Menjaga Eksistensi Pergerakan Melalui Budaya Literasi

336
pergerakan
Dokumentasi Pribadi

Berbicara tentang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tentu kita akan dibuat bingung olehnya, harus memilih dari mana memulai. Hal ini tentu  bukan sebab pemahaman kita yang sempit mengenai PMII itu sendiri, bukan pula sudut pandang kita yang terbatas. Melainkan saking luasnya dimensi  tubuh dan organ yang ada di dalam organisasi kemahasiswaan ini.

Baca juga: Mahabbah Penyair untuk Kekasih-nya

Sejak resmi berdiri pada 17 April 1960, begitu banyak hal yang dapat menjadi pembahasan; dari konstitusi, eksistensi, strategi, filosofi, kaderisasi, ruang  gerak, paradigma, dan masih banyak lagi hal menarik lainnya. Belum lagi berbicara tentang permasalahan, hambatan, dan aneka ragam persoalan  organisasi lainnya. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu yang panjang untuk berdiskusi sembari menikmati kopi hitam.

Pada Juli 2020 lalu, sembilan kader PMII dari berbagai daerah meluangkan waktunya guna menuliskan beberapa gagasan yang dituangkan dalam bentuk karya sastra bunga rampai. Kemudian dijadikan sebuah buku dengan judul “Kaderisasi, Eksistensi, dan Jati Diri PMII”.

Hadirnya buku ini tentu menjadi sangat penting untuk dibaca dan dinikmati, dengan harapan dapat membangun kesadaran para kader PMII. Dan  barang tentu dapat dikonsumsi banyak orang, khususnya kader PMII itu sendiri.

 

Buku ini dirangkai dengan sembilan bab yang dijadikan tiga bagian; pola pikir dan gerakan, kaderisasi PMII, lalu tantangan dan arah gerak. Diambil dari beberapa sumber yang kemudian diolah kembali dengan kemampuan masing-masing penulis, untuk menjadi tulisan ringan yang mudah dipahami.

Dalam pengantarnya, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PMII Periode 2017-2021, sahabat Agus Mulyono Herlambang mengatakan, organisasi PMII hari ini  sudah menjadi organisasi kemahasiswaan yang besar dan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Apabila dilihat dari jumlah anggota dan sebarannya,  serta struktur organisasi, karena tidak banyak negara yang memiliki perkumpulan atau serikat mahasiswa seperti di negara kita.

Dari segi kualitas, memang kita tidak boleh jumawa. JIka kita mengklaim bahwa PMII adalah organisasi yang paling berkualitas, tentu hal itu belum  bisa, karena tidak ada alat ukur yang tepat untuk membandingkan kualitas kader antar organisasi. Namun begitu, kita menyadari masih banyak kekurangan dan hal-hal yang perlu dibenahi di organisasi ini. Dari perihal tata kelola, arah gerak, visi, strategi, dan kesinambungan organisasi dalam mengikuti sekaligus menyesuaikan perkembangan zaman. Hal ini merupakan PR bersama, PR kader-kader PMII di semua tingkatan, dari Rayon hingga Pengurus Besar.

PMII merupakan organisasi kaderisasi yang mempunyai harapan besar dalam menciptakan kader ulul albab di setiap regulasi kepemimpinannya. Dilihat dari peran atau fungsi PMII yang begitu besar, maka wajib kiranya melirik kembali dinamika yang terjadi khususnya di internal PMII, baik itu dari fokusnya kajiannya maupun pada gerakan yang dimulai dari nol hingga puncak ideal harapan PMII itu sendiri. (Hal 62)

Pada realitanya, PMII hari ini lebih mengedepankan ruang kognitif dan psikomotorik tanpa mempunyai fokus yang lebih terhadap ruang afektif, sehingga jika kita melirik pada bagian terkecil dari nilai-nilai PMII dalam Nilai dasar Pergerakan (NDP) seringkali kita temukan dalam setiap gerak langkah warga pergerakan seakan-akan mengalami kemerosotan mengenai ruh gerak PMII. (Hal 63)

Budaya Literasi Kader Pergerakan

Memikirkan keberlangsungan masa depan organisasi, menyampaikan unek-unek dan kegelisahan serta menggambar konsepsi melalui tulisan. Begitulah seharusnya watak dan ciri kader pergerakan. Mengamalkan salah satu trilogi PMII tentang “Pikir,” salah satu indikator manusia mampu “benar-benar” berpikir adalah menulis. Menulis apapun merupakan wujud kemampuan kita menjadi seorang manusia, apalagi tulisan kita bermanfaat untuk khalayak luas. (Hal xi)

Buku ini ditulis berawal dari kata-kata Sahabat Mahbub Djunaidi yang berbunyi “Aku akan menulis dan terus menulis sampai aku tidak mampu menulis” menjadi semangat  tersendiri bagi para penulis. Sebab semangat menulis di dalam organisasi PMII, perlu dan penting untuk digalakkan.

Alangkah malunya kita sebagai kader PMII yang mengetahui bahwa Sahabat Mahbub Djunaidi adalah seorang penulis, sedangkan kita sebagai generasi penerusnya tidak mampu menulis. Padahal menulis itu sangat penting, bahkan untuk memunculkan sebuah peperangan bisa diawali dengan tulisan yang disebar di berbagai media.

Untuk itu, perlu lah kiranya untuk mencontoh bapak kita demi melanjutkan perjuangannya sebagai bentuk hormat kita demi melanjutkan  perjuangannya sebagai bentuk hormat kita kepada beliau.

Buku dengan tebal 147 halaman ini, memberi sedikit banyak sumbangan pemikiran penting dalam dinamika organisasi PMII. Namun, tentu saja masih banyak hal kekurangan di dalamnya. Penyusunan tulisan masih terlalu padat, sehingga ketika orang yang tidak hobi membaca akan merasa jenuh.

Penulisan catatan kakinya juga belum tersusun rapi.  Tata letak yang digunakan buku ini juga terbilang mendasar, tidak ada kesan seni yang dapat menambah semangat pembaca. Namun, terlepas dari itu semua, buku ini sangat perlu untuk dibaca oleh Kader PMII se-Indonesia sebagai sajian untuk tetap merawat akal sehat, nalar kritis, dan tradisi intelektual.

Penulis: Disisi Saidi Fatah
(Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Way Kanan, Lampung, Pecinta Sastra, Penikmat Kopi dan Puisi, Alumni Mata Air Ansor Way Kanan 2015)