitude) kita atas situasi yang sedang dialami.”

Penulis: Dwi Kurnia Ramadhan